Babak Satu: Ultimatum
I. Dara
EMPAT BELAS hari, Dara membaca angka itu untuk kedua puluh kalinya sebelum melipat surat visa kembali dan meletakkannya di tempat yang sama, dengan lipatan yang sama, seolah gerakan itu bisa membuat sesuatu tetap utuh. Di luar, Café Malam sepi seperti biasa, hanya delapan meja, dua di antaranya terisi, dan jam menunjukkan pukul empat sore. Lima tahun lalu pada jam ini, ia tidak bisa menemukan kursi kosong. Sekarang ia mengelap meja yang sudah bersih, karena tangannya butuh alasan untuk bergerak.
Kain itu bergerak melingkar, basah, kering, basah lagi. Dara menyadari ia sudah mengelap bagian yang sama terlalu lama. Di sudut ruangan, kotak-kotak kardus bertumpuk seperti pengakuan yang belum selesai. Ia mulai mengepak tiga hari lalu, perlahan, satu benda tiap hari, seolah jika ia bergerak terlalu cepat, sesuatu akan pecah. Buku-buku resep dulu, yang paling berat, paling tidak penting. Lalu cangkir-cangkir cadangan yang tidak pernah ia pakai. Hari ketiga ia berhenti di foto festival sungai 2019, dan itu masih tergantung di dinding.
Tangannya berhenti di atas meja. Ia tahu foto itu di belakangnya, seperti ia tahu Tomas akan datang malam ini dan belum ada kata-kata yang cukup untuk apa yang harus diucapkan. Tiga tahun lalu, di hari pertama kafé buka, Tomas memegang papan nama yang tulisannya sendiri miring, Café Malam, buka 7 pagi sampai 10 malam, sambil tertawa karena huruf-hurufnya tidak mau lurus. Dara di sebelahnya, melihat ke kamera, dan tidak tahu, sebelum kamera berbunyi, Tomas berbisik, “Kita bisa selalu tutup kalau gagal.” Bukan untuk menghibur. Hanya mencatat kemungkinan itu ada. Waktu itu mereka yakin, tentang satu sama lain, tentang Limina, tentang segala hal yang sekarang terasa seperti bahasa asing.
Sekarang pertanyaannya bukan lagi tentang yakin. Dara menurunkan foto itu dan memasukkannya ke dalam tas, bukan karena ia ingin melupakan, tetapi karena ia tidak sanggup meninggalkan wajah Tomas di dinding ruangan yang akan kosong.
“Jaga diri, Nak,” kata Bu Wati, tamu terakhir pagi tadi, sebelum pergi. Jangan terlalu lama di sini. Kalimat itu menggantung di udara seperti sesuatu yang Bu Wati sendiri tidak tahu bagaimana mengatakannya dengan lebih halus.
Mira, sepupunya, yang sudah dua tahun bertanya, “Kapan kamu mau pergi, Dara?”, memiliki penginapan kecil di distrik selatan Aldara. Dan Dara selalu menjawab nanti, seolah kata itu bisa menahan waktu. Kafe belum bisa ditinggal. Situasinya belum stabil.
Tapi surat visa itu tidak peduli apakah Dara sudah siap atau belum.
Ia melipat kain lap, meletakkannya di bawah meja konter, dan duduk di kursi belakang bar. Mira pernah bercerita tentang Aldara, jalan-jalan dengan nama yang sama, makanan yang sama, orang tua yang menyebut sungai dengan nama yang sama dengan sungai di sini. Seolah ada sesuatu yang sudah lama diambil, dan Aldara adalah tempat untuk mengambilnya kembali.
Dara tidak pernah ke Aldara. Tapi mendengar Mira bicara tentang tempat itu membuatnya merasa seperti seseorang yang akan kembali, bukan seperti orang yang akan pergi.
Tomas seharusnya datang malam ini, dan Dara sudah tiga hari menghindari percakapan yang tahu-tahu akan datang, seperti badai yang ia lihat dari kejauhan dan tidak bisa ia hindari.
Empat belas hari, angka itu tidak peduli apakah Dara siap atau tidak.
✦ ✦ ✦
II. Tomas
POS PEMERIKSAAN tepi barat tutup pukul tujuh malam, dibuka lagi pukul enam pagi. Kecuali kalau ada ‘situasi’ yang bisa berarti apa saja. Dari penembakan sampai seseorang batuk terlalu keras di depan tentara yang salah.
Tomas punya izin medis. Selembar kertas resmi. Tenaga kesehatan, operasi klinik non-partisan. Legal. Setiap kali ia serahkan ke tentara Saraya, ada jeda dua-tiga detik yang tidak pernah ia tahu artinya. Sel atau klinik.
Malam ini, tentara yang jaga masih muda. Dua puluh satu, mungkin dua puluh dua. Wajahnya masih punya sisa kepolosan yang belum sepenuhnya dikikis oleh seragam. Ia membaca izin Tomas dua kali, lalu memandangnya.
“Medis?”
“Ya.”
“Klinik mana?”
“Tepi timur. Bangunan bata merah dekat bekas universitas.”
Tentara muda itu mengembalikan kertas. Tidak tersenyum, tapi tidak menghalangi juga. Tomas melangkah melewati gerbang. Baru di langkah kedua puluh, napasnya kembali biasa.
Di dinding gedung bank yang sudah tidak beroperasi, ada graffiti baru. Simbol LM yang dicat merah, lalu di atasnya propaganda Saraya dalam hitam, lalu di atasnya lagi sesuatu yang berbeda dari keduanya, hanya siluet kupu-kupu yang menghadap ke arah sungai. Siapa yang menggambar itu, Tomas tidak tahu. Tapi ia sudah melihatnya di tiga tempat berbeda minggu ini.
Di depannya, seorang perempuan tua menggeret koper beroda yang rodanya macet di aspal retak. Tomas mempercepat langkah.
“Biar saya bantu.”
Perempuan itu menoleh, lalu tersenyum. Senyum yang tidak mengenali wajah Tomas, melainkan sesuatu di wajahnya. Sebuah kenangan, mungkin, atau bayangan tentang seseorang yang pernah ia kenal.
“Kamu Aron, ya? Anak Pak Vale dulu?”
“Bukan. Saya Tomas.”
“Oh.” Perempuan itu melepaskan kopernya. “Tapi kamu seperti anak yang baik.”
Tomas mengambil koper itu dan berjalan setengah blok di sampingnya, merasakan beratnya di tangannya. Di depan pintu tua dengan cat mengelupas, ia menurunkan koper dengan hati-hati, seperti sesuatu yang rapuh.
“Terima kasih,” kata perempuan itu. “Orang tuamu pasti bangga.”
Tomas mengangguk. Tidak mengoreksi. Orang tuanya sudah meninggal enam belas tahun lalu, tapi di Limina, kalimat seperti itu tidak perlu dikoreksi.
Kamu masih di sini, itu yang sebenarnya mereka katakan. Dan itu berarti sesuatu.
Ia melanjutkan jalan ke Café Malam. Dari kejauhan, lampu di dalam masih menyala. Ia bisa melihat siluet Dara bergerak di balik kaca, melipat, merapikan, melakukan hal-hal yang sudah tidak perlu dilakukan. Seolah tubuhnya tidak mau diam.
Ia berhenti di seberang jalan.
“Tiga hari,” kata Reza kemarin. “Operasi bergerak lebih dalam. Kami butuh kamu penuh waktu.”
Tomas sudah tahu Reza tidak akan menerima jawaban tidak. Tapi ia juga tahu Dara tidak akan menerima jawaban ya. Di antara dua jawaban itu, Tomas berdiri di seberang jalan, melihat cahaya dari dalam kafe, dan bertanya pada dirinya sendiri kapan terakhir kali ia merasa keputusan ada di tangannya.
Ia menyeberangi jalan.
✦ ✦ ✦
III. Keduanya
PINTU terbuka. Dara menoleh dari balik bar. Ada sepersekian detik di mana ekspresinya menunjukkan dua hal sekaligus. Lega karena ia datang, tegang karena ia datang. Kombinasi itu hanya bisa terbaca kalau seseorang sudah mengenal wajah itu cukup lama. Tomas sudah mengenal wajah itu tiga tahun.
Dara menuang kopi tanpa bertanya, hitam, dua gula, cangkir yang sedikit lebih besar dari standar, karena Tomas selalu minta tambah dan Dara sudah hafal tanpa perlu mengingat. Sebuah kebiasaan yang terbentuk tanpa disadari, seperti bahasa yang tidak punya terjemahan selain aku tahu kamu. Dara menyadari ia tidak akan pernah lagi menuang kopi seperti ini untuk siapa pun lagi.
Mereka duduk di meja pojok kiri. Selalu meja ini, kursinya menghadap ke jendela, dari sini bisa lihat persimpangan tanpa harus memutar kepala.
Tomas menatap kopi yang masih terlalu panas.
“Hari ini ramai?”
“Bu Wati. Itu saja.”
Hening. Di luar, suara motor lewat, satu, lalu tidak ada lagi.
Pertanyaannya hanya siapa yang akan berhenti menunda lebih dulu.
Ternyata Dara.
“Aku dapat visa,” ucap Dara.
Tomas mendongak.
“Aldara. Mira punya penginapan di sana. Katanya aku bisa kerja sama dia.”
Jeda. Di luar, angin menggerakkan papan longgar di atap, yang sudah berbulan-bulan Tomas bilang akan ia perbaiki tapi tidak pernah sempat.
“Aku pergi dua minggu lagi. Kalau jadi.”
Kalau jadi.
“Kalau?” tanya Tomas.
Dara menatapnya. Matanya tidak berkaca-kaca, Dara bukan tipe yang menangis di awal percakapan sulit.
“Pergilah bersamaku, Tomas.”
Diucapkan langsung, tanpa pembukaan.
Kata itu memukul seperti sesuatu yang fisik. Tidak sakit, tapi seperti jatuh, tanah yang tiba-tiba hilang dari bawah kaki. Ia ingin bilang ya. Ingin berdiri sekarang, ambil tasnya, bilang aku ikut, kita pergi besok. Tapi mulutnya tidak bergerak.
“Kita mulai dari awal,” kata Dara. “Aldara aman. Mira bilang mereka butuh tenaga medis di klinik sana. Kita bisa punya kehidupan. Normal. Bersama.”
Tomas membuka mulutnya. Menutup. Membuka lagi.
“Oke.” Suaranya keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan. “Oke. Kita cari jalan.”
Dara menatapnya. Ada sesuatu di matanya, bukan harapan, tapi bayangannya.
“Aku bisa coba urus visa. Ada orang yang Lenna kenal, broker di pos pemeriksaan.” Kata-kata datang sebelum ia sempat menimbangnya. “Atau aku bisa keluar lewat jalur lain. Ezra pernah bilang dia bisa bawa orang keluar kalau—”
“Tomas.”
Namanya diucapkan dengan nada yang membuat seluruh kalimat berhenti.
“Kamu tahu itu tidak akan berhasil. Saraya sudah punya namamu. Kalau kamu tertangkap mencoba meninggalkan Limina secara ilegal, kamu tidak akan pernah sampai ke Aldara.”
“Lalu apa yang harus kulakukan?” Tidak marah, seseorang yang benar-benar tidak tahu jawabannya. “Bilang. Apa saja. Aku akan coba.”
Dara diam.
Tomas berdiri. Berjalan ke jendela, melihat ke jalan di luar yang sudah sepi, seperti perlu sesuatu untuk dilihat agar bisa terus berbicara.
“Aku mau kamu ikut denganku. Tapi kamu tidak bisa. Dan aku tidak bisa tinggal di sini menunggumu.”
Ia tidak menyelesaikan. Tidak perlu.
Tomas berbalik. Berjalan kembali ke meja. Berhenti sebelum duduk, berdiri di sisi meja yang sama dengan Dara, tapi tidak dekat. Jarak yang tidak mudah dibaca.
“Jangan pergi.”
Dua kata. Diucapkan seperti seluruh hidupnya dikemas di dalamnya.
Dara mendongak. Matanya berkaca-kaca sekarang.
“Aku harus.”
“Tidak harus.” Ia akhirnya duduk, di kursinya sendiri, bukan di sebelah Dara. “Kita bisa cari jalan lain.”
“Tidak ada cara lain, Tomas.” Tidak dengan marah, tapi dengan kesedihan yang lebih dalam dari marah. “Kamu tahu itu. Berhenti berpura-pura.”
Hening panjang. Suara papan longgar di atap, kecil, berulang.
“Bu Halim butuh monitoring insulin setiap hari.” Tomas berbicara pelan, seperti sedang menghitung sesuatu dengan keras agar angkanya terasa nyata. “Kembar Kosan, dua anak delapan tahun, kena serangan asma dua malam sekali kalau polusi tinggi. Pak Jodi punya luka serpihan yang infeksi kalau tidak dibersihkan rutin.”
Dara tidak bersuara.
“Kalau aku pergi, siapa yang tangani mereka?”
“Ada medis lain—”
“Siapa?” Tidak marah. Ia benar-benar hanya ingin tahu. “Lenna sudah kewalahan. Klinik kehilangan dua orang bulan lalu. Kami hampir tidak bisa menangani yang ada sekarang.”
“Tomas—”
“Mereka butuh aku.” Tidak dengan bangga, tapi seperti seseorang yang menyebutkan fakta yang ia sendiri berharap tidak benar. “Nama-nama yang aku tahu. Wajah-wajah yang aku tahu. Kalau aku pergi, mereka tidak punya siapa-siapa.”
Dara menatapnya lama.
“Aku butuh kamu juga.”
Suaranya turun ke tempat yang lebih jujur, lebih rapuh.
Tomas memejamkan matanya.
“Aku tahu.” Hampir bisikan. “Dan itu tidak sama.”
“Kenapa tidak?”
“Karena kehilanganku tidak akan menghancurkanmu.” Ia membuka mata. Menatapnya langsung. “Kamu kuat. Kamu punya keluarga di Aldara. Kamu akan berdiri lagi.”
Jeda.
“Mereka tidak akan,” lanjut Tomas. “Aku tidak bilang mereka lebih penting dari kamu. Hanya saja kamu punya jalan keluar. Mereka tidak punya apa-apa selain aku.”
Dara menatapnya sampai Tomas ingin menjadi versi dirinya yang berbeda.
“LM menghubungimu lagi.” Bukan pertanyaan.
Tomas tidak menjawab. Itu sudah cukup.
“Kapan kamu pergi?”
Bukan apakah. Kapan.
“Dua hari,” ucap Tomas. “Mungkin tiga. Reza ingin aku penuh waktu di rumah-rumah aman tepi timur.”
“Dua hari.” Dara mengulangi itu. Tidak marah, tidak sedih, seseorang yang sedang memastikan angkanya benar sebelum menutup pembukuan. “Aku punya dua minggu. Kamu punya dua hari.”
“Ya.”
Dara berdiri. Berjalan ke belakang konter, punggung menghadap Tomas.
“Di mana tempatku dalam rencanamu?”
“Dara—”
“Tidak.” Ia tidak berbalik. “Aku tanya serius. Di mana tempatku? Aku tunggu di sini sementara kamu di bawah tanah? Aku mengunjungi kamu di rumah aman yang tidak aman untukku?”
Tomas berdiri juga. Berjalan ke arah konter. Bar di antara mereka seperti garis pemisah.
“Aku tidak ingin kamu menghilang.” Ia meletakkan tangannya di konter, dekat tangan Dara, tapi tidak menyentuh. “Aku tidak tahu apa yang aku inginkan. Semua kemungkinan yang aku lihat berakhir dengan seseorang terluka.”
Dara menghapus sesuatu dari pipinya dengan punggung tangan, cepat, seperti orang yang marah pada dirinya sendiri karena menangis.
Tapi kemudian ia melakukan sesuatu yang tidak Tomas duga.
Ia tertawa. Tawanya tidak panjang, tidak juga keras. Hanya satu suara pendek, seperti orang yang baru saja menyadari sesuatu yang tidak masuk akal tentang situasinya. Mereka berdiri di sini, dipisahkan oleh bar di kafé miliknya sendiri, membicarakan hal yang sudah keduanya tahu jawabannya sejak tiga hari lalu, dan belum ada satu pun dari mereka yang cukup berani untuk mengucapkan kata yang perlu diucapkan.
“Tomas.” Suaranya masih basah tapi sudah berbeda. “Kamu tahu kita sudah tahu ini akan berakhir seperti ini, kan?”
Ia tidak menjawab.
“Dari malam pertama LM menghubungimu. Dari saat aku mulai mengepak buku-buku resep.” Ia melihat ke kardus-kardus di sudut. “Kita hanya tidak mau yang pertama mengatakannya.”
Tomas diam cukup lama.
“Ya.”
Dara mengangkat cangkir Tomas yang belum disentuh, meletakkannya di balik konter.
“Aku mengerti kamu tidak bisa pergi.” Ia berhenti, seperti kata-kata berikutnya terlalu berat untuk diucapkan. “Aku mengerti.”
Tomas menunggu. Tapi tidak ada dan.
“Dan aku harus memilih diriku sendiri.”
Jeda. Dara menatap Tomas, dan untuk pertama kalinya malam ini, ia tidak menghindar.
“Kita sudah selesai.”
Bukan pertanyaan. Bukan tawar-menawar. Hanya fakta yang sudah mereka ketahui sejak tiga hari lalu, dan baru sekarang salah satu dari mereka cukup berani untuk mengucapkannya.
Kata itu menggantung di udara.
Tomas berdiri di sana. Sesuatu di dalam dadanya runtuh, tetapi ia tidak membiarkan wajahnya berubah. Kalau ia menunjukkan apa yang ia rasakan, Dara akan tahu ia ragu, dan keraguan itu akan membuat segalanya lebih sulit.
Ia berjalan ke pintu. Tangan di gagang pintu. Punggung menghadap Dara, karena jika ia menoleh, ia tidak akan bisa keluar.
“Aku mencintaimu.”
Suaranya lebih stabil dari yang ia sangka.
Hening panjang.
“Aku tahu.”
Jeda. Tomas menunggu. Tapi Dara tidak menambahkan apa-apa. Aku tahu, dan itu saja. Dara tidak akan mengatakan aku juga. Tidak akan mengatakan maaf. Hanya aku tahu, seolah itu sudah cukup, seolah itu adalah satu-satunya kebenaran yang bisa mereka berdua tanggung.
Tapi tahu dan cukup adalah dua hal yang berbeda.
Tomas membuka pintu. Melangkah keluar.
Di dalam, Dara mendengar langkah Tomas menghilang di kejauhan, satu, dua, tiga, dan kemudian tidak ada lagi yang bisa dihitung. Lalu ia turun, tidak ke kursi, tetapi ke lantai di belakang konter, punggung menekan kabinet kayu yang dingin, kaki ditekuk ke dada seperti kembali ke posisi yang sudah ia kenal sejak kecil.
Ia menangis, bukan dengan suara, dengan rembesan yang pelan dan keras kepala, seolah tubuhnya sudah terlalu lama menahan dan sekarang akhirnya memutuskan untuk menyerah.
Di luar, Tomas berjalan dua blok sebelum berhenti di sudut jalan yang sepi. Ia bersandar ke dinding bangunan tua, merasakan bata dingin menekan punggungnya, dan menutup matanya.
Tidak menangis. Belum. Hanya berdiri di sana dengan kepala menengadah ke langit yang mulai gelap, mencoba menemukan jalan untuk bergerak dari sini ke detik berikutnya. Yang ia tahu saat ini hanyalah jarak antara dia dan Dara, yang dulu hanya meja konter, kini terasa seperti seluruh Limina.
Di atas, langit mulai dipenuhi bintang. Satu per satu, seolah tidak terburu-buru, seolah mereka tahu Dara dan Tomas memiliki malam yang panjang di depan mereka.
✦ ✦ ✦
BABAK DUA: YANG TIDAK BISA DIKATAKAN
IV. Klinik — Tomas
TOMAS menutup buku besar yang kertasnya mulai menguning. Pasien terakhir sudah pergi, anak perempuan delapan tahun, demam empat hari, ibunya membawanya menyusuri jalan belakang pasar karena gerbang utama tutup. Tomas menurunkan demamnya, memberi antibiotik, menulis catatan di buku yang sampulnya sudah lepas dari jilidannya. Ibunya membayar dengan dua butir telur dan sebungkus garam. Tomas menerimanya tanpa komentar, seperti biasa. Lalu duduk di kursi yang satu kakinya pendek, sudah dua bulan ia bilang akan memperbaikinya, belum sempat.
Di luar jendela kecil yang kacanya retak di pojok kiri, ia bisa melihat sebagian jalan. Lampu jalan tepi timur hidup selang-seling sekarang. Saraya memotong pasokan listrik tiga malam dalam seminggu tanpa pemberitahuan. Itu sebabnya shift malam selalu lebih ramai. Orang-orang yang tidak bisa datang siang karena pos pemeriksaan akhirnya tiba di sini, di klinik yang satu kakinya pendek ini.
Ia melihat ke rak obat. Ada kiriman yang datang bulan lalu. Antibiotik, perban, beberapa ampul yang sudah lama tidak ada. Dari donatur yang sama. Sudah bertahun-tahun, selalu tepat waktu, selalu jumlah yang hampir sama. Tidak ada nama. Tidak ada jalan untuk berterima kasih atau bertanya siapa yang peduli sejauh itu, dari jarak yang tidak pernah menunjukkan wajahnya. Tomas tidak pernah mencari tahu. Ada hal-hal yang lebih baik diterima tanpa pertanyaan, karena pertanyaan bisa menutup pintu yang seharusnya tetap terbuka.
Pintu belakang terbuka.
Reza. Empat puluh delapan tahun, rambut yang selalu agak panjang di satu sisi, jaket dengan jahitan tangan di bahu kanan yang pernah Tomas jahit sendiri setelah yang terjadi di Kosamaya tiga bulan lalu. Ia membawa dua termos kopi dan meletakkan satu di meja Tomas tanpa bertanya.
“Operasi bergerak,” kata Reza. Ia duduk di kursi yang biasa ia pakai, di samping, bukan di depan, seperti seseorang yang tidak mau memberi kesan sedang memberi perintah. “Minggu depan. Rumah aman tepi timur penuh. Kami butuh titik baru di selatan.”
“Berapa orang?”
“Dua belas. Termasuk tiga anak.”
Tomas minum kopi. Terlalu panas, tapi ia minum juga.
“Titik selatan artinya lebih dekat ke garis Saraya.”
“Ya.”
“Kalau mereka tahu—”
“Mereka tidak akan tahu.” Reza mengucapkannya tanpa keyakinan penuh, lebih seperti orang yang sudah mempertimbangkan kemungkinan sebaliknya dan memutuskan bahwa bergerak tetap lebih baik dari diam. “Kamu tidak perlu ada di sana. Hanya perlu tanda tangan di surat izin medis. Kami yang urus sisanya.”
Tomas menatap termos kopi milik Reza di mejanya sendiri yang belum dibuka.
“Dara pergi minggu depan.”
Reza tidak langsung menjawab. Ia tahu tentang Dara. Tomas tidak pernah menyembunyikannya.
“Aku tahu.”
Hening sejenak.
“Kamu mau aku bilang apa, Tomas? Bahwa kamu bisa ikut?” Ia melihat ke jendela yang kacanya retak. “Aku tidak bisa bilang itu.”
“Aku tidak minta kamu bilang itu.”
Reza tidak menjawab langsung. Membuka termos kopinya, minum, lalu menaruhnya kembali.
“Ibuku meninggal bulan lalu.” Diucapkan dengan nada yang sama dengan operasi bergerak dan tiga anak, tanpa penekanan khusus. Seperti fakta yang sudah lama ia terima tapi baru bisa diucapkan sekarang. “Tidak bisa ke pemakamannya. Pos pemeriksaan tutup tiga hari waktu itu.”
Tomas menatapnya.
Reza tidak memandang balik. Menatap ke suatu titik di dinding yang tidak ada apa-apanya.
“Semua orang kehilangan sesuatu. Kamu kehilangan Dara. Aku kehilangan ibuku tanpa bisa ke pemakamannya. Mereka yang di rumah aman itu kehilangan lebih dari yang bisa mereka sebutkan.” Ia berdiri. “Tapi kita masih di sini. Pertanyaannya bukan apa yang hilang.” Ia menuju pintu belakang. “Surat izinnya di meja depan. Tidak harus malam ini.”
Pintu menutup.
Tomas tinggal sendirian dengan dua termos kopi. Satu sudah ia minum setengah, satu milik Reza yang masih penuh.
Surat izin itu tetap di atas meja sampai pagi. Tomas tidak menandatanganinya. Tapi ketika ia keluar dari klinik, surat itu ada di dalam tasnya.
✦ ✦ ✦
V. Perempuan Tua — Dara
CAFÉ MALAM sudah tutup tapi pintunya belum dikunci. Dara duduk di balik bar dengan secangkir teh yang sudah tidak panas, menghitung stok gula yang perlu diisi dan jumlah kopi yang mungkin tidak akan pernah ia isi lagi.
Pintu depan terbuka. Seorang perempuan tua berdiri di ambang pintu, menopang tubuhnya di tongkat kayu. Rambutnya putih semua, wajahnya penuh garis-garis dalam yang mengalir seperti kulit yang sudah terlalu lama terkena angin dan matahari. Ia memandang ke dalam kafé dengan ekspresi seseorang yang tidak yakin apakah sudah di tempat yang benar.
“Masih buka?”
“Sudah tutup.” Dara mengucapkan itu lalu berhenti. Melihat perempuan itu berdiri di ambang pintu dengan tongkat dan ekspresi yang tidak tahu mau ke mana lagi. “Tapi silakan masuk kalau butuh duduk.”
Perempuan itu masuk. Berjalan pelan ke kursi terdekat, bukan memilih tempat yang nyaman, tapi tempat yang paling dekat karena kakinya sudah tidak kuat pilih-pilih. Duduk dengan napas yang terdengar seperti seseorang yang sudah jalan jauh.
Dara menuang teh sisa dari ketel yang sudah tidak panas. Meletakkannya di meja tanpa bertanya.
“Terima kasih.”
Mereka tidak berbicara beberapa menit. Perempuan itu minum tehnya pelan. Dara melanjutkan menghitung stok gula meski ia sudah tahu jumlahnya.
“Dari mana?” tanya Dara akhirnya.
“Tepi barat.” Perempuan itu meletakkan cangkir. “Cucu saya di tepi timur. Pos pemeriksaan tutup jam tujuh, saya tidak sempat. Besok pagi baru bisa.”
“Semalam di sini?”
“Ada yang mau terima.” Ia mengangguk ke arah tidak spesifik. “Tetangga lama.”
Hening. Di luar, angin lewat, terdengar seperti seseorang yang tidak punya tujuan.
“Kamu mau pergi,” kata perempuan itu.
Dara mendongak.
“Kardus-kardus itu.” Ia menunjuk ke sudut ruangan tanpa menoleh ke sana. “Sudah setengah terisi tapi belum dilakban. Orang yang masih ragu biasanya begitu.”
Dara tidak tahu apa yang harus ia katakan.
“Suami saya dulu juga begitu.” Diucapkan ke cangkir tehnya. “Waktu ia mau pergi, ke gerakan. Ia berkemas tapi tidak selesai-selesai. Saya pikir ia ragu.”
Jeda. Ia meniup tehnya yang sudah tidak panas.
“Ternyata ia tidak ragu. Ia hanya tidak mau selesai berkemas. Karena kalau sudah selesai, berarti sudah benar-benar pergi.”
Dara diam. Jari-jarinya berhenti di atas kertas stok.
“Dia baik-baik saja?” tanya Dara.
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Menaruh cangkir. Meluruskan tongkatnya yang sedikit miring.
“Tidak.”
Satu kata. Datar.
Dara menunggu.
“Enam bulan setelah ia pergi. Cucu saya sekarang dua puluh dua tahun, baru saya kenal sebulan lalu waktu pos pemeriksaan sempat buka tiga hari.”
Dara ingin bertanya sesuatu tapi tidak tahu apa.
“Anda tidak menyesal?” Pertanyaan itu keluar sebelum Dara sempat menimbangnya.
Perempuan itu menatapnya untuk pertama kali sejak duduk dengan tatapan yang membuat Dara merasa pertanyaannya tidak salah, tapi juga tidak tepat.
“Setiap hari.”
Dara tidak bergerak.
Perempuan itu melihat ke arah kardus-kardus lagi. Seperti baru ingat, mereka itu ada.
“Tapi aku masih hidup. Dan dia tidak.”
Dua fakta yang sudah lama hidup berdampingan di dalam dirinya, dan sekarang ada di udara di antara mereka berdua. Hening yang berbeda dari sebelumnya, lebih seperti sesuatu yang berat sudah diletakkan dan tidak perlu diangkat lagi malam ini. Perempuan itu berdiri dengan susah payah, meraih tongkatnya.
“Tehnya bagus. Meski sudah dingin.”
Di ambang pintu, ia berhenti. Tidak menoleh.
“Kardusnya. Kalau sudah tahu mau pergi, lebih baik dilakban sekarang. Sisanya hanya menyiksa diri.”
Ia pergi sebelum Dara bisa menjawab.
Dara duduk diam beberapa menit. Lalu ia berdiri. Berjalan ke sudut ruangan. Mengambil gulungan lakban dari laci bawah meja kasir.
Ia menutup kardus pertama. Menempelkan lakban. Menulis di permukaannya dengan spidol: Buku resep.
Kardus kedua: Cangkir.
Berhenti di kardus ketiga, yang berisi jaket abu-abu Tomas.
Ia duduk di lantai di depannya. Tidak menutup. Tidak menutup malam ini.
✦ ✦ ✦
VI. Percakapan Kedua — Keduanya
TOMAS datang lima belas menit sebelum kafé tutup. Bukan seperti biasa. Malam ini ia datang menjelang tutup, seperti seseorang yang sudah di depan pintu tapi perlu tiga kali naik turun tangga sebelum mengetuk.
Dara sudah tahu ia akan datang. Kardus-kardus sudah tertutup semua. Kecuali satu. Tomas melihatnya. Melihat kardus yang terbuka. Tidak berkata apa pun.
Dara menuang kopi. Tidak dua gula malam ini, hanya hitam, karena sesuatu di dalam dirinya sudah tidak mengingat hal-hal kecil seperti itu. Meletakkan di meja pojok. Duduk. Tomas duduk di kursi seberangnya, jarak yang lebih terukur dari biasanya.
“Besok pagi,” kata Dara.
Bukan pertanyaan.
“Ya,” jawab Tomas.
Tomas menatap cangkir kopinya. Seharusnya ia mengangkatnya, itu yang selalu ia lakukan, selalu, tiga tahun terakhir. Tapi tangannya tidak bergerak. Mungkin karena mengangkat cangkir berarti melanjutkan ritual yang sudah tidak ada gunanya.
Hening yang berbeda dari semalam. Seperti tanah yang sudah mereka kenal, tahu di mana lubangnya, tahu di mana aman untuk berdiri. Tapi kali ini ia tidak yakin apakah ia masih ingin berdiri di tanah yang sama.
“Aku ingin minta maaf,” katanya. Dan ia mendengar suaranya sendiri, terlalu pelan, terlalu siap untuk tidak didengar.
Dara mendongak.
“Bukan karena aku salah. Aku tidak tahu apakah aku salah.” Ia menatap tangannya di atas meja. “Tapi aku ingin bilang, aku mengerti kenapa ini tidak cukup. Kamu berhak atas lebih dari ini.”
Dara tidak menjawab langsung.
“Kamu tidak harus minta maaf untuk sesuatu yang tidak bisa kamu ubah.”
“Aku tahu. Tapi tetap.”
Hening.
“Apa yang akan kamu lakukan,” tanya Dara, “kalau suatu hari kamu bisa pergi?”
Tomas menatapnya. Pertanyaan itu tidak ia duga.
“Mungkin tidak ada yang berbeda,” kata Tomas. Jujur. “Klinik sudah jadi bagian dariku. Bukan karena terjebak. Karena memang itu yang aku mau.” Ia berhenti. “Tapi mungkin aku akan menyusulmu ke sana. Suatu hari. Sebelum kembali.”
Dara menatapnya, ada sesuatu di matanya yang tidak bisa sepenuhnya ia baca.
“Aku tidak akan menunggu, Tomas,” kata Dara.
“Aku tahu.”
“Bukan karena aku tidak peduli.”
“Aku tahu itu juga.”
Hening. Suara angin di luar, jendela kafé yang tidak pernah menutup sempurna bergetar pelan.
“Aku akan menyalahkanmu,” kata Tomas. Diucapkan tanpa amarah, hanya kejujuran. “Bukan sekarang. Nanti. Mungkin bahkan tidak sadar. Kalau ada hari di mana aku tidak bisa tangani semuanya sendiri, aku akan ingat bahwa kamu pergi.”
Dara diam lama.
“Aku tahu. Aku juga akan menyalahkanmu. Bukan karena aku benci kamu,” ucap Dara.
“Aku tahu.”
“Karena kamu akan ada di sana dan aku di sini dan itu—” Dara tidak menyelesaikan. Mengangkat tangannya dari meja, meletakkan kembali. “Itu hal yang paling sulit.”
Tomas mengangguk. “Aku juga tidak tahu lagi apa yang bisa dikatakan.”
Mereka duduk dalam hening yang panjang. Dua orang yang sudah berjalan jauh bersama dan sekarang duduk sebelum jalan yang berpisah. Tidak terburu-buru, karena waktu yang tersisa tidak akan lebih banyak kalau terburu-buru.
Tomas akhirnya meminum kopinya. Sudah dingin. Ia mengernyit sedikit, rasa pahit yang lebih tajam dari biasanya.
“Tidak ada gula.”
Dara menatapnya. Untuk pertama kali dalam tiga tahun, ia lupa. Bukan karena ia tidak peduli. Justru karena ia sudah terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak bisa diucapkan, sehingga hal-hal kecil yang dulu otomatis kini membutuhkan usaha. Ia hampir berkata maaf, aku lupa. Tapi kata-kata itu terasa terlalu ringan untuk malam ini.
“Maaf,” katanya akhirnya. Tomas mendengar dari cara Dara mengucapkannya, dari jeda sebelum kata itu keluar. Maaf ini bukan tentang gula.
“Tidak apa-apa,” katanya. Dan ia minum lagi, meskipun kopi itu pahit dan dingin, karena setidaknya itu adalah sesuatu yang bisa ia lakukan.
Kafé tutup pukul sepuluh. Tomas yang membantu menurunkan tirai. Ia sudah hapal di mana kaitan tirai yang macet, sudah hapal harus mendorongnya dengan bahu kiri supaya tidak perlu kunci tambahan.
Mereka berdiri di depan kafé yang sudah gelap.
“Jangan lihat ke belakang,” kata Dara. “Kalau kamu lihat, kamu akan turun.”
Tomas tidak langsung mengerti. Ia menatap Dara, mencoba membaca wajahnya di bawah lampu kafé yang mulai redup.
“Waktu aku kecil, aku memanjat pohon jambu di belakang rumah Mira. Tinggi sekali, aku takut setengah mati. Tapi kalau aku melihat ke bawah di tengah jalan, aku tidak bisa lanjut. Aku harus melihat ke atas terus sampai tiba di tempat yang aku tuju.”
Ia berhenti. Tangannya menyentuh meja di antara mereka, tidak meraih Tomas, hanya menyentuh permukaan kayu itu, seperti mencari sesuatu yang kokoh untuk dipegang.
“Aku tidak tahu apa maksudnya,” katanya akhirnya. “Mungkin tentang besok. Mungkin tentang kamu. Mungkin juga tentang aku.”
Tomas menatapnya.
“Aku akan mencoba tidak melihat ke belakang.”
“Aku tahu kamu tidak akan bisa.”
“Kamu juga tidak.”
Dara tidak membantah.
Mereka berdiri di sana beberapa detik. Tidak menyentuh, tidak mengatakan hal besar yang terasa seperti penutupan. Hanya dua orang di depan tempat yang pernah menjadi milik mereka berdua.
Tomas pergi lebih dulu.
Dara menunggu sampai bayangannya menghilang di persimpangan. Kemudian masuk ke dalam, mengunci pintu, dan berdiri di tengah kafé yang gelap.
Kardus-kardus di sudut ruangan. Delapan meja. Nol tamu.
Ia berjalan ke kardus ketiga. Jaket abu-abu Tomas masih di dalam, ia bisa melihat ujung kerahnya dari celah yang belum tertutup. Tangannya bergerak menutup kardus itu, menekan lakban di sepanjang sisi, lalu mencari pulpen yang tadi ia pakai untuk menulis dua kardus sebelumnya.
Ia menemukannya di meja kasir. Pulpen lama, tinta sudah mulai habis.
Ia kembali ke kardus. Pulpen di tangannya. Ujungnya di atas permukaan kardus, tepat di bawah kata jaket yang belum ia tulis.
Tidak ada yang bergerak.
Pulpen itu tidak pernah menyentuh kardus.
✦ ✦ ✦
BABAK TIGA: PILIHAN
VII. Keputusan — Tomas
SURAT izin itu masih di meja depan klinik keesokan paginya.
Tomas duduk di kursi yang kakinya masih pendek. Masih belum diperbaiki. Ia menatap surat itu. Ada satu hal yang tidak pernah ia katakan pada Dara, dan tidak akan ia katakan. Ia takut.
Bukan Saraya, bukan lagi. Sudah terlalu lama di sini untuk takut pada peluru atau sel. Yang ia takutkan adalah versi dirinya yang hanya bisa hidup di Limina, di klinik ini, di antara pasien-pasien yang namanya ia hafal, di jalan-jalan tepi timur yang ia tahu persis di mana lubangnya. Kalau ia pergi, apakah ada yang tersisa?
Bukan sekadar tempat ia bekerja. Satu-satunya tempat di mana ia tahu siapa dirinya.
Dan ia tidak bisa menceritakan itu pada Dara. Bukan karena ia malu. Tapi karena ia tahu bagaimana bunyinya. Keputusannya bukan hanya tentang pasien. Sebagian dari dirinya tinggal karena ia butuh mereka, sama seperti mereka butuh dia. Dan ia tidak tahu apakah itu membuat keputusannya lebih benar atau lebih salah.
Ia mengambil pulpen.
Menandatangani.
Lenna berdiri di pintu klinik belakang. Ia tidak bertanya apa yang baru saja ia tandatangani. Ia sudah tahu.
“Dara berangkat besok?”
“Ya.”
Lenna tidak berkata apa pun. Masuk ke ruang klinik, membuka laci obat, mulai menghitung stok, tangannya perlu sesuatu untuk dikerjakan agar tidak harus bicara.
“Kita kurang morfin,” kata Lenna akhirnya.
“Aku tahu.”
“Reza bilang mungkin ada kiriman minggu depan dari selatan.”
“Kalau sempat.”
Hening. Lenna menutup laci.
“Shift malam masih kamu?”
“Masih.”
Lenna mengangguk. Kembali ke ruangnya.
Tomas menatap surat yang sudah ia tandatangani. Tintanya sudah kering. Ia lipat surat itu dan meletakkannya di amplop yang sudah Reza siapkan.
Di luar jendela, lampu jalan tepi timur mulai mati satu per satu. Giliran Saraya memotong listrik hari ini. Tomas menghitung. Tiga hidup. Satu mati. Dua hidup. Satu mati. Pola yang tidak bisa diprediksi. Seperti semua hal di Limina.
✦ ✦ ✦
VIII. Dua Masa Depan — Tomas
MASA DEPAN PERTAMATAMA — Ia Pergi
Ia membayangkan dirinya di Aldara. Enam bulan. Satu tahun. Dara yang hapal jalan ke pasar, Tomas yang belum. Dara yang berjalan cepat, mendahului. Tomas yang tertinggal, belajar menjadi orang yang menunggu.
Dan kemudian, wajah. Bu Halim, tujuh puluh dua tahun, jarum insulin setiap pagi, tangannya gemetar kalau Tomas yang tidak datang. Kembar Kosan, delapan tahun, serangan asma dua malam sekali kalau polusi tinggi, dan Tomas sudah hapal suara napas mereka dari luar pintu. Pak Jodi, luka serpihan di betisnya tidak mau sembuh, tapi ia tidak pernah mengeluh, hanya bertanya apakah Tomas masih akan datang besok.
Ia akan hidup dengan tidak mengetahui apakah mereka baik-baik saja. Dan itu, bukan Limina, bukan perjuangan, bukan LM, yang ia tidak sanggup bawa ke Aldara.
MASA DEPAN KEDUA — Ia Tinggal
Kalau ia tinggal, ia akan menyalahkan Dara. Sudah ia katakan itu. Yang belum ia katakan, ia juga akan menyalahkan dirinya sendiri. Bukan karena tinggal. Tapi karena suatu hari nanti, di antara pasien dan shift malam dan lampu jalan yang mati bergiliran, ia akan menyadari ia sudah tidak bisa mengingat wajah Dara dengan tepat. Dan itu, baginya, akan terasa seperti pengkhianatan yang lebih dalam dari keputusan apa pun.
Tapi ia tidak takut mati. Bukan karena ia berani. Hanya karena ia sudah terlalu lelah untuk takut. Dan di antara dua hal yang masing-masing akan menyakitinya, hanya satu yang membiarkan wajah-wajah itu tetap punya seseorang.
Tomas berbaring di kasur klinik sampai langit di luar jendela mulai terang.
Tidak tidur. Hanya berbaring. Lalu bangun, cuci muka, dan mulai shift pagi.
✦ ✦ ✦
IX. Perpisahan — Keduanya
DARA meninggalkan Café Malam sebelum subuh.
Ransel di punggung. Satu koper kecil. Foto dari dalam tasnya yang tidak pernah dilihat lagi sejak dimasukkan.
Tomas menunggunya di luar, tanpa memberitahu Dara sebelumnya. Dara sendiri tidak pernah bilang jam berapa ia akan keluar. Tapi ia ada di sana. Dan Dara tidak terkejut.
Mereka berdiri di trotoar yang masih gelap. Jalan kosong. Sungai Marga terdengar dari jauh, tidak terlihat, hanya terdengar. Suara air yang tidak peduli dengan apa yang terjadi di tepinya.
“Taksi dari mana?” tanya Tomas.
“Persimpangan besar. Pak Salim sudah janji jam lima.”
“Masih dua puluh menit.”
“Ya.”
Dua puluh menit. Tomas tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan dua puluh menit. Ia ingin mengatakan sesuatu yang besar. Sesuatu yang cukup. Tapi semua kalimat yang ia temukan di kepalanya terasa seperti kalimat yang sudah diucapkan orang lain sebelumnya, di situasi yang sama, dan tidak cukup bagi mereka juga.
“Aku ingin bilang—” Ia mulai. Berhenti. “Tidak. Tidak ada yang bisa kukatakan yang belum kamu tahu.”
Dara menatapnya. “Aku juga.”
Hening. Angin lewat. Tidak dingin, hanya ada.
“Kalau suatu hari Limina—” Dara mulai, lalu berhenti di tengah kalimat.
“Kalau?”
Ia menggeleng. “Pertanyaan yang tidak bisa dijawab.”
Tomas ingin menyentuhnya, berdiri di jarak yang terlalu dekat untuk tidak menyentuh dan terlalu jauh untuk menyentuh secara alami.
Dara sudah bergerak lebih dulu, masuk ke dalam pelukannya tanpa drama, seperti seseorang yang terlalu lelah untuk membuat ini menjadi momen. Ia hanya butuh satu tempat untuk berdiri sebentar sebelum bergerak lagi.
Tomas melingkarkan tangannya di punggung Dara. Di balik bahunya, trotoar masih kosong. Ransel Dara berat di antara mereka, napasnya belum teratur.
Di luar, lampu jalan mati satu per satu, tiga hidup, satu mati, dua hidup. Dari kejauhan, Sungai Marga terus mengalir dengan suara yang tidak berubah sejak ia kecil.
Mereka berdiri seperti itu beberapa detik. Atau lebih lama. Tidak ada yang menghitung.
Dara yang melepas lebih dulu. Satu langkah mundur.
“Janji padaku, kamu untuk bahagia.”
Tomas menatapnya. Tahu itu bukan permintaan yang bisa dipenuhi. Tahu Dara juga tahu itu.
“Aku tidak bisa janji itu.”
“Aku tahu.” Dara mengangkat tasnya. “Tapi aku tetap akan memintanya.”
Suara mesin terdengar dari ujung jalan. Pak Salim, lima menit lebih awal.
Dara berbalik. Berjalan.
Tomas tidak berteriak memanggil namanya. Tidak berlari. Hanya berdiri dan melihat punggungnya bergerak menjauh, ransel yang terlalu besar untuk badannya, langkah yang tidak ragu, meski Tomas tahu ia juga punya alasan untuk ragu. Di kejauhan, taksi Pak Salim sudah menunggu dengan lampu menyala, satu-satunya titik terang di jalan yang masih gelap.
Di persimpangan, Dara berhenti. Tidak menoleh. Berdiri sebentar di sana, punggung menghadap Tomas, seperti orang yang tahu bahwa menoleh berarti tidak akan bisa melanjutkan.
Dari tempatnya berdiri, Tomas bisa melihat bayangannya di bawah lampu jalan yang masih hidup. Dara masuk ke dalam taksi. Pintu menutup. Mesin menyala.
Tomas berdiri di trotoar sampai suara mesin mobil itu tidak terdengar lagi.
✦ ✦ ✦
X. Catatan Waktu
BUS Dara melewati pos pemeriksaan barat pukul 06.03 pagi.
Tomas melewati jembatan menuju tepi timur pukul 06.09 pagi.
Enam menit. Kurang dari satu kilometer.
Sungai Marga mengalir di antara mereka. Seperti biasa, tanpa bertanya, tanpa menunggu. Coklat, lambat, dan sama sekali tidak peduli dengan siapa yang berdiri di tepinya atau ke mana mereka pergi.
— SELESAI —
CATATAN PENULIS
Enam menit.
Kurang dari satu kilometer.
Sungai Marga mengalir di antara mereka.
Dara pergi ke Aldara. Tomas tetap di Limina.
Tapi ada satu pertanyaan yang belum terjawab. Bukan tentang siapa yang benar, bukan tentang siapa yang salah, tapi tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang memilih untuk tinggal di kota yang terus meminta, dan pada orang-orang yang pergi karena tidak bisa lagi memberi.
Kisah Dara dan Tomas adalah salah satu dari banyak suara di Limina.
Novel ini menceritakan yang lainnya — tentang seorang perempuan yang namanya disimpan sepuluh tahun, seorang pemuda yang kembali menyeberangi sungai, dan satu malam operasi yang akan mengubah segalanya.
Cara Kamu Menyebut Namanya. Sebuah novel tentang apa yang terjadi pada nama-nama yang tidak pernah kita berani panggil dengan suara jujur.
Baca Novel Sekarang
Komentar