BABAK SATU: SETUP
I. Pukul 19.00
EZRA punya aturan.
Pertama: tidak berpihak. Kedua: tidak bertanya. Ketiga: bayar lunas di muka atau tidak ada kesepakatan.
Aturan-aturan itu sudah menjaganya tetap hidup selama tiga tahun menjadi fixer di Limina. Kota yang sudah lama berhenti menjadi satu kota dan mulai menjadi dua kota yang kebetulan berbagi sungai yang sama. Di barat, pemerintah Saraya mempertahankan pos pemeriksaan dengan wajah-wajah di poster yang berganti setiap beberapa bulan, tapi kebijakan di baliknya tidak pernah berubah. Di timur, perlawanan bersenjata memindahkan klinik bawah tanah dan rumah aman setiap tiga hari, selalu bergerak, selalu menghindar. Di antara keduanya, Sungai Marga mengalir seperti biasa, tapi sudah lama berhenti menjadi geografi dan mulai menjadi batas yang memisahkan orang yang masih hidup dari orang yang berusaha tetap hidup.
Ezra bekerja untuk keduanya, dan ia tahu bagaimana itu terdengar. Tapi utang tiga puluh ribu Kosa ke Pak Malik tidak peduli dengan pendirian. Pak Malik mulai mengirim orang untuk mengingatkan bahwa kesabaran ada batasnya, dan kemewahan adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan alasan.
[Kosa: mata uang Limina. Satu bulan sewa kamar di tepi timur: dua ribu Kosa.]
Ada satu hal yang sudah diajarkan tiga tahun di pekerjaan ini kepadanya, yang tidak ada di deskripsi jabatan mana pun. Ia mempelajarinya dari orang yang tidak pernah ia lihat lagi, dari pesan yang tidak pernah sampai, dari nama yang tidak pernah disebut. Cara paling cepat mati di Limina bukan dengan melawan salah satu pihak. Cara paling cepat mati adalah dengan peduli.
Malam ini ia sedang menghitung uang di atas kasur yang pegasnya sudah tidak berfungsi sejak setahun lalu. Jumlah totalnya sudah ia hitung tiga kali. Hasilnya sama. Tidak cukup.
Di sudut meja, satu foto yang tidak ia singkirkan bahkan waktu yang lainnya sudah ia bersihkan, foto yang sudah lama ia putuskan tidak perlu dikategorikan sebagai kenangan atau pengingat, hanya sebagai fakta. Pernah ada waktu ketika ia ada di tempat yang berbeda, menjadi orang yang berbeda. Ia tidak melihat ke sana malam ini. Tidak ada gunanya.
Ketukan di pintu.
Ezra menyingkirkan uang ke bawah bantal. Refleks. “Masuk.”
Rafi masuk, pendek, kurus, selalu terlihat seperti seseorang yang baru saja berlari dari sesuatu meski sedang berdiri diam. Dulu ia kurir LM, sekarang makelar kecil-kecilan di zona abu-abu yang sama dengan Ezra. Bedanya Rafi masih punya loyalitas lama yang sesekali membuat pekerjaannya tidak murni tentang uang.
Ezra tidak pernah menanyakan ke mana loyalitas itu pergi ketika ada konflik kepentingan. Tidak bertanya adalah aturan kedua. Dengan Rafi, aturan itu sering terasa seperti menahan diri dari sesuatu yang lebih gelap daripada yang ingin ia akui.
“Malam, Ez.”
“Duduk atau langsung bilang,” kata Ezra.
Rafi memilih berdiri. “Ada job. Satu paket. Barat ke timur. Malam ini. Sepuluh ribu Kosa.”
Ezra menatapnya. Sepuluh ribu untuk satu malam. Tarif normalnya satu setengah, paling mahal tiga ribu untuk yang berisiko tinggi. Selisih tujuh ribu itu bukan margin keuntungan, itu harga dari sesuatu yang tidak mau dijelaskan.
“Paketnya apa?”
“Jangan tanya.”
“Rafi.”
“Aku serius. Ini datang dari atas. Kamu tahu aku tidak bisa bilang lebih.”
Ezra menatap tumpukan tagihan di sudut meja. Lalu kembali ke Rafi.
“Pos pemeriksaan Barat-Tiga. Jam delapan. Perempuan, jaket abu-abu. Bawa ke Rumah Aman Tanjung sebelum fajar.” Rafi meletakkan amplop di lantai dekat pintu. “Uang muka dua ribu. Sisanya setelah selesai. Dan jangan biarkan dia berbicara dengan orang lain sebelum sampai.”
“Kenapa?”
“Jangan tanya.”
Rafi pergi.
Ezra duduk di kasur dan menatap amplop itu. Dua ribu Kosa. Jangan biarkan dia berbicara dengan orang lain. Artinya paketnya tahu sesuatu. Artinya ada pihak lain yang tidak mau sesuatu itu sampai ke tujuan.
Cara paling cepat mati di Limina adalah dengan peduli. Tapi cara paling cepat kehabisan makan adalah dengan menolak sepuluh ribu Kosa.
Tiga puluh menit kemudian ia sudah di jalan.
✦ ✦ ✦
II. Pukul 20.00
POS PEMERIKSAAN Barat-Tiga menjelang malam. Kerumunan yang bergerak cepat dengan kepala menunduk, tidak ada yang ingin berlama-lama di bawah lampu kuning yang membuat semua wajah terlihat bersalah. Bau solar dan keringat basah. Tapi di bawah keduanya, ada sesuatu yang lebih samar, Ezra tidak bisa menamainya sampai beberapa detik kemudian. Bukan makanan dari gerobak. Bukan juga solar. Itu adalah bau ketakutan yang sudah cukup lama mengendap sampai akhirnya punya aroma sendiri. Di ujung antrean, mesin pencetak kartu identitas berdecit pelan setiap kali mencetak. Bunyi yang berulang seperti metronom untuk sesuatu yang tidak ingin dihitung.
Tentara di pos terlihat muda-muda, rotasi baru. Wajah baru di pos pemeriksaan artinya pola baru yang belum bisa dibaca. Yang paling muda di antara mereka masih membawa sisa postur remaja di bahunya, seolah tubuhnya belum sepenuhnya setuju dengan tempat yang ditempatinya. Ia memeriksa kartu identitas sambil menghindari mata orang yang kartunya ia pegang. Siapa pun yang memutuskan ia sudah cukup dewasa untuk di sini kemungkinan tidak menanyakan pendapatnya.
Ezra memindai.
Jaket abu-abu ada tiga orang. Dua di antaranya berjalan seperti orang yang sudah sering lewat sini. Satu berdiri seperti seseorang yang baru pertama kali lewat sini dan terlalu sadar akan hal itu.
Ezra memperhatikan tangannya, bukan yang di saku, tapi yang satu lagi, yang tersembunyi di bawah jaket. Sedikit kaku di sisi tubuhnya, seperti seseorang yang sedang menjaga sesuatu tetap dekat.
Amatir yang mencoba terlihat tidak seperti amatir. Kombinasi terburuk, biasanya. Tapi Ezra tidak bergerak. Ada sesuatu yang tidak sesuai dengan pembacaan itu. Matanya bergerak dalam pola, tidak acak, memindai lingkungan bukan karena panik, tapi karena sedang mencari sesuatu.
Ezra tidak pernah mengizinkan dirinya memperhatikan lebih lama dari yang diperlukan. Malam ini ia mengizinkannya. Seseorang yang cukup cerdas untuk menyembunyikan sesuatu sebelum tiba di sini, tapi memilih untuk terlihat amatir di permukaan.
Ezra mencatat itu. Menyimpannya.
Ia mendekati dari samping, gerakan yang cukup lambat untuk tidak memicu kecurigaan, cukup dekat untuk menghentikan langkahnya kalau ia salah baca situasi. “Rafi yang kirim aku.”
Perempuan itu menoleh. Wajahnya sekitar dua puluhan akhir, mungkin biasanya lebih tenang dari ini. Lega dan takut datang bersamaan.
“Syukurlah. Kita harus—”
“Pelan.” Ezra tidak menggerakkan bibirnya lebih dari yang diperlukan. “Senyum kecil,” katanya, hampir tidak menggerakkan bibirnya. “Kita sudah lama tidak ketemu. Jalan saja dan ikuti aku.”
Mereka mulai bergerak bersama ke arah pintu keluar utama, pelan, seperti dua orang yang baru saja bertemu dan tidak punya rasa terburu-buru ke mana-mana.
Ezra membaca sekitarnya sambil jalan. Penjaga pos kiri sudah berganti dari tadi, ada kamera baru di sudut kanan yang belum ada minggu lalu, dan ada SUV hitam di ujung jalan yang mesinnya menyala tapi tidak bergerak. Dua orang di dalamnya. Kepala yang tidak bergerak tapi mata yang bergerak. Bukan orang yang menunggu. Orang yang mengamati. Mereka mengamati ke arah yang sama dengan tujuan Ezra.
“Ikuti aku tanpa tanya. Sekarang.” Ia memiringkan badan ke kiri, ke arah gang pasar, seperti belok biasa kalau tidak ada yang mencari-cari. “Jangan lihat ke SUV hitam.”
“SUV—”
“Jangan lihat.”
Mereka masuk ke gang. Ezra mempercepat langkah tapi tidak berlari.
Dua puluh langkah. Tiga puluh.
Di belakang terdengar suara pintu mobil.
“Sekarang lari.”
✦ ✦ ✦
III. Pukul 20.15
PASAR malam di tepi barat sudah setengah tutup. Kios-kios yang buka di siang hari mulai melipat terpal, penjual terakhir mendorong gerobak pulang. Ezra menarik perempuan itu ke celah antara dua kios ikan yang sudah tutup, melompati tali terpal karena di depannya tidak ada jalan lain. Ia masuk ke lorong sempit di baliknya, satu-satunya tempat yang belum ia gunakan malam ini. Bau es yang sudah mencair bercampur dengan minyak jelantah dan got, bukan bau yang bisa dilupakan, hanya bau yang sudah terlalu lama ada sampai orang berhenti menciumnya. Ezra pernah berhenti menciumnya. Malam ini ia menciumnya lagi, karena adrenalin membuat semua indera memutuskan ini saat yang tepat untuk bekerja penuh.
Di belakang mereka, langkah yang terlalu teratur. Dua orang, mungkin tiga, yang bergerak dengan ritme orang terlatih bukan orang yang sedang buru-buru belanja.
Ezra hafal gang ini. Tiga tahun jadi fixer berarti ia sudah survei setiap kemungkinan jalan keluar di kota ini sebelum pernah butuh menggunakannya. Pintu besi di ujung lorong masih setengah terlepas dari engselnya, seperti biasa, seperti yang sudah ia catat tiga bulan lalu dan tidak pernah diperbaiki. Di baliknya, tangga menurun ke bawah tanah.
Gudang bekas toko kelontong. Rak-rak kosong berdebu. Bau apak berbulan-bulan, dan di bawahnya, sesuatu yang dulu manis, yang sudah lama berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa ia namai. Gelap total kecuali satu celah cahaya dari ventilasi kecil di atas. Dari jauh, di permukaan, langkah kerumunan pasar masih terdengar, gembira, tidak tahu, terus berjalan.
Ezra menarik pintu besi sampai tertutup semaksimal yang ia bisa. Bersandar ke tembok. Mendengarkan.
Langkah di luar. Pelan. Seseorang yang mencari, bukan seseorang yang tahu.
Berhenti tepat di depan pintu.
Ezra menahan napas. Di sebelahnya, perempuan itu juga berhenti bernapas, tapi tidak seperti orang yang panik. Ada perhitungan di dalam diamnya, seperti seseorang yang sedang menghitung detik, yang menginginkan udara lebih tapi memutuskan bahwa keinginan itu belum prioritas. Ezra memperhatikan itu. Menyimpannya untuk nanti.
Suara dari luar. Dua orang berbicara pelan, tidak terdengar kata-katanya, hanya nada. Berhenti. Bergerak lagi.
Tiga detik. Lima. Sepuluh. Dua puluh.
Langkah menjauh.
Baru saat itu Ezra membiarkan punggungnya menyentuh tembok. Dan di situlah ia menyadari, betapa tegangnya ia berdiri sebelumnya, betapa lama ia menahan tubuhnya tanpa bersandar pada apa pun.
“Siapa kamu,” bisiknya.
“Anya.”
“Siapa yang mengejar kita.”
Anya tidak menjawab. Tidak langsung.
Di dalam gudang yang gelap, Ezra mendengar napasnya sendiri, dan di sebelahnya, napas yang terlalu panjang untuk sekadar menarik udara.
“Intelijen Saraya,” kata Anya akhirnya. “Saya tahu mereka karena saya pernah bekerja untuk mereka.”
Gelap di bawah tanah tidak berubah. Ezra membiarkan kalimat itu duduk di udara pengap itu beberapa detik.
“Kamu intel Saraya.”
“Mantan. Saya membelot.”
“Kenapa malam ini.”
“Karena ada operasi tiga hari lagi. Penangkapan massal.” Tangannya bergerak ke saku. Saat ia mengeluarkannya, Ezra melihat USB kecil, tidak lebih besar dari ruas jari, tidak mencolok, persis seperti yang akan ia bawa sendiri kalau ia membawa sesuatu yang tidak ingin dilihat orang. “Keluarga-keluarga perlawanan. Ratusan nama. Kalau ini sampai sebelum operasi dimulai, mereka bisa dievakuasi.”
Ezra menatap USB itu dalam gelap. Hanya terlihat siluetnya dari cahaya tipis ventilasi. Ia teringat tangan Anya yang tersembunyi di bawah jaket tadi, matanya yang memindai dalam pola. Amatir yang terlalu terencana untuk benar-benar amatir. Sekarang mulai masuk akal.
“Kamu tahu ada seseorang yang menunggu konfirmasi kamu sampai,” kata Ezra. Bukan pertanyaan.
Anya diam sebentar. “Ada seseorang di Kosamaya yang tahu saya datang malam ini. Kalau saya tidak sampai, ia yang tahu ke mana mencari.”
Ezra mencatat itu. Seseorang di Kosamaya. Jaring pengaman yang tidak ia sebut lebih dari itu, tapi dari nada bicaranya jelas jaring itu nyata, dan Anya sudah cukup lama merencanakan ini untuk memperhitungkan kalau ia tidak sampai.
“Saraya pasang hadiah berapa untuk kamu?”
“Lima puluh ribu Kosa.”
Mati atau hidup. Ezra sudah terlibat dari momen SUV itu melihatnya di pos pemeriksaan bersama Anya. Mundur sekarang artinya tetap mati, hanya untuk alasan yang jauh lebih kecil dari lima puluh ribu Kosa.
“Rumah Aman Tanjung. Tepi timur. Kita pergi sekarang.”
“Terima kasih—”
“Jangan. Malam belum selesai.”
✦ ✦ ✦
BABAK DUA: ESKALASI
IV. Pukul 21.30
JEMBATAN Pontus Vetus di utara kota, lebih tua dari semua pos pemeriksaan resmi, temboknya retak-retak dan lampunya cuma satu dari tiga yang masih menyala. Angin dari sungai memba
]+{_/’0p.9o,8m765432` q`wa bau lumpur dan sesuatu yang lebih tua dari konflik ini, tanah yang sudah terlalu lama menyimpan air. Penjaganya biasanya setengah mengantuk dan seratus persen bersedia lupa melihat seseorang lewat dengan harga yang masuk akal.
Riko berdiri di tengah jembatan. Ezra tidak pernah melihat Riko berdiri tegak sebelumnya. Radio di pinggangnya, baru. Ia menatap Ezra dengan tatapan yang sudah tahu, yang tidak ingin tahu.
Ezra tetap berjalan. Mengurangi jarak sambil membaca.
“Riko.”
“Malam, Ez.” Terlalu datar. Tidak ada komentar sinis. Tidak ada candaan.
“Kita sudah lakukan ini puluhan kali.”
“Malam ini tidak bisa.” Matanya bergerak ke Anya, berhenti terlalu lama. “Ada perintah dari atas. Tidak ada yang bisa lewat.”
“Berapa.”
“Bukan soal harga, Ez.”
Ezra menatapnya. Riko yang selalu bilang semuanya soal harga, dan sekarang tidak. Sesuatu sudah berubah. Bukan di ucapannya. Di caranya berdiri.
“Davan pasang hadiah?” tanya Ezra pelan.
Riko tidak menjawab. Yang artinya ya.
Tangannya perlahan bergerak ke radio.
Ezra bergerak sebelum pikirannya sempat mengejar. Tangannya memegang pergelangan Riko, radio belum sampai ke mulutnya. Riko lebih berat, tapi tidak lebih cepat.
“Berapa yang Davan tawarkan.”
“Lima puluh ribu Kosa.” Napas Riko berat. “Hidup atau mati.”
Lima puluh ribu Kosa. Angka yang sama dengan hadiah untuk Anya. Riko tahu siapa yang ia cari sebelum Ezra tiba. Seseorang sudah membocorkan dan bocoran itu datang dari sisi perlawanan, dari seseorang yang tahu rencana malam ini sejak sebelum Ezra berangkat. Ezra tidak tahu siapa. Belum. Tapi lingkarannya kecil.
Di kejauhan, lampu sorot kendaraan bergerak ke arah jembatan.
Ezra melepas Riko.
“Maaf.”
Riko tidak bergerak. Tidak menghalangi, tidak memberi jalan. Tangannya turun dari radio, pelan, seperti orang yang sudah memilih dan tahu ia akan menyesalinya, tapi tidak cukup untuk mengubah pilihan. Ezra tidak bertanya. Ia sudah membaca jawabannya di bahu Riko yang turun setengah sentimeter. Riko tidak akan menelepon. Bukan karena berani. Karena ada sesuatu yang lebih tua dari ketakutan. Dan malam ini, di jembatan yang lampunya tinggal satu, sesuatu itu menang tipis.
Mereka berlari.
✦ ✦ ✦
V. Pukul 22.15
MEREKA menyusuri tepi sungai ke arah utara dalam gelap. Rerumputan tinggi di tepi air, tanah berlumpur yang membuat setiap langkah berbunyi lebih keras dari yang diinginkan. Di belakang, lampu sorot masih berputar di sekitar jembatan. Di atas, langit bersih seperti langit di atas kota yang sudah lama tidak mampu membeli cukup lampu untuk mengusir bintang.
Pos pemeriksaan utara, terlalu jauh dan terlalu ramai. Dermaga resmi, tidak mungkin. Yang tersisa hanya satu opsi yang sudah lama tidak Ezra pertimbangkan karena kondisinya.
Ia belok ke kiri, turun ke tepi air, masuk ke balik semak besar yang separuhnya sudah mati.
Di balik semak, perahu.
Kayu yang sudah tidak muda, cat yang sudah tidak ada, dasar yang pasti lembap. Ezra mendorong sisinya dengan kaki, tidak langsung tenggelam. Untuk standar malam ini, itu cukup.
“Masuk.”
Anya menatap perahu lalu sungai lalu Ezra. “Itu layak pakai?”
“Tidak terlalu. Tapi kita tidak punya pilihan lain.” Ezra mendorong perahu ke air. “Masuk sebelum lampu sorot itu putar ke sini.”
Mereka masuk. Perahu bergerak goyah, tidak meyakinkan, tapi tidak tenggelam. Ezra mengambil dayung yang lebih mirip papan rusak, mulai mendayung ke timur.
Di bawah perahu, arus mendorong dengan sabar. Lampu sorot dari tepi barat mulai menyapu permukaan air. Ezra tidak melihat ke belakang. Bau sungai sudah terlalu dikenal untuk diingat. Ia hanya mendayung. Malam ini bukan malam untuk menghitung berapa banyak yang sudah tidak sampai.
Di tengah sungai, lampu dari tepi timur menyapu permukaan air.
Patroli.
Suara dari timur. “BERHENTI! SIAPA DI SANA!”
Menjawab dari perahu di tengah malam tidak pernah aman. Ezra tetap mendayung.
Tembakan, ke udara. Bukan ramah. Peringatan yang bilang, jawab atau berikutnya bukan ke udara.
“BERSAHABAT!” Ezra berteriak ke timur, mendayung lebih keras. “JANGAN TEMBAK!”
Tidak ada jaminan mereka dengar. Tidak ada jaminan mereka percaya.
“Rebah di perahu,” kata Ezra ke Anya. “Sekarang.”
Anya rebah. Perahu goyang berbahaya.
Tembakan kedua, lebih dekat, menghantam air tiga meter di kiri mereka. Ezra mendayung seperti orang yang telah memutuskan untuk tidak berpikir dan hanya bergerak. Di suatu titik antara tembakan pertama dan kedua, ia berhenti menghitung apakah ini masuk akal dan mulai mendayung karena Anya rebah di perahu itu dan tiga meter artinya terlalu dekat.
Haluan menyentuh tanah berlumpur. Ezra melompat ke lumpur setinggi pergelangan kaki, menarik tangan Anya.
Pergelangan kaki Anya menyangkut di tepi perahu. Ia jatuh dengan lutut di lumpur. Ezra menariknya berdiri, di belakang mereka perahu sudah mulai tenggelam perlahan, dan dari arah sungai suara dayung patroli semakin dekat.
“Jalan. Tidak bisa berhenti.”
“Kakiku—”
“Aku tahu. Jalan dulu.”
Mereka masuk ke semak tepi timur, ke dalam gelap.
✦ ✦ ✦
VI. Pukul 23.00
DI BALIK tembok runtuh setinggi dada, mereka mendengarkan patroli menepi dan mulai menyisir tepi sungai dengan senter.
Napas Anya tidak teratur, ia mencoba menyembunyikan rasa sakit di kakinya.
“Bisa jalan?”
“Tidak ada pilihan yang aku mau ambil selain iya.”
Senter patroli bergerak menjauh ke arah lain.
Ezra mengangkat kepala untuk orientasi.
Cangkang. Malam di sini tidak berdecit seperti tepi barat. Tidak ada mesin kartu, tidak ada radio tentara. Hanya suara-suara yang lebih tua. Anjing di kejauhan, dan dari suatu tempat yang tidak bisa ditentukan arahnya, seseorang menggeser kursi di atas lantai. Hidup kecil yang terus berjalan di balik tembok, tidak peduli malam apa yang lewat di luar.
Di sini tidak ada yang repot menutupi bekas. Gedung yang setengah roboh dibiarkan setengah roboh, graffiti bukan dicat ulang tapi ditambahkan berlapis-lapis, cahaya-cahaya kecil di balik jendela yang ditutup kain. Orang-orang yang masih hidup di sini, bukan bertahan hidup dalam arti pasif, tapi hidup yang membutuhkan definisi ulang kata itu, tapi tetap nyata.
Ezra pernah berpikir tepi timur terlihat seperti kekalahan. Sekarang ia tidak yakin lagi siapa yang kalah di sini dan siapa yang hanya diam lebih lama dari biasanya.
“Kita masih jauh dari Tanjung?” tanya Anya.
“Lima belas blok. Lewat jalan yang aku tahu.”
Mereka mulai berjalan. Empat blok pertama dalam diam. Bukan diam yang canggung, tapi diam dua orang yang sudah kehabisan energi untuk berbicara dan sekarang menyimpan sisanya untuk berjalan. Trotoar di sini tidak rata, ubin yang terangkat oleh akar pohon yang tumbuh tanpa ada yang mengurus. Anya berjalan pincang, menyesuaikan diri dengan pergelangan kaki kanan yang tidak lagi sama.
Ezra memperlambat langkahnya sedikit. Tidak banyak. Cukup.
Di ujung blok ketiga, ada warung yang masih buka, hanya lampu minyak dan suara radio kecil yang memainkan sesuatu yang terlalu jauh untuk dikenali lagunya. Penjualnya tidak menoleh saat mereka lewat. Di Cangkang, orang yang berjalan malam hari adalah bagian dari pemandangan, bukan pertanyaan.
“Kamu tahu jalan ini dari hafalan atau dari pernah lari sebelumnya?” tanya Anya.
“Keduanya. Tapi selalu yang pertama sebelum yang kedua.”
Anya diam sebentar. “Berapa lama kamu jadi fixer?”
“Tiga tahun.”
“Dan sebelumnya?”
Ezra tidak menjawab langsung. Di depan, gang yang perlu mereka ambil ada dua blok lagi.
“Sebelumnya aku di sisi yang punya seragam.”
Anya tidak mengejar. Mungkin karena ia mengerti ada pertanyaan yang jawabannya sudah cukup dengan tidak dijawab lebih jauh. Atau mungkin karena jawabannya tidak terlalu mengejutkan, tidak untuk seseorang yang sampai tiga hari lalu juga ada di sisi yang punya seragam.
Mereka belok ke gang yang lebih sempit, lebih gelap. Tanjung masih delapan blok. Cukup dekat untuk mulai memikirkan apa yang menunggu di sana. Cukup jauh untuk masih bisa salah.
✦ ✦ ✦
VII. Pukul 00.30
PATROLI menemukan mereka di gang sempit dua blok setelah keluar dari semak sungai. Empat orang dengan senter yang langsung ke wajah Ezra.
“Berhenti di situ. Tangan kelihatan.”
Ezra mengangkat tangan. Anya juga, satu tangan lebih lambat karena kaki yang tidak bisa lagi diabaikan.
“Gama.” Ezra mengenali siluet komandannya. Pernah bertemu sekali, konteks yang tidak menyenangkan tapi tidak berakhir buruk. “Ezra Hassan. Pernah bantu Komandan Reza kirim obat ke klinik timur laut, dua tahun lalu.”
Senter sedikit turun. Tapi tidak banyak.
“Ezra Hassan.” Gama tidak bergerak. Suaranya datar, nada orang yang sedang menimbang, bukan orang yang sudah memutuskan. “Apa yang kamu lakukan di sungai tengah malam.”
“Bawa seseorang ke Tanjung. Penting.”
Mata Gama bergerak ke Anya. Lumpur di lututnya, beratnya yang bertumpu di satu sisi, jaket abu-abu yang basah dari sungai. Tangan Ezra yang masih terangkat tapi sudah tidak sepenuhnya tegang.
“Siapa dia.”
“Biarkan saya yang jawab.” Anya berbicara sebelum Ezra sempat. “Anya. Sampai tiga hari lalu, analis di Intelijen Saraya. Saya membelot. Saya punya data operasi penangkapan massal yang dijadwalkan tiga hari lagi, nama, lokasi, waktu. Kalau ini sampai malam ini, ada waktu untuk evakuasi.”
Gama menatapnya. Tidak langsung percaya, orang yang langsung percaya di posisi Gama sudah lama tidak hidup di posisi itu.
“Saraya jual cerita pembelot dua kali sebulan.”
“Kalau ini cerita palsu, kenapa Saraya mengerahkan dua unit untuk mengejar saya dari Barat-Tiga sampai ke sini?”
Dari arah barat, di kejauhan, lampu sorot kendaraan menepi di tepi sungai dan mulai memindai dari jarak jauh.
Gama melihat ke sana. Diam selama beberapa detik yang terasa lebih panjang dari ukurannya. Ezra bisa melihat Gama menghitung, bukan hanya apakah cerita Anya masuk akal, tapi semua yang akan datang setelahnya. Kalau ini jebakan, berapa yang ikut jatuh. Kalau ini nyata dan dibiarkan lewat, berapa yang selamat. Kalau ini nyata dan tidak dibiarkan lewat, berapa yang tidak. Orang seperti Gama tidak membuat keputusan dari satu variabel. Mereka membuat keputusan dari semua variabel sekaligus dan hidup dengan margin kesalahannya.
Matanya kembali ke Anya. Ke lumpur di lututnya. Ke beratnya yang bertumpu di satu kaki. Lalu ke Ezra.
“Kamu tahu jalan ke Tanjung?”
“Ya.”
“Pergi. Langsung.” Gama memberi jalan, menggeser satu langkah ke samping, cukup. “Kalau ini jebakan—”
“Aku yang tanggung.”
Gama tidak menjawab. Tapi diamnya berbeda dari diam Riko di jembatan. Bukan penolakan untuk memilih, tapi penerimaan dari konsekuensi pilihan yang sudah dibuat.
Ezra dan Anya melewati mereka dan masuk ke kegelapan di depan.
✦ ✦ ✦
VIII. Pukul 02.00
DI BAWAH kanopi bangunan kosong yang atapnya setengah runtuh, lima blok dari Tanjung, Anya tidak bisa lagi berpura-pura tidak apa-apa. Ia bersandar ke tembok dan menurunkan berat ke sisi yang sehat. Dalam cahaya redup lampu jalan, Ezra bisa melihat ia menahan ekspresi, dua alis yang hampir bertemu tapi tidak sampai.
“USB itu,” kata Anya. “Ada lebih dari yang aku bilang.”
Ezra menatapnya. Tidak bicara.
“Jadwal operasi. Daftar penangkapan.” Ia menurunkan suaranya. “Dan daftar informan. Nama, foto, lokasi. Transkrip laporan mereka ke Saraya. Selama bertahun-tahun.”
Ezra tidak bergerak. Sesuatu di dalam dadanya bergerak pelan, bukan kaget. Konfirmasi. Riko di jembatan sudah tahu. Bocoran malam ini datang dari dalam. Seseorang sudah tahu Anya datang sebelum ia berangkat.
“Berapa nama.”
“Tujuh belas. Mungkin lebih.”
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau daftar itu sampai ke tangan yang salah?” Suara Ezra lebih dingin dari biasanya. “Bukan cuma yang tujuh belas itu. Keluarga mereka. Tetangga. Orang yang namanya masuk karena dendam atau kesalahan. Dalam satu malam, semua orang akan menyebutnya keadilan karena lebih mudah dari menyebutnya pembantaian.”
“Kamu pikir aku tidak tahu?” Anya menatapnya. Matanya tidak mundur. “Tiga bulan aku tidur dengan daftar itu di bawah bantal. Tiga ratus nama di operasi penangkapan, Ezra. Bukan abstraksi. Orang yang akan ditangkap, disiksa, dieksekusi. Kamu mau bilang itu lebih bisa diterima karena pelan?”
“Kamu tahu bedanya? Kalau itu tetap tersembunyi, darahnya menetes. Kalau daftar itu tersebar, darahnya mengalir sekaligus. Dan tidak ada yang akan hitung berapa yang tidak bersalah ikut terbawa.”
Anya menatapnya. Matanya tidak mundur.
“Tiga bulan saya tidak tidur nyenyak karena ini. Saya tahu persis apa yang mungkin terjadi.” Diucapkan bukan sebagai pembelaan diri, tapi sebagai seseorang yang sudah melewati fase itu dan sampai di sisi lain. “Tapi tiga ratus nama di daftar penangkapan itu nyata. Mereka akan ditangkap, disiksa, beberapa dieksekusi dalam tiga hari. Itu juga nyata, dan itu pasti. Pilih mana.”
Ezra tidak punya jawaban yang jujur.
Ia bersandar ke tiang kanopi dan membiarkan punggungnya menyentuh besi dingin yang berkarat, dingin yang masuk sampai ke tulang bahu, tidak bisa diabaikan. Ia membiarkannya. Kadang-kadang tubuh perlu sesuatu yang konkret untuk dipegang saat kepala tidak punya pegangan.
“Siapa di perlawanan yang tahu kamu datang malam ini?”
“Hanya Rafi. Dan siapa pun yang Rafi beritahu.”
“Komandan Reza?”
“Seharusnya. Rafi bilang ia yang koordinasi.”
Ezra menatap gang di depan. Riko sudah tahu siapa yang dicari sebelum Ezra tiba, bocoran itu datang dari dalam, dari seseorang di lingkaran yang tahu rencana malam ini. Rafi, atau siapa pun di atas Rafi. Tapi Rafi yang membawa pekerjaan ini ke Ezra. Rafi yang memilih Ezra untuk malam ini. Kalau Rafi bagian dari kebocoran itu, kenapa ia yang memilih Ezra, seseorang yang sudah tiga tahun di zona abu-abu dan tidak mudah dihentikan di tengah jalan?
Ezra tidak punya jawabannya. Dan ketidaktahuan itu sendiri adalah sesuatu yang perlu ia bawa ke Tanjung, bukan sesuatu yang bisa ia selesaikan malam ini.
“Jalan,” katanya. “Tapi sebelum masuk ke Tanjung, ada yang perlu kita waspadai.”
✦ ✦ ✦
IX. Pukul 03.00
EMPAT blok dari Tanjung.
Mereka keluar dari gang ke jalan yang sedikit lebih lebar, dan berhenti. Komandan Zafran berdiri di tengah jalan dengan tiga orang di belakangnya. Bukan seragam lapangan, jaket sipil, tapi sikap berdirinya tidak bisa disembunyikan oleh pakaian apa pun.
Ezra pernah bertemu Zafran dua kali selama masih jadi kurir. Garis keras. Pragmatis. Orang yang percaya perang ini sudah terlalu lama karena orang-orang yang seharusnya memimpin terlalu banyak pertimbangan. Tidak pernah ada yang bilang hal buruk tentang Zafran di depan Ezra. Tapi tidak ada yang bilang hal baik juga. Yang ada hanya keheningan singkat setiap kali namanya disebut, bukan takut, lebih seperti berhati-hati. Jenis kehati-hatian yang lahir dari tahu, bukan dari tidak tahu.
“Ezra.” Nada orang yang sudah tahu. “Sudah lama.”
“Zafran. Kamu jauh dari markas malam ini.”
“Kamu juga.” Matanya ke Anya, dan di situlah ada sesuatu yang aneh. Tatapan Zafran terlalu familiar, seperti orang yang sudah melihat fotonya sebelum ini. “Bawa dia ke sini. Ada perubahan rencana, aku yang tangani dari sini.”
“Dia sudah mau ke Tanjung.”
“Tidak perlu sampai Tanjung.” Satu langkah maju. “Intel yang dibawa pembelot tepat sebelum operasi besar terlalu berisiko. Kita tidak bisa biarkan itu masuk ke pimpinan sebelum diperiksa. Aku yang tangani pemeriksaan.”
“Kalau itu jebakan, kenapa Saraya mengejar dia sepanjang malam?”
“Karena itu bagian dari cerita.” Zafran menatapnya dengan sabar yang terasa dilatih. “Kamu fixer, Ezra. Tugas kamu hanya mengantar barang. Ini bukan wilayah kamu.”
Ezra tidak menjawab langsung. Ia membiarkan kalimat itu duduk sebentar dan di dalam diam itu, ia menyusun ulang semua yang sudah ia kumpulkan malam ini. Bocoran dari dalam yang tahu rencana sejak awal. Riko di jembatan yang sudah tahu wajah Anya sebelum Ezra tiba. Lingkaran kecil yang tahu. Dan sekarang Zafran, jauh dari markas, malam ini, empat blok dari Tanjung.
Kalkulasi, bukan keberuntungan. Tapi kalkulasi yang masih bisa salah.
“Anya.” Ezra tidak menoleh ke arahnya tapi berbicara cukup keras untuk didengar. “USB itu, ada salinan?”
Jeda singkat. “Ada. Di tempat yang berbeda pada tubuhku sejak awal. Saya tidak sepenuhnya percaya siapa pun yang mengantar saya.”
Dan di situlah Ezra melihatnya.
Pada Zafran, saat mendengar kata salinan, bukan lega karena intel aman di tempat lain, bukan khawatir karena berarti informasi bisa tersebar. Sesuatu yang lebih tajam dari keduanya. Kalkulasi ulang yang terjadi di belakang mata yang berusaha terlihat datar.
Panik yang dikontrol.
Ezra tidak yakin. Ia tahu ia tidak yakin. Tapi semua yang sudah ia kumpulkan malam ini menunjuk ke arah yang sama. Dan taruhan ini punya dua kemungkinan, kalau ia salah, malam ini selesai di sini. Kalau ia benar dan diam, malam ini juga selesai di sini, hanya untuk semua orang yang namanya ada di USB itu.
“Daftar informan.” Pelan. “Nama kamu ada di sana juga?”
Zafran tidak menjawab.
Tapi Ezra melihatnya, bukan di wajahnya, di bahunya. Sebelum semua kembali datar, ada satu detik di mana bahu Zafran naik setengah sentimeter. Seperti orang yang baru menyadari ia sudah tidak punya kendali atas apa yang terjadi selanjutnya.
Ezra tidak yakin. Tapi malam ini sudah terlalu panjang untuk ragu.
“Tangkap mereka.”
Tiga orang bergerak. “Perempuannya jangan sampai lepas. Salinannya ada di badannya. Tapi kalau Ezra sampai ke Reza, semuanya selesai.”
Ezra mengerti dalam satu detik. Yang perlu dihentikan adalah informasi itu sampai ke Komandan Reza, dan satu-satunya orang yang tahu jalan tercepat ke Tanjung malam ini adalah Ezra.
Ia mendorong Anya ke kiri, ke gang sempit yang sudah ia lihat sejak tadi. “Tanjung. Pintu hijau lantai dua. Ketuk tiga kali. Temui Reza. Pergi sekarang.”
“Kamu—”
“Pergi.”
Anya berlari, pincang, tapi tidak berhenti. Hilang ke kegelapan.
Ezra berbalik.
Tiga orang sudah hampir sampai ke tempatnya berdiri. Di belakang mereka, Zafran diam di posisinya, menonton seperti orang yang sudah menyerahkan pekerjaan kasar kepada orang lain sejak lama.
Ezra berdiri di situ sedetik lebih lama dari yang perlu. Bukan karena ragu. Bukan juga karena berani, kata itu terlalu besar untuk apa yang ia rasakan. Yang ia rasakan lebih mendekati ini. Satu-satunya pilihan yang tersisa yang masih bisa ia hidup dengan konsekuensinya, apa pun artinya hidup setelah malam ini.
Malam ini ia sudah melewati terlalu banyak garis yang tidak ingin ia lewati. Tapi di ujung semua itu ada enam puluh delapan nama yang belum tahu ada seseorang malam ini yang berlari di gang berlumpur untuk memastikan mereka masih punya waktu.
Itu cukup.
Ia berlari ke gang sempit di sisi kirinya.
✦ ✦ ✦
X. Pukul 04.30
EZRA berlari.
Bukan karena menang melawan tiga orang, tapi gang sempit menguntungkan orang yang lebih kecil, dan Ezra sudah tiga tahun hidup di kota ini dengan asumsi bahwa suatu hari ia perlu berlari di malam hari dan harus tahu ke mana.
Belokan kiri. Tembok yang bisa dipanjat. Atap rendah. Turun ke gang lain.
Tembakan pertama, meleset. Tembakan kedua mengenai tembok di sebelah kepalanya. Serpihan bata menyayat pipi. Tidak dalam, tapi berdarah.
Ezra terus berlari.
Dari klinik di gang samping, seseorang berteriak, “EZRA APA-APAAN—” tapi ia sudah di ujung gang, belok, dua blok lagi.
Di belakang, langkah semakin jauh. Cangkang adalah labirin. Dan mereka tidak hafal.
Ezra berhenti di balik tumpukan puing. Bersandar. Napasnya tidak mau diatur.
Darah dari pipi menetes ke leher, hangat, asing, kontras dengan udara malam yang mulai dingin. Di tangannya, lecet. Baru ia sadari sekarang.
Tiga tahun netral, hancur dalam satu malam.
Tapi ia berdiri. Dan di suatu tempat ke utara, Anya sedang berlari ke pintu hijau.
Ia mendorong dirinya berdiri dan mulai berjalan ke Tanjung.
✦ ✦ ✦
XI. Pukul 05.30
PINTU hijau. Lantai dua. Tiga ketukan.
Komandan Reza yang membuka, dan ia tidak terkejut. Ketegangan di posturnya menunjukkan ia sudah tahu ada sesuatu berjalan malam ini, meski tidak tahu persis apa.
“Anya sudah di dalam,” kata Komandan Reza. “Ceritakan.”
Ezra menceritakan semua. Rafi, Riko, sungai, Gama, Zafran. Terutama Zafran. Komandan Reza mendengarkan tanpa interupsi. Waktu nama Zafran disebut, ada sesuatu berkilas di matanya. Bukan terkejut. Konfirmasi dari sesuatu yang sudah lama jadi pertanyaan.
“USB-nya sudah di sini. Anya bawa salinan tersembunyi sejak awal karena ia tidak sepenuhnya percaya siapa pun yang mengantar.” Komandan Reza hampir tersenyum. “Perempuan yang pintar.”
“Zafran ada di daftar?”
“Kita akan tahu dalam beberapa jam.” Komandan Reza menatap Ezra. “Kamu baik-baik saja?”
Ezra melihat tangannya. Sayatan di pipi. Memar di siku. Sepatu masih berlumpur.
“Tidak terlalu.”
“Duduk. Ada teh.”
✦ ✦ ✦
EPILOG: SATU HARI KEMUDIAN
XII. Klinik. Pagi hari.
SAYATAN di pipi Ezra sudah diplester, terlalu kecil untuk dijahit, cukup besar untuk meninggalkan bekas beberapa minggu. Lenna memeriksanya efisien, tidak mengundang percakapan lebih dari yang perlu.
“Lain kali,” kata Lenna tanpa menoleh, “kalau kamu lari dari tembakan di gang belakang klinik saya, minimal mampir bilang tidak apa-apa supaya saya tidak harus cek berita dulu.”
“Maaf.”
“Jangan bilang maaf. Jangan lakukan lagi.”
Ia pergi ke pasien lain.
Anya duduk di kursi di sudut. Pergelangan kakinya sudah dibalut dengan benar.
“Enam puluh delapan orang,” kata Anya. “Dievakuasi sebelum operasi dimulai.”
Ezra menatapnya. “Dari tiga ratus?”
“Tiga ratus di daftar, tapi sebagian besar sudah pindah atau tidak bisa dilacak. Enam puluh delapan yang berhasil kami hubungi dan pindahkan tepat waktu.” Ia berhenti, dan Ezra bisa melihat ia menelan sesuatu sebelum melanjutkan. “Lima yang tidak bisa.”
“Enam puluh delapan hidup yang seharusnya tidak,” kata Anya lagi, kali ini lebih pelan.
Ezra menatap langit-langit. Lima yang tidak bisa dihubungi.
Ia sudah menghitung mereka berkali-kali, di dalam kepala, di atas kertas, dalam segala cara yang bisa ia pikirkan untuk membuat angka itu berarti sesuatu yang bisa ia terima. Tapi tidak ada yang berhasil. Setiap kali ia mencoba memindahkan lima itu ke tempat yang lebih mudah, ke kolom ‘tidak cukup waktu’ atau ‘di luar kendali’, angka itu selalu kembali, utuh, tidak berkurang.
Ia bahkan tidak bisa membagi perhatiannya. Setiap kali ia memikirkan enam puluh delapan yang selamat, bayangan lima itu selalu ada di sampingnya, diam, menunggu, seolah berkata, kami juga bisa diselamatkan kalau saja ada yang tahu di mana kami berada.
Ezra tidak tahu apakah itu benar, atau hanya caranya sendiri untuk menghukum dirinya karena tidak bisa menyelamatkan semua orang.
“Zafran?”
“Dikonfirmasi di daftar.” Anya tidak mengubah nadanya. “Komandan Reza bilang ada proses. Investigasi untuk semua tujuh belas nama sebelum keputusan apa pun. Zafran sendiri belum ditangkap, kalau bergerak terlalu cepat, ia bisa hilang atau memperingatkan yang lain. Reza mau semua nama dikunci dulu sebelum ada yang tahu mereka sudah diketahui.”
“Kamu percaya prosesnya tidak bocor ke Zafran dulu.”
“Saya percaya Komandan Reza.” Anya menatapnya. “Saya tahu apa yang kamu pikirkan. Bahwa selama Zafran belum ditangkap, ia masih bisa bergerak, masih bisa berbahaya. Dan kamu benar.”
Ezra tidak menjawab. Tapi Anya sudah melihatnya, ia menoleh ke jendela, tangannya berhenti di atas lutut.
“Tapi menangkap tujuh belas orang sekaligus butuh waktu yang tepat,” lanjut Anya. “Kalau terburu-buru, yang lolos lebih berbahaya dari yang tertangkap. Saya sudah membuat pilihan untuk percaya ada pendekatan yang lebih baik daripada bergerak reaktif. Kalau saya salah, saya salah. Tapi kalau saya tidak percaya sama sekali, kenapa saya di sini?”
Ezra tidak menjawab langsung. Anya benar, ia tahu apa artinya ‘proses’ dalam struktur bersenjata bawah tanah. Dan Anya juga benar bahwa tidak ada pilihan yang bersih di sini. Percaya atau tidak percaya, keduanya punya harga. Yang berbeda hanya siapa yang membayarnya.
“Kamu benar,” kata Ezra akhirnya.
Tapi nada suaranya tidak meyakinkan siapa pun, termasuk dirinya sendiri. Anya, yang sudah cukup lama bekerja di intelijen untuk membaca orang, tahu bahwa ‘kamu benar’ dari seseorang yang tidak percaya pada proses adalah cara lain untuk mengatakan ‘aku tidak setuju, tapi aku lelah.’
Ia tidak mengatakan itu. Anya juga tidak menanyakannya. Mereka berdua tahu, beberapa pertanyaan tidak punya jawaban yang jujur malam ini, dan mungkin tidak akan punya jawaban yang jujur besok juga.
Lenna masuk sebentar, memeriksa plester di pipi Ezra dengan gerakan cepat yang sudah hafal, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Tapi sebelum keluar, ia berhenti sejenak di ambang pintu, seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan. Kemudian ia melanjutkan jalan.
Anya berdiri. Meletakkan amplop di kasur. “Delapan ribu Kosa. Seperti yang dijanjikan.”
Ezra menatap amplop itu.
“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanya Anya.
Ezra menatap amplop di tangannya. “Belum tahu.”
“Balik ke fixer?”
“Mungkin.” Ia berhenti. “Tapi mungkin jenis yang berbeda.”
Anya tersenyum, bukan senyum yang percaya sepenuhnya, tapi senyum yang mengakui ia mengerti. Ia mengangguk, lalu berjalan ke pintu. Di ambang, ia berhenti.
“Kalau kamu butuh sesuatu,” katanya tanpa menoleh, “kamu tahu di mana mencari saya.”
Ezra duduk sendirian di klinik yang berbau antiseptik. Cahaya pagi masuk dari jendela kecil di atas meja obat. Bukan cahaya yang dramatis, hanya cahaya biasa yang datang setiap pagi, sama seperti sebelumnya, tanpa peduli semalam ada berapa keputusan yang dibuat di gang-gang gelap atau berapa banyak nama yang berhasil dievakuasi.
Enam puluh delapan orang sudah dievakuasi. Lima yang tidak bisa dihubungi.
Zafran dikonfirmasi. Tujuh belas nama dalam proses yang ia tidak tahu artinya apa dan mungkin tidak akan pernah tahu.
Ia membiarkan semua itu tinggal bersamanya cukup lama, bukan untuk menghitung ulang, bukan untuk mencari alasan, hanya untuk memastikan ia tidak berpaling sebelum semuanya terasa seberat yang memang seharusnya. Tidak ada gunanya melarikan diri dari beban yang sudah ia pilih untuk dipikul.
Ezra Hassan bangkit. Amplop delapan ribu Kosa ia selipkan ke saku jaketnya, berat yang berbeda dari berat yang tadi ia duduki, tapi berat yang tetap ia rasakan. Ia berjalan ke pintu klinik, dan di ambang, ia berhenti sejenak. Dari sini ia bisa melihat jalan yang mulai ramai, orang-orang yang tidak tahu tentang enam puluh delapan atau lima atau Zafran, yang hanya menjalani pagi mereka seperti biasa.
Ia melangkah keluar. Pagi sudah dimulai tanpa menunggu persetujuannya, dan Ezra Hassan tidak punya alasan untuk menunggu juga.
— SELESAI —
CATATAN PENULIS
Enam puluh delapan orang selamat malam itu.
Lima yang tidak bisa dihubungi.
Dan satu pengkhianat yang masih berkeliaran, Zafran, yang namanya ada di daftar informan, tapi belum ditangkap.
Ezra kembali ke zona abu-abu. Anya melanjutkan jalannya. Tapi malam itu bukan akhir dari segalanya, hanya awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karena di Cangkang, ada operasi yang bergerak dalam tiga hari. Ada daftar dua ratus delapan puluh tujuh nama yang terbagi dalam dua kode: T dan N. Dan ada seseorang yang datang dari Kosamaya dengan data yang tidak seharusnya ia miliki. Kisah Ezra dan Anya adalah bagian dari jaring yang lebih besar.
Novel ini menceritakan keseluruhannya, tentang pengkhianatan, kepercayaan, dan satu malam di mana segalanya dipertaruhkan.
Cara Kamu Menyebut Namanya. Sebuah novel tentang keputusan yang tidak pernah bersih, di kota yang tidak pernah memberi pilihan mudah.
Baca Novel Sekarang
Komentar