BABAK SATU: KEDATANGAN
I.
LIMA tahun, dua bulan, tiga belas hari.
Halim menghitung waktu setiap pagi. Lima tahun, dua bulan, tiga belas hari. Bukan karena angka itu berguna, tapi karena ritual adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan tanpa harus punya alasan.
Tangannya bergerak melingkar di atas meja, membasahi dan mengeringkan permukaan yang sama selama dua puluh tahun, sampai kayu itu menyimpan alur telapaknya seperti sungai menyimpan dasar batunya. Noda di titik yang sama selalu kembali. Ia sudah berhenti bertanya mengapa.
Di luar, Sungai Marga mengalir tanpa pernah berhenti. Suaranya sudah menjadi bagian dari dinding, dari udara, dari ruang di antara helaan napasnya, seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar pergi meski ia tidak pernah lagi melihat ke arahnya.
Radio di sudut mengganggu kesunyian pagi dengan laporan tentang peningkatan patroli di jembatan Marga. Halim mematikannya sebelum kalimat selesai. Semakin ketat jembatan, semakin banyak orang yang mencari perahu, dan itu sudah bukan urusannya.
Ia meletakkan kain dan menuang arak ke gelas murahan yang sudah hafal bentuk bibirnya. Tegukan pertama selalu menyengat, tapi ia sudah terbiasa dengan sengatan itu, cukup untuk menuang yang kedua tanpa berpikir.
Fajar menerobos pucat melalui retakan jendela. Bau kretek serta lumpur sungai bercampur dengan aroma kayu tua yang tidak pernah bisa dihilangkan. Seperti segala sesuatu di tempat ini, ia sudah berhenti mencoba.
Hari yang sama lagi. Bersihkan bar. Perbaiki apa yang rusak semalam. Hindari tamu. Dan hindari diri sendiri.
Lalu langkah kaki di tangga depan, seseorang naik ke teras dan berhenti. Di balik pintu kaca buram lobi, sebuah siluet berdiri di ambang. Tubuhnya condong ke depan seperti orang yang sedang menimbang keputusan di tengah gerakan satu kaki yang sudah melangkah masuk, yang lain masih di luar, dan ada jarak yang diciptakan oleh keraguan itu. Halim tidak bergerak dari balik bar, Ia memberi ruang, membiarkan orang itu memutuskan sendiri apakah ia benar-benar ingin masuk.
Lima detik. Sepuluh.
Pintu terbuka. Seorang pemuda melangkah masuk dengan pakaian perjalanan yang rapi meski sudah kusut, seseorang yang masih peduli pada kesan pertama meski sudah berjalan bermalam-malam. Ransel tersampir di satu bahu. Matanya bergerak ke pintu setiap kali ada suara dari luar, tapi ia berdiri di tengah ruangan, tidak dekat dengan pintu keluar, tidak juga dekat dengan bar. Di antara dia dan Halim, ada meja dan kursi yang membentuk batas yang tidak perlu diucapkan.
Pemuda itu melangkah masuk dan matanya bergerak cepat ke sekeliling ruangan. Lalu, dalam gerakan yang hampir tidak terlihat, ia menggeser tali ransel ke sisi lain bahunya. Bukan karena ia ingin keluar. Tapi karena, dari tempat ia berdiri sekarang, ia ingin tahu persis di mana pintu itu berada, dan berapa langkah yang ia butuhkan untuk mencapainya jika suatu saat ia harus. Gerakan itu tidak panik, tidak dramatis, hanya sesuatu yang sudah tidak lagi memerlukan keputusan untuk dilakukan, seperti orang yang sudah terbiasa mengukur jarak sebelum menetap di suatu tempat.
Tapi yang membuat Halim berhenti bukan itu. Ketika cahaya pagi menyentuh wajah pemuda itu dari sudut tertentu, untuk satu detik, kurang dari satu detik, Halim melihat orang lain. Ia melihat sosok yang lebih muda dengan wajah yang lebih putus asa, sosok yang sudah lima tahun tenggelam tapi masih berdiri di sana dengan tetesan air sungai.
Lalu pemuda itu berkedip, menggeser ranselnya, dan bayangan itu menghilang. Ia mendekati meja dan berhenti di depan bar.
“Ada kamar?” Suaranya keluar tenang, dikontrol dengan hati-hati. Seperti seseorang yang sudah berlatih berulang kali agar terdengar tenang.
“Tergantung berapa lama,” kata Halim.
Ia mengambil kartu identitas yang diulurkan pemuda itu. Membacanya pelan, nama, nomor, instansi.
Aron Vale. Kementerian Dalam Negeri, Divisi Analisis Data, Kosamaya.
Vale.
Nama itu menempel di suatu tempat di kepalanya yang sudah lama tidak ia jamah. Seperti bau yang tidak bisa ia ingat dari mana asalnya, tapi begitu tercium, tubuhnya langsung tahu ia pernah berada di dekatnya.
Dari tepi sungai ini? Dari suara seseorang yang tidak sempat ia selamatkan?
Halim menggeleng kecil dan mengembalikan kartu itu, lalu mengambil kunci dari laci sebelum ingatan itu sempat membentuk gambar yang lebih jelas.
“Kamar Tujuh. Lantai dua.”
✦ ✦ ✦
II.
PEMUDA itu naik. Halim berdiri sendirian.
Ia menatap uang di tangannya. Seharusnya aku menolak. Kamar Tujuh terkutuk. Tapi ia tidak pernah menolak. Tidak pernah.
Ibu tua di Kamar Tiga muncul di ambang pintunya lalu memandang ke atas.
“Tamu baru, Halim?” Tanyanya.
“Hanya lewat.”
“Mereka selalu hanya lewat.” Pintu menutup pelan.
Di kamarnya di belakang meja resepsionis, ia membuka laci tempat buku catatan itu masih tersimpan. Kulitnya lembap, halaman-halamannya menempel seperti luka yang tidak pernah kering. Tulisan di sampulnya hampir habis digerus waktu.
Untuk anak-anak di sekolah lama, supaya mereka ingat.
Halim tidak pernah tahu siapa yang menulisnya, atau apakah itu sisa proyek yang belum selesai, atau janji yang tidak sempat ditepati. Ia tidak pernah bertanya sewaktu masih ada kesempatan untuk bertanya. Buku itu tidak pernah ia buka, tapi ia juga tidak pernah bisa membuangnya, dan itu sendiri, ia tahu, adalah jawaban yang tidak perlu ia tuliskan.
Ia menutup laci dan pergi keluar, membiarkan buku itu tetap di tempatnya seperti ia membiarkan segala sesuatu yang tidak sanggup ia hadapi.
✦ ✦ ✦
III.
PAGI menanjak ke siang ketika Halim, yang sedang memperbaiki pipa bocor di bawah wastafel dapur, mendengar langkah kaki mendekat. Pemuda itu muncul tanpa mengetuk, lalu langsung jongkok di sisi berlawanan dan mengamati sambungan yang bocor dengan tatapan yang tidak bertanya, seperti orang yang sudah terbiasa menilai situasi sebelum memutuskan apakah ia bisa membantu.
Halim membuka mulut untuk mengatakan tidak, tapi pemuda itu sudah mengulurkan tangan dan memegangi pipa di titik yang tepat, menahannya agar tidak bergerak saat Halim mencoba mengencangkan mur.
Mereka bekerja dalam diam, diam yang muncul ketika dua orang sama-sama tahu kata-kata tidak akan memperbaiki pipa, dan gerakan tangan mereka sudah cukup untuk saling memahami. Halim mengencangkan mur di sisi kiri. Aron menahan sambungan di kanan agar tidak bergeser. Air yang menetes sejak tadi berhenti, dan pemuda itu masih memegang pipa beberapa detik lebih lama, memastikan tidak ada yang terlewat.
“Sudah lama bocor?” tanyanya, tanpa melepas pandangan dari pipa.
“Tidak tahu,” jawab Halim sambil memutar kunci pas sekali lagi, lebih karena kebiasaan daripada kebutuhan. “Tidak pernah turun memeriksa sampai sudah terlalu parah untuk diabaikan.”
Pemuda itu mengangguk, lalu diam sebentar, dan di dalam diam itu, suaranya berubah menjadi nada yang berbeda ketika ia berkata, “Saya tumbuh besar di sini.” Ia menatap tangannya yang masih basah. “Saya pergi waktu umur saya masih enam belas. Kadang saya tidak yakin apakah masih ada yang hidup dari orang-orang yang saya kenal dulu.”
Halim meletakkan kunci pas ke lantai sebelum menjawab. “Kamu ingat Limina seperti apa?”
Pemuda itu tidak menjawab langsung. Matanya bergerak ke suatu tempat di antara mereka, bukan ke Halim, bukan ke pipa, tapi ke ruang kosong di antara keduanya. “Yang saya ingat, Limina itu... utuh.”
Kata itu menggantung di udara di antara mereka, seperti sesuatu yang terlalu berat untuk dipegang oleh satu orang saja. Halim membiarkannya di sana. Lalu ia berdiri, tulang pinggulnya berderak, dan pemuda itu ikut berdiri, mengusap tangannya ke celana.
“Terima kasih sudah membantu,” kata Halim.
“Anda tidak mengizinkan saya,” jawab pemuda itu dengan senyum yang hampir muncul. “Saya hanya ikut saja.”
Sudut bibir Halim bergerak sedikit, hampir seperti senyum tapi tidak sampai, dan itu cukup untuk momen itu.
✦ ✦ ✦
BABAK DUA: PENYEBERANGAN
IV.
SORE hari. Halim duduk di bar sambil merokok. Pemuda itu duduk di depannya tanpa diundang. Langsung. Seperti seseorang yang sudah menghabiskan energinya untuk basa-basi di tempat lain dan tidak punya sisanya untuk itu.
“Saya mencari seseorang. Perempuan. Medis. Bekerja di klinik bawah tanah, tepi timur, di sekitar Kawasan Lama.”
Halim tidak bergerak. “Kamu pemerintah?”
Tangan pemuda itu rata di atas meja. Dua detik berlalu, bukan jeda yang lahir dari keraguan, tapi dari seseorang yang sedang memilih kata dengan hati-hati.
“Apakah itu penting?” Pemuda itu balik bertanya.
Halim menyalakan rokok baru dengan sisa ujung rokok yang lama, lebih cepat dari biasanya, menghancurkan puntung yang masih tersisa sepertiga sebelum waktunya. Ia membiarkan asap keluar pelan. “Dulu penting. Bagi orang terakhir yang saya bantu.”
“Apa yang terjadi pada mereka?”
“Mereka menyeberang. Saya tidak pernah melihat mereka lagi.” Ia mematikan rokok yang baru saja ia nyalakan, masih utuh, seolah ia lupa mengapa ia menyalakannya. Di dalam kepalanya, ia melihat sungai itu lagi, bukan sebagai air, tapi sebagai sesuatu yang mengambil tanpa pernah mengembalikan.
“Saya tidak meminta anda untuk menyelundupkan saya. Hanya, kalau anda tahu di mana seseorang bersembunyi.”
“Tepi timur itu luas. Banyak lubang. Dan banyak orang yang mencari.”
“Saya tahu.” Pemuda itu menghirup napas. “Mereka akan menyerang. Beberapa hari lagi. Mungkin jam.” Ia tidak mengatakan sisanya, tapi Halim mendengarnya di antara kata-kata itu.
Dan saya tidak bisa kehilangan dia lagi.
Halim menatapnya.
“Kalau begitu mengapa kamu di sini?”
“Karena dia ada di sini.” Pemuda itu menjawab. “Dan saya berhutang padanya.”
Halim mematikan rokok. “Saya tidak bisa membantu. Saya sudah selesai dengan semua itu.”
Pemuda itu mengangguk. Berdiri. Ia tidak terburu-buru, bukan karena ia punya waktu, tapi karena ia sudah memperhitungkan kemungkinan ini sejak lama. Punggungnya lurus, tapi Halim melihat sesuatu yang lain. Gerak tangannya menuju saku. Ia tidak menoleh ke pintu sebelum melangkah. Ia sudah memutuskan, dan keputusan itu tidak bergantung pada siapa pun.
“Saya mengerti. Terima kasih.”
Ia pergi. Halim mendengar langkahnya di tangga, teratur, tidak berhenti di mana pun.
Halim sendirian.
✦ ✦ ✦
V.
SORE menjelang malam terdengar ketukan keras di pintu lobi. Ada tiga tentara Saraya. Yang di depan masih muda, kulitnya terbakar matahari, matanya penuh kelelahan yang terlalu tua untuk wajahnya. Yang di belakang lebih tua, bergerak efisien, seperti orang yang sudah terlalu lama menjalankan perintah untuk masih peduli apakah perintah itu masuk akal atau tidak.
“Pemeriksaan penghuni. Kartu identitas.”
Mereka masuk tanpa menunggu izin.
Kamar Tiga: ibu tua. Surat-suratnya lengkap, palsu tapi berkualitas tinggi.
Kamar Lima: pria mabuk. Surat-suratnya asli. Tentara muda itu menatap pria mabuk itu lebih lama dari yang diperlukan. Ada sesuatu yang lewat di wajahnya, pengenalan, mungkin, atau jijik, atau keduanya sekaligus dalam ukuran yang sama. Lalu melanjutkan.
Kamar Tujuh: pemuda itu. Berdiri di ambang pintu dengan kartu identitas yang sudah siap di tangan sebelum mereka sampai.
Tentara muda membolak-balik kartu. “Ada urusan apa seorang analis Kosamaya datang ke Limina?”
“Kerja lapangan. Pengumpulan data tentang dampak ekonomi konflik.”
“Di hotel murahan?”
Halim melihat tangan pemuda itu di sisi tubuhnya. Jari-jarinya tidak bergerak tapi kuku-kukunya sedikit memutih.
“Dia keponakan saya,” kata Halim. “Dari Kosamaya. Menjenguk.”
Tentara muda menatap mereka berdua. Tersenyum, bukan ramah, lebih seperti seseorang yang menemukan celah tapi belum memutuskan apakah akan memasukinya.
“Keponakan yang tidak mirip sama sekali.”
“Dia ikut ibunya. Ibu saya dari Valenz.”
Tentara menatap Halim, lalu pemuda itu, lalu kembali ke Halim. Skeptis tapi tidak cukup untuk menangkap.
“Malam ini ada jam malam. Siapa pun yang berada di jalan setelah gelap akan ditahan. Mengerti?”
“Mengerti.”
Mereka pergi. Suara sepatu boots berat terdengar di tangga. Lalu pintu lobi dibanting. Halim menunggu sampai suara mereka hilang sepenuhnya.
✦ ✦ ✦
VI.
PEMUDA itu turun lalu berdiri di depan bar dengan bahu yang sedikit turun, seperti baru saja ia sadar seberapa tipis es yang sudah ia injak.
“Kenapa?”
Halim menyalakan rokok. Asapnya naik lambat ke langit-langit yang retak. Ia menatapnya, bukan karena ia sedang mencari kata-kata, tapi karena ia tahu kata-kata itu sudah ada dan ia tidak yakin ingin mengucapkannya.
“Karena saya bodoh,” katanya akhirnya. “Dan karena kamu mengingatkan saya pada seseorang yang tidak sempat saya tolong.”
Pemuda itu menatapnya. Kali ini ia tidak bertanya siapa.
“Saya harus menyeberang malam ini.” Pernyataan yang bukan sekadar ultimatum ataupun permohonan. “Sebelum mereka kembali dengan alasan yang lebih baik.”
“Tidak. Jembatan sudah ditutup. Pos pemeriksaan ganda. Siapa pun yang mencoba melewati jembatan setelah jam malam akan ditahan.” Halim menolak.
“Anda dulu memindahkan orang. Saya mendengar tentang anda.”
Halim tidak menjawab langsung. Ia mematikan rokok, bukan karena sudah habis, tapi karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan tangannya. “Halim yang itu sudah mati lima tahun yang lalu.”
“Lalu siapa yang berdiri di depan saya sekarang?”
“Hantunya.”
Pemuda itu menatapnya. Untuk pertama kalinya ada sesuatu yang bukan permintaan di matanya, sesuatu yang lebih dekat ke pengakuan. “Kalau begitu,” katanya pelan, “hantui saya menyeberangi sungai itu.”
“Kamu tidak tahu apa yang kamu minta.”
Pemuda itu diam. Lalu, lebih pelan, “Saya minta anda untuk membantu saya menyelamatkan seseorang sebelum terlambat. Dan saya minta anda karena saya pikir anda tahu rasanya terlambat.”
Halim diam.
“Jadi anda lebih suka tidak melakukan apa-apa?” pemuda itu melanjutkan.
“Lebih baik tidak berbuat apa-apa daripada menyebabkan kerusakan.”
Pemuda itu menatapnya. “Berhenti bergerak dan tenggelam,” katanya pelan, “mungkin tidak terlalu beda.”
Kata-kata itu menggantung di udara. Halim tidak yakin apakah pemuda itu tahu apa yang baru saja ia katakan, atau hanya mengatakan sesuatu yang belum ia pahami. Tapi Halim mendengarnya, seperti orang yang sudah pernah mendengar kata-kata sama di tempat sama, dari orang berbeda, dan tidak menjawab.
Pemuda itu naik ke kamarnya. Halim tetap duduk, gelas di tangannya, tidak menuang, tidak meminum. Hanya memegangnya. Lalu, setelah langkah pemuda itu benar-benar hilang di lantai atas, ia menuang arak dan meminumnya habis sekaligus.
✦ ✦ ✦
VII.
PEMUDA itu turun lagi satu jam kemudian. Duduk di bar tanpa bicara. Halim menaruh gelas kosong di depannya tanpa menuang apapun. Hanya menaruh. Mereka diam beberapa saat.
“Tadi —” pemuda itu memulai.
“Saya tidak bilang apa-apa.” Halim berdiri. “Pipa sudah selesai. Itu saja.”
Pemuda itu menatap gelas kosong lalu menjawab, “Saya mengerti.”
Halim berjalan ke ruang belakang. Berdiri dengan punggung ke pintu. Dari balik pintu, ia mendengar langkah pemuda itu di tangga. Tidak terburu-buru dan tidak kesal. Hanya seperti seseorang yang sudah terbiasa dengan penolakan.
Biarkan dia pergi sendiri. Sungai tidak akan memaafkan dua kali.
Ia tidak bergerak dari pintu itu selama sepuluh menit. Lalu ia membuka pintu kamar dan berjalan ke laci mejanya.
✦ ✦ ✦
VIII.
BADAI datang seperti biasanya di Limina. Datang secara tiba-tiba dan tanpa permisi. Halim masih berada di kamarnya. Ia tidak bisa tidur. Ia masih mengingat semua detailnya. Bau lumpur sungai yang naik waktu air tinggi. Air sungai masuk ke dalam perahu. Dingin. Meresap sampai ke lutut.
Si arwah di depannya dengan buku catatan yang dirapatkan ke dada seperti itu bisa melindungi dari arus, “Terlalu kencang, Halim. Aku tidak bisa—” dan tali di tangannya, lalu tidak ada lagi.
Halim meraih ke arah baju yang sudah setengah tenggelam, jarinya menyentuh kain, tapi kain itu terlepas, dan arus mengambil sisanya, arus yang tidak peduli dengan penyesalan atau dengan orang yang masih meraih ke arah sesuatu yang sudah tidak ada.
Halim duduk di tepi ranjang. Tidak pernah benar-benar tidur. Hanya terperangkap di tempat yang sama, yang selalu kembali setiap kali hujan. Ia berjalan ke bar. Menuang minum. Duduk. Pemuda itu turun beberapa menit kemudian dengan rambut acak dan kaus yang sama. Duduk di kursi seberangnya tanpa kata-kata. Mereka duduk. Hujan menghantam jendela. Di luar, Sungai Marga mulai naik.
Dari koridor atas, pintu Kamar Tiga terbuka. Ibu tua itu turun pelan, jubahnya disampirkan longgar. Berjalan ke dapur, merebus air. Tidak bicara. Hanya ada, bergerak di sekitar mereka seperti mereka bagian dari mebel. Lalu kembali ke kamarnya dengan secangkir teh. Di ambang tangga, ia berhenti. Menatap Halim lalu berkata, “Mereka sudah pergi, Halim. Yang masih di sini cuma kamu.”
Ibu tua itu lanjut naik ke atas dan terdengar pintu kamarnya menutup.
Keheningan setelah suara langkahnya hilang terasa berbeda dari keheningan sebelumnya.
✦ ✦ ✦
IX.
PEMUDA itu yang berbicara pertama.
“Saya sudah berbohong pada anda. Saya bukan pemerintah. Sudah bukan lagi.”
“Saya tahu.”
“Bagaimana?” tanya pemuda itu.
“Agen pemerintah tidak membayar lebih untuk kamar jelek. Dan mereka tidak terlihat seperti sedang kabur dari sesuatu yang mereka buat sendiri.”
Pemuda itu menatap gelas Halim yang kosong, lalu ke gelas miliknya sendiri yang belum disentuh.
“Saya datang untuk menyelamatkan seseorang. Tapi saya juga datang karena saya tidak bisa terus di sana. Berpura-pura saya baik-baik saja dengan apa yang mereka rencanakan.”
“Dan kamu pikir menyelamatkan satu orang bisa memperbaiki itu?”
“Tidak.” Pemuda itu tidak ragu mengatakannya. “Tapi itu satu-satunya hal yang penting sekarang.”
Halim menatap gelasnya.
“Lima tahun lalu, seseorang duduk di kursi itu. Ia bayar dua kali lipat untuk menyeberang malam itu. Sungai sedang tinggi dengan arus kuat. Saya tahu itu berbahaya. Tapi saya tetap mengambil uangnya. Karena saya sudah ratusan kali menyebrang sebelumnya dan saya pikir saya mengenal sungai itu lebih baik dari sungai mengenal dirinya sendiri.”
Pemuda itu menunggu.
“Tapi ia tidak pernah sampai.”
Hening.
“Saya tidak pernah memberitahu saudarinya. Sampai sekarang. Lima tahun, dia masih menunggu di Aldara.”
Pemuda itu tidak bicara. Memberi ruang.
“Dan saya berhenti membantu setelah itu.” Halim berhenti. Ia melihat gelas di tangannya, lalu ke luar jendela, ke arah sungai yang tidak terlihat dari sini. “Saya bilang ke diri sendiri itu untuk menghormati mereka. Supaya tidak ada lagi yang mati karena keputusan saya.”
Pemuda itu tidak mendesak. Ia menunggu.
Halim menarik napas. Di dalam kepalanya, ia mendengar jawaban yang tidak ingin ia ucapkan.
Kamu berhenti karena takut, Halim. Bukan karena mereka. Karena takut.
“Tapi mungkin,” katanya pelan, “saya hanya takut.”
Pemuda itu menatapnya.
“Saya meninggalkan Limina sepuluh tahun lalu,” kata pemuda itu pelan. “Saya berkata pada orang yang saya cintai, saya membenci semua yang ia perjuangkan, hanya supaya ia membiarkan saya pergi.”
Ia berhenti. Di dalam kepalanya, ia mendengar kata-kata itu lagi, persis seperti yang ia ucapkan waktu itu. Ia ingat bagaimana ia mengatakannya dengan percaya diri, seolah ia yakin. Ia tidak yakin. Ia hanya tidak ingin memilih. “Saya pikir saya melindunginya. Tapi sekarang saya tidak yakin lagi apakah yang saya lindungi adalah dia, atau saya sendiri, dari harus berdiri di satu sisi.”
“Dan sekarang kamu kembali.”
“Sekarang saya kembali.” Ia tidak memalingkan wajah. “Mungkin terlambat. Mungkin dia tidak mau melihat saya. Tapi setidaknya saya tidak lagi berdiri diam.”
Halim memutar gelasnya di atas meja. Kaca bergesek pelan di kayu yang lembab. “Kata-kata terakhirnya adalah ‘adikku menunggu.’” Halim berhenti. “Saya menyimpan buku catatannya. Tidak pernah membukanya.”
Pemuda itu menunggu. Halim tidak menambahkan apa-apa. Tapi jari-jarinya bergerak di atas meja, mengikuti pola yang tidak perlu diikuti, seperti sedang menulis sesuatu yang tidak akan pernah ia tulis. Aron mengerti. Ia tidak perlu bertanya mengapa.
Halim menatap ke luar jendela. Lampu-lampu tepi timur masih menyala di balik hujan. “Sekarang saya lebih takut mati di kursi ini daripada di sungai itu.” Ia menatap gelas kosong di tangannya, lalu ke arah jendela di mana lampu-lampu tepi timur masih menyala di balik hujan. “Sungai tidak mengampuni. Dia hanya mengalir.” Ia meletakkan gelasnya. “Mungkin kita juga harus.”
Lampu di atas mereka berkedip satu kali, dua kali, bertahan.
“Jam malam dimulai dua jam lagi. Air sungai akan semakin tinggi karena hujan.” Suaranya datar, bukan tanpa emosi, tapi emosi yang sudah diselesaikan sebelum diucapkan. “Kalau kita menyeberang, kita berangkat sekarang.”
Pemuda itu menghembuskan napas. Panjang, terkontrol.
“Terima kasih.”
“Jangan.” Halim berdiri, punggungnya berderak pelan. “Berterima kasih kalau kamu menemukannya. Atau kutuk saya kalau tidak.”
✦ ✦ ✦
X.
SEMENTARA Halim mempersiapkan perahu di bawah, di Kamar Tujuh Aron duduk di tepi tempat tidur.
Ransel di lantai, masih tertutup. Ia belum membuka apapun. Hanya duduk. Menatap jendela yang menghadap ke timur. Ke arah sungai yang tidak terlihat dari sini tapi yang ia tahu ada di sana, memisahkan dia dari apa yang ia cari. Ia menutup mata.
Lenna melipat perban dengan sudut yang presisi. Tiga kali, bukan dua. Tangannya bergerak cepat tapi tidak terburu-buru, Jari-jarinya bergerak tanpa melihat.
“Kalau kamu melipat dengan benar,” katanya tanpa mendongak, “kamu tidak perlu mengulang.”
Aron menonton dari ambang pintu klinik. Ia datang untuk membantu, atau begitu yang ia katakan. Sebenarnya ia datang karena ada gravitasi tertentu dari cara Lenna bekerja. Fokus. Tidak ada gerakan yang terbuang. Setiap lipatan perban adalah keputusan.
“Kamu hanya mau berdiri di sana atau mau bantu?” Lenna mendongak, tersenyum. Sudut bibirnya naik sedikit. Cukup untuk membuat Aron lupa apa yang sudah ia rencanakan untuk dikatakan.
“Aku tidak tahu cara melipat seperti itu.”
“Itu kenapa ada yang namanya belajar.” Ia melempar satu perban ke arahnya. “Tiga kali. Sudut rapi. Jangan terburu-buru.”
Aron mencoba. Lipatan pertama, tidak lurus. Lipatan kedua, terlalu longgar. Lipatan ketiga—
“Lebih baik. Sekarang ulangi lagi dua puluh kali sampai tanganmu ingat sendiri.”
Aron membuka mata. Tangannya bergerak sendiri di atas lutut, ibu jari melipat jari telunjuk, dua kali, tiga kali, sebelum ia sadar ia sedang melakukannya. Ia tidak tahu apakah Lenna masih melipat perban dengan gerakan yang sama. Tidak tahu apakah ia masih mau mengajarinya apa pun setelah apa yang Aron katakan waktu itu. Yang ia tahu, ia harus mencoba.
Ia berdiri dan mengambil ransel. Di antara pakaian ganti dan dokumen perjalanan, ada satu perban medis yang ia beli di Kosamaya sebelum berangkat. Tidak tahu kenapa ia membelinya. Mungkin sebagai tanda. Mungkin sebagai permintaan maaf yang tidak bisa diucapkan. Ia meletakkannya di atas meja.
Di bawah, ia mendengar suara Halim bergerak di ruang belakang dengan langkah yang berbeda dari langkah biasa, lebih bertujuan. Lebih seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu.
Belum waktunya membawa perban itu turun. Tapi hampir.
✦ ✦ ✦
XI.
HALIM pergi ke kamarnya. Ia membuka laci meja. Buku catatan berkulit itu ada di sana, selalu di tempat yang sama. Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia mengambilnya tanpa membukanya. Ia hanya memegang dan merasakan berat di tangannya yang terasa tidak proporsional dengan ukurannya. Sudah hafal bentuk sampulnya. Sudah hafal tulisan yang pudar di sudutnya. Sudah hafal beban yang tidak pernah berubah meski tahun terus berjalan. Ia memasukkannya ke saku jaket.
Dari bawah papan lantai, tali tambang. Dari gudang bawah tanah, perahu lipat berukuran kecil. Masih utuh, kulitnya berbau karet lama dan udara yang lama terkunci. Lampu kecil dimiringkan ke bawah, cahaya minimal. Pemuda itu membantu tanpa bertanya.
Di koridor atas, pintu Kamar Tiga terbuka sedikit. Ibu tua itu menatap ke bawah.
“Halim. Kamu yakin?”
“Tidak.”
Perempuan tua itu mengangguk perlahan. “Bagus.” Lalu ia menutup pintu.
✦ ✦ ✦
BABAK TIGA: PERHITUNGAN
XII.
TEPI sungai. Titik tersembunyi di utara Hotel Korona, di antara reruntuhan dermaga lama yang tidak ada di peta resmi manapun.
Sungai Marga malam itu berbeda dari siang hari. Tinggi, coklat gelap, dan baunya naik. Lumpur yang sudah berhari-hari terendam, dicampur dengan sesuatu yang lebih tua, lebih organik, yang sudah membusuk di dasar dan tidak pernah benar-benar hilang. Bau yang tidak bisa dijelaskan, hanya dirasakan.
Arus mendorong perahu ke selatan, dan Halim tahu tanpa melihat, air sudah naik setengah jari di atas pergelangan kakinya. Dingin yang menggigit, yang tidak hanya basah tapi masuk ke dalam tulang. Bunyinya mengisi seluruh ruang di antara gedung-gedung runtuh. Bukan bunyi halus, tapi bunyi yang terus-menerus, seperti sesuatu yang tidak pernah berhenti menunggu.
Pemuda itu menatapnya dan mengumpat, “Sial!”
“Masih bisa balik.” Halim menawarkan.
“Tidak bisa.”
Mereka masuk ke perahu dan Halim mulai mendayung. Arus langsung mendorong, tanpa kelembutan, tanpa tawaran, seperti sebuah peringatan.
Ini wilayah saya.
Halim sangat paham peringatan itu. Ia tahu kapan saatnya melawan dan kapan saatnya bekerja sama dengan memotong diagonal.
Air sungai yang dingin mulai masuk ke dalam perahu. Menggenang dari pergelangan kaki dan perlahan naik ke atas. Rasa dingin yang tidak hanya basah tapi juga menggigit, langsung masuk ke dalam tulang. Pemuda itu melihat air masuk. Tanpa berbicara, tangannya secara otomatis menarik ranselnya lebih tinggi.
Di tengah perjalanan, perahu membentur sesuatu di bawah air. Dug! Perahu menghantam pilar jembatan lama. Halim seharusnya ingat itu ada di sini. Dalam lima tahun, ia sudah lupa detail-detail yang dulu ia hafal seperti garis tangannya sendiri.
Perahu miring. Air masuk dari sisi kiri, semburan pendek yang menyentuh paha mereka, dingin yang membuat napas tertahan sebentar. Pemuda itu meraih tali, kuku-kukunya memutih, tapi Halim sudah tidak melihatnya.
Di dalam kepalanya, film yang sama diputar paksa. Hujan. Arus. Si arwah memegang sisi perahu dengan buku catatan dirapatkan ke dada. Halim tahu suara itu. Tahu bagaimana akhirnya, tahu persis di detik mana tali itu akan putus, tahu tidak ada yang bisa menghentikannya. Tapi ia tidak bisa menghentikan dirinya dari mendengarnya lagi.
“Terlalu kencang, Halim... terlalu—” Tali putus. Tangan teraih. Udara yang tergenggam. Air coklat yang menutup. Dan Halim masih di sini, masih mendayung, masih gagal menyelamatkan.
Halim mendayung keras dengan tubuhnya yang berumur enam puluh tujuh tahun. Tulang-tulangnya ingat setiap musim dingin yang pernah ia lalui. Lengannya terasa terbakar. Napasnya keluar tajam setiap kali ia menarik dayung, bunyi yang terdengar hampir seperti rintihan tapi ia tekan supaya tidak keluar seluruhnya.
Bau lumpur sungai memenuhi hidung, bercampur dengan sesuatu yang lebih organik yang sudah membusuk di dasar sungai. Bau yang membuat perut mual, tapi mereka memilih mengabaikannya.
Arus menarik perahu ke selatan. Halim mendayung diagonal, menyesuaikan sudut agar tidak melawan langsung. Air dingin sudah sampai ke lutut mereka. Pemuda itu tidak berbicara, tidak mengeluh, hanya memegang tali dan sisi perahu, tubuhnya tegang seperti tali yang hampir putus.
Tidak malam ini. Tidak lagi.
Halim mendayung, lalu menarik dayung itu lagi, dan lagi, setiap tarikan terasa seperti ada yang mengoyak dari dalam lengannya, tapi ia tidak bisa berhenti. Tidak malam ini. Tidak lagi.
Perahu memukul tepi timur dengan keras, bunyi seperti kain yang dirobek. Lambung perahu menggores batu-batu tajam di pinggir sungai, lalu berhenti.
Pemuda itu merangkak keluar, batuk-batuk. Menarik perahu ke darat dengan tangan gemetar tapi kuat. Halim berdiri. Membungkuk. Menarik napas dalam-dalam. Paru-parunya terasa seperti terbakar. Kakinya hampir tidak bisa merasakan tanah di bawahnya. Ia meluruskan diri. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia melihat tepi timur dari dalam, bukan dari seberang.
Bukan reruntuhan seperti yang sering disebut radio. Lebih seperti kota yang sedang dalam proses menemukan kembali bentuknya. Lampu-lampu kecil di balik kain penutup jendela, warna kuning yang hangat. Bau kayu bakar dan sesuatu yang dimasak. Cat graffiti di tembok berlapis-lapis seperti sejarah yang tidak mau dihapus. Sebuah kota yang tidak menyerah.
Pemuda itu berdiri di sampingnya, melihat hal yang sama. Air masih menetes dari rambutnya.
“Sial,” umpat pemuda itu lagi. Kali ini berbeda. Bukan ketakutan.
“Pergi,” kata Halim. “Cari dia. Sebelum mereka menemukanmu.”
Pemuda itu mengangguk. Berbalik.
“Medis yang sedang kamu cari itu, siapa namanya?”
Pemuda itu berhenti. Berbalik. “Lenna. Kenapa?”
Lenna.
Halim tidak menjawab. Di dalam dadanya, sesuatu bergerak. Bukan pengertian tiba-tiba, lebih seperti sebuah pintu yang selama ini ia coba buka dari sisi yang salah. Baru sekarang ia menyadari ia sudah memegang kunci yang tepat sejak awal, hanya tidak tahu lubang mana yang harus ia masukkan.
“Nama yang bagus.”
Ia merogoh saku jaketnya. Mengeluarkan buku catatan itu.
Pemuda itu menatapnya. “Apa itu?”
“Urusan yang belum selesai.” Halim menggenggam buku itu sebentar seraya merasakan beratnya untuk terakhir kali, berat yang sudah jadi bagian dari dirinya selama lima tahun. Lalu mendongak. “Orang yang saya hilangkan lima tahun lalu. Mereka meninggalkan pesan untuk seseorang bernama Aron Vale.”
Pemuda itu berhenti bernapas. Halim melihat otot di rahangnya mengencang, matanya bergerak ke buku catatan lalu ke Halim lalu ke tempat kosong di antara keduanya.
“Apa?” Suaranya keluar berbeda, lebih muda, entah bagaimana.
“Kata mereka, kalau kamu pernah bertemu Aron Vale dari Kosamaya, tolong sampaikan. Limina masih layak untuk diingat.”
“Siapa... siapa mereka?”
“Saya tidak pernah menanyakan nama. Hanya tahu mereka mencoba mencapai saudarinya di Aldara. Perempuan bernama Mira.”
Sesuatu lewat di wajah pemuda itu, kilatan cepat, nama yang hampir terbentuk lalu hilang.
“Saya tidak tahu siapa itu. Tapi… mereka tahu saya?”
“Kata mereka, ‘anak lelaki dekat sekolah lama.’ Mereka memperhatikan kamu tumbuh.”
Pemuda itu menatapnya lama lalu bertanya, “Kenapa anda baru bilang sekarang?”
Halim menatap buku catatan di tangannya satu kali lagi.
“Karena setidaknya kali ini saya tidak membiarkan sungai menang. Dan mungkin itu cukup.” Halim mengulurkan buku itu.
Pemuda itu mengambilnya dengan hati-hati. Berat di tangannya terasa tidak proporsional dengan ukurannya.
“Saya akan ingat. Saya janji.”
“Jangan balik dan ceritakan padaku.” Halim berbalik ke perahu. “Hiduplah saja. Itu yang diinginkan siapa pun,” lanjutnya.
Pemuda itu berbalik, berjalan, lalu menghilang ke lorong-lorong tepi timur. Langkahnya cepat, tapi tidak panik.
Halim sendirian di tepi sungai. Tangannya kosong untuk pertama kalinya dalam lima tahun.
✦ ✦ ✦
XIII.
HALIM mendayung kembali sendirian. Hujan sudah berhenti. Air sungai masih tinggi tapi arusnya sudah mulai lunak, seperti seseorang yang baru selesai marah dan kelelahan sendiri. Halim mendayung diagonal, memanfaatkan geometri yang selalu ia tahu tapi sempat ia lupakan. Lengannya masih terasa terbakar. Setiap tarikan dayung terasa seperti ada yang mengoyak dari dalam. Tapi ia terus bergerak.
Di tengah sungai, ia berhenti mendayung. Perahu bergerak perlahan mengikuti arus, miring ke selatan. Halim membiarkannya. Tangannya kosong. Tidak ada buku di saku jaket kirinya. Ruang yang sudah lima tahun terisi beban, sekarang hanya berisi kain dan udara. Ia hanya perlu membiasakan rasanya, seperti orang yang belajar berjalan lagi setelah lama tidak berjalan.
Di dalam kepalanya, ia sudah hafal isinya. Hafal tanpa pernah membuka, karena rasa bersalah yang cukup besar selama lima tahun bisa membuat seseorang mengingat sesuatu yang tidak pernah dibaca.
Mira Colin, 24 Jalan Oleander, Aldara.
Kalau saya tidak sampai ke seberang, bilang Mira saya sudah mencoba.
Dan kalau kamu pernah bertemu anak lelaki bernama Aron Vale, bilang padanya kota ini masih layak untuk diingat.
“Saya tidak membiarkan dia tenggelam. Anak lelaki yang kamu minta saya untuk menyampaikan pesanmu. Saya sudah membawa dia ke seberang. Pesanmu sudah sampai.” Halim berbisik ke sungai, ke si arwah yang mungkin masih ada di suatu tempat di dasar atau di arus atau di mana arwah-arwah sungai pergi.
Sungai tidak menjawab.
“Mungkin itu yang akan kamu inginkan,” ucap Halim lirih.
Berat di dadanya tidak terangkat. Tapi ia bergeser. Bukan lebih ringan. Hanya berbeda. Dan ia mulai mendayung lagi.
✦ ✦ ✦
XIV.
FAJAR. Cahaya pucat, seperti biasa.
Halim mengikat perahu, menyembunyikannya di antara reruntuhan dermaga. Berjalan kembali ke Hotel Korona dengan tubuh yang terasa seperti sudah diperas. Setiap langkah membuat lutut berderik.
Di dalam, radio menyala.
“...pasukan penjaga perdamaian PBB meningkatkan kehadiran di Limina menyusul laporan tentang operasi militer yang akan datang...”
Halim duduk di bar. Menuang arak. Meminumnya. Tangannya masih gemetar sedikit.
Ibu tua menghampiri, jubah paginya disampirkan longgar.
“Kamu terlihat seperti mayat.”
“Rasanya juga begitu.”
“Dia berhasil?”
“Ya.”
Perempuan tua tidak bicara lagi. Kembali ke kamarnya.
Halim sendirian.
✦ ✦ ✦
XV.
MEJA kecil yang tertutup debu di dalam kamarnya. Halim duduk dan mengeluarkan selembar kertas dari laci paling bawah. Kertas surat lama yang sudah agak menguning di pinggirnya, tapi masih bisa dipakai. Ia menemukan pena lalu mulai menulis. Ia menulis dari tempat lain. Dari tempat yang sudah ia simpan tanpa pernah dikatakan selama lima tahun.
Mira Colin yang terhormat,
Kamu tidak kenal saya. Lima tahun lalu, seseorang yang menyayangimu menyewa saya untuk membawa mereka menyeberangi Sungai Marga. Mereka tidak sampai.
Seharusnya saya memberitahumu sejak dulu. Tapi saya tidak. Dan setiap hari selama lima tahun, saya membayangkan kamu menunggu di alamat yang sama, di kota yang sama, tidak tahu bahwa orang yang kamu tunggu sudah tidak pernah bisa sampai. Kata-kata terakhir mereka adalah ‘adikku menunggu.’ Saya mendengarnya, saya menyimpannya, dan saya tidak pernah menyampaikannya.
Mereka mencoba. Mereka sangat menyayangimu.
Maafkan saya.
Halim Kosan
Hotel Korona, Limina
Ia melipat surat itu. Mengambil amplop. Menulis di bagian luar amplop dengan tangan yang tidak gemetar untuk pertama kalinya sejak malam itu.
Mira Colin. 24 Jalan Oleander, Aldara.
Ia tidak tahu apakah alamat itu masih berlaku. Lima tahun adalah waktu yang lama. Orang pindah. Orang pergi. Orang mati dalam perang yang tidak pernah benar-benar selesai. Tapi ia tidak tahu. Dan mungkin karena tidak tahu itulah yang membuat surat itu tetap perlu dikirim.
✦ ✦ ✦
XVI.
PAGI mulai menanjak. Hotel Korona diam dalam caranya sendiri. Ibu tua pergi ke pasar. Pria di Kamar Lima masih tidur. Kamar Tujuh kosong. Barang-barang pemuda itu sudah hilang, ia tidak meninggalkan apapun kecuali lekukan di bantal dan sedikit lumpur dari sela-sela sepatunya di lantai.
Halim kembali mengelap permukaan bar. Dengan gerakan yang sama. Dengan lingkaran yang sama. Tapi terasa berbeda pagi ini.
“...aktivitas dilaporkan meningkat di tepi timur... Para pengamat mencatat ketegangan tetap tinggi namun dialog masih berlanjut...”
Ia menyalakan rokok kretek. Menatap sungai melalui jendela yang berembun. Hanya sungai. Hanya air yang mengalir karena itu yang dilakukan air.
Ia mengambil amplop dari meja. Berdiri. Berjalan ke pintu depan. Lalu berhenti di ambang pintu dengan satu kaki di dalam dan satu di luar.
Halim Kosan, enam puluh tujuh tahun, pemilik hotel dengan delapan kamar dan satu luka yang sudah ia jaga selama lima tahun seperti api yang tidak boleh padam. Ia berdiri di ambang pintu cukup lama untuk menyadari ia sudah berdiri di sini sejak malam si arwah tenggelam. Lima tahun, pikirnya. Lima tahun dengan satu kaki di dalam dan satu kaki di luar. Selalu menunggu kepastian yang tidak pernah datang. Itu bukan cara kerjanya.
Saku jaket kirinya kosong. Buku itu sudah di tangan yang tepat. Amplop ini yang tersisa, satu hal terakhir yang perlu berpindah dari dalam ke luar. Ia memegangnya, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, berat yang ia bawa tidak terasa seperti sedang menghukumnya. Hanya berat. Dan itu sudah cukup. Halim melangkah keluar.
Ia tidak akan pernah bersih. Halim tahu itu. Sungai hanya membawa, ia tidak mencuci, tidak memaafkan, tidak mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi mungkin itu cukup. Membawanya ke tempat lain. Membiarkannya terus bergerak, meski beban yang sama masih ada di sana, hanya di tempat yang berbeda.
Ia terus berjalan.
— SELESAI —
CATATAN PENULIS
Halim melangkah keluar dari hotelnya untuk pertama kalinya dalam lima tahun.
Ia mengirim surat. Ia melepas buku catatan. Ia memilih untuk terus bergerak.
Tapi pertanyaan yang ditinggalkannya di Sungai Marga bukan hanya tentang masa lalu—ia juga tentang seorang pemuda bernama Aron Vale, yang malam itu menyeberang ke Cangkang untuk mencari seseorang yang namanya tidak pernah ia lupakan.
Apa yang ia temukan di seberang sungai?
Apa yang terjadi pada perempuan yang ia cari?
Dan apa hubungan nama Vale dengan kota yang tidak pernah memaafkannya?
Cara Kamu Menyebut Namanya — kisah tentang nama-nama yang disimpan di tempat yang tidak sering dikunjungi, dan tentang mereka yang akhirnya berani memanggilnya.
Baca Novel Sekarang
Komentar