BABAK SATU: KEDATANGAN
I.
LIMA tahun, dua bulan, tiga belas hari.
Halim menghitungnya setiap pagi. Tidak ada gunanya. Tapi ritual itu adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan tanpa harus ada alasan.
Kain itu bergerak melingkar. Basah, kering, basah lagi. Dua puluh tahun dengan gerakan yang sama, dan permukaan kayu itu sudah menyimpan alur telapak tangannya. Dua puluh tahun juga dengan noda yang sama, selalu di titik yang sama, selalu kembali.
Di luar, Sungai Marga mengalir. Halim tidak perlu melihat untuk tahu. Suaranya sudah menjadi bagian dari dinding, dari udara, dari ruang di antara helaan napas. Tidak pernah berhenti. Tidak pernah reda.
Radio di sudut ruangan mendengung.
“...Peningkatan patroli di jembatan-jembatan Marga. Pemeriksaan identitas lebih ketat...”
Halim mematikannya. Semakin ketat jembatan, semakin banyak orang yang mencari perahu. Dan itu sudah bukan urusannya lagi.
Ia meletakkan kain. Menuang sedikit arak ke gelas murahan — tegukan pertama selalu menyengat, dan ia selalu menuang yang kedua. Fajar menerobos pucat melalui jendela yang retak. Bau kretek dan lumpur sungai bercampur dengan bau kayu tua yang sepenuhnya tidak pernah bisa dihilangkan.
Hari yang sama lagi. Bersihkan bar. Perbaiki apa yang rusak semalam. Hindari tamu. Dan hindari diri sendiri.
Lalu terdengar suara langkah di tangga depan. Seseorang naik ke teras hotel lalu berhenti. Di balik pintu kaca buram lobi, ada siluet yang berdiri diam di sana dan ia tidak langsung masuk. Tubuhnya condong sedikit ke depan, kaki kiri satu langkah lebih dekat ke pintu dari kaki kanan. Tapi tidak masuk. Halim tidak bergerak. Ia membiarkan mereka memutuskan sendiri.
Lima detik. Sepuluh. Lalu pintu kaca buram itu terbuka.
Seorang pemuda masuk. Terlihat seperti berusia dua puluhan, atau mungkin hampir tiga puluh. Memakai pakaian perjalanan yang rapi meski sudah kusut. Seseorang yang masih peduli dengan kesan pertama meski sudah berjalan bermalam-malam. Ransel tersampir di satu bahu. Matanya bergerak ke pintu setiap kali ada suara dari luar.
Pemuda itu masuk dan melihat ke sekeliling ruangan. Lalu tangannya bergerak, hampir tidak terlihat, menggeser tali ranselnya ke sisi yang memudahkan ia meraih pintu. Tidak panik. Tidak dramatis. Hanya gerakan yang sudah tidak lagi memerlukan keputusan untuk dilakukan.
Tapi yang membuat Halim berhenti bukan itu. Ketika cahaya pagi menyentuh wajah pemuda itu dari sudut tertentu, dan untuk satu detik — kurang dari satu detik — Halim melihat orang lain. Ia melihat sosok yang lebih muda dengan wajah yang lebih putus asa. Sosok yang sudah lima tahun tenggelam tapi masih berdiri di sana dengan tetesan air sungai. Lalu pemuda itu berkedip, menggeser ranselnya, dan bayangan itu menghilang. Pemuda itu mendekati meja dan berhenti di depan bar.
“Ada kamar?” Suaranya keluar tenang, dikontrol dengan hati-hati. Seperti seseorang yang sudah berlatih berulang kali agar terdengar tenang.
“Tergantung berapa lama,” kata Halim.
Ia mengambil kartu identitas yang diulurkan pemuda itu. Membacanya pelan — nama, nomor, instansi.
Aron Vale. Kementerian Dalam Negeri, Divisi Analisis Data, Kosamaya.
Vale.
Sesuatu bergetar di ujung ingatan. Terasa familiar, tapi dari mana? Dari tempat yang sudah lama tidak ia buka? Dari suara yang pernah ia dengar bertahun-tahun lalu di tepi sungai ini? Dari mulut seseorang yang tidak sempat ia selamatkan?
Halim menggeleng kecil. Mengembalikan kartu. Mengambil kunci dari laci.
“Kamar Tujuh. Lantai dua.”
✦ ✦ ✦
II.
PEMUDA itu naik. Halim berdiri sendirian.
Ia menatap uang di tangannya. Seharusnya aku menolak. Kamar Tujuh terkutuk. Tapi ia tidak pernah menolak. Tidak pernah.
Ibu tua di Kamar Tiga muncul di ambang pintunya lalu memandang ke atas.
“Tamu baru, Halim?” Tanyanya.
“Hanya lewat.”
“Mereka selalu hanya lewat.” Pintu menutup pelan.
Halim kembali ke kamarnya di belakang meja resepsionis. Membuka laci. Di dalamnya terdapat buku catatan berkulit yang sudah dimakan air, yang halaman-halamannya sudah menempel satu sama lain. Di sudut sampul, ada tulisan tangan kecil yang hampir habis digerus waktu. Untuk anak-anak di sekolah lama, supaya mereka ingat.
Ia tidak pernah tahu itu kalimat apa. Sisa proyek yang belum selesai, atau janji yang tidak sempat ditepati. Ia tidak pernah bertanya sewaktu masih ada kesempatan untuk bertanya. Ia tidak membuka bukunya. Tidak pernah. Hanya menatapnya. Ia lalu menutup laci dan pergi keluar.
✦ ✦ ✦
III.
PAGI menanjak ke siang. Halim sedang memperbaiki pipa bocor di bawah wastafel dapur ketika pemuda itu muncul. Tanpa mengetuk, tanpa permisi, pemuda itu langsung jongkok di sisi berlawanan dan melihat situasinya dengan tenang.
“Perlu bantuan?” Tanya pemuda itu.
“Tidak.” Jawab Halim singkat.
Pemuda itu mengulurkan tangan dan memegangi sambungan yang bocor tanpa menunggu jawaban lain. Mereka bekerja dalam diam. Diam yang muncul ketika dua orang sama-sama tahu bahwa kata-kata tidak akan memperbaiki pipa.
“Pipa di sebelah kiri,” kata Halim setelah beberapa menit.
“Saya lihat.”
Bunyi air yang menetes, lalu berhenti setelah mur dikencangkan. Pemuda itu tidak langsung melepas pegangannya. Jari-jarinya masih melingkar di pipa, menunggu, memastikan tidak ada yang terlewat.
“Sudah lama bocor?”
“Tidak tahu.” Halim memutar kunci pas sekali lagi. “Tidak pernah turun memeriksa sampai sudah terlalu parah untuk diabaikan.”
Pemuda itu mengangguk. Diam sebentar, lalu berkata, “Saya tumbuh besar di sini.” Suaranya keluar dengan nada yang berbeda dari tadi. “Saya pergi waktu umur saya masih enam belas. Kadang saya tidak yakin apakah masih ada yang hidup dari orang-orang yang saya kenal dulu.”
Halim tidak menjawab langsung. Ia melepas kunci pas dan meletakkannya ke lantai. “Kamu ingat Limina seperti apa?”
Pemuda itu diam sebentar. “Yang saya ingat, Limina itu... utuh.”
Kata itu menggantung. Halim tidak menjawab.
Pipa sudah selesai. Halim berdiri, tulang pinggulnya berderak. Pemuda itu ikut berdiri, membersihkan tangannya di celana.
“Terima kasih sudah membantu.”
“Anda tidak mengizinkan saya. Saya hanya ikut saja.”
Sudut bibir Halim bergerak, sedikit. Hampir seperti senyum tapi tidak sampai.
BABAK DUA: PENYEBERANGAN
IV.
SORE hari. Halim duduk di bar sambil merokok. Pemuda itu duduk di depannya tanpa diundang. Langsung. Seperti seseorang yang sudah menghabiskan energinya untuk basa-basi di tempat lain dan tidak punya sisanya untuk itu.
“Saya mencari seseorang. Perempuan. Medis. Bekerja di klinik bawah tanah, tepi timur, di sekitar Kawasan Lama.”
Halim tidak bergerak. “Kamu pemerintah?”
Tangan pemuda itu rata di atas meja. Jeda dua detik — jenis jeda yang tidak lahir dari keraguan, tapi dari seseorang yang sedang memilih kata dengan hati-hati.
“Apakah itu penting?” Pemuda itu balik bertanya.
“Dulu penting. Bagi orang terakhir yang saya bantu.”
“Apa yang terjadi pada mereka?” Tanya pemuda itu lagi.
Halim menyalakan rokok baru dengan sisa ujung rokok yang lama. “Mereka menyeberang. Saya tidak pernah melihat mereka lagi.” Tangannya sedikit gemetar mengucapkan itu. Pemuda itu melihat gerakan tangan itu tanpa berkomentar.
“Saya tidak meminta anda untuk menyelundupkan saya. Hanya, kalau anda tahu di mana seseorang bersembunyi.”
“Tepi timur itu luas. Banyak lubang. Dan banyak orang yang mencari.”
“Saya tahu.” Pemuda itu menghirup napas. Untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke hotel ini, sesuatu di wajahnya lepas, terlihat seperti retakan kecil di permukaan es. “Mereka akan menyerang. Beberapa hari lagi. Mungkin jam.”
Halim menatapnya.
“Kalau begitu mengapa kamu di sini?”
“Karena dia ada di sini.” Jawab pemuda itu. “Dan saya berhutang padanya.” Lanjutnya.
Halim mematikan rokok. “Saya tidak bisa membantu. Saya sudah selesai dengan semua itu.”
Pemuda itu mengangguk. Berdiri. Dengan punggung lurus dan tangan yang tidak gemetar. Ia bukan menyerah, ia sudah memperhitungkan bahwa mungkin tidak ada yang akan membantunya, dan ia sudah memutuskan bahwa ia akan tetap pergi.
“Saya mengerti. Terima kasih.” Jawab pemuda itu.
Pemuda itu pergi meninggalkan meja bar.
Halim sendirian.
✦ ✦ ✦
V.
SORE menjelang malam terdengar ketukan keras di pintu lobi. Ada tiga tentara Saraya. Yang di depan masih muda, dengan kulit yang terbakar matahari dan mata yang penuh dengan kelelahan yang terlalu tua untuk wajahnya. Yang di belakang lebih tua, bergerak dengan efisiensi, seperti orang yang sudah terlalu lama menjalankan perintah untuk masih peduli apakah perintah itu masuk akal atau tidak.
“Pemeriksaan penghuni. Kartu identitas.”
Mereka masuk tanpa menunggu izin.
Kamar Tiga: ibu tua. Surat-suratnya lengkap, palsu tapi berkualitas tinggi.
Kamar Lima: pria mabuk. Surat-suratnya asli. Tentara muda itu menatap pria mabuk itu lebih lama dari yang diperlukan. Ada sesuatu yang lewat di wajahnya — pengenalan, mungkin, atau jijik, atau keduanya sekaligus dalam ukuran yang sama. Lalu melanjutkan.
Kamar Tujuh: pemuda itu. Berdiri di ambang pintu dengan kartu identitas yang sudah siap di tangan sebelum mereka sampai.
Tentara muda membolak-balik kartu. “Ada urusan apa seorang analis Kosamaya datang ke Limina?”
“Kerja lapangan. Pengumpulan data tentang dampak ekonomi konflik.”
“Di hotel murahan?”
Halim melihat tangan pemuda itu di sisi tubuhnya. Jari-jarinya tidak bergerak tapi kuku-kukunya sedikit memutih.
“Dia keponakan saya,” kata Halim. “Dari Kosamaya. Menjenguk.”
Tentara muda menatap mereka berdua. Tersenyum — bukan ramah, lebih seperti seseorang yang menemukan celah tapi belum memutuskan apakah akan memasukinya.
“Keponakan yang tidak mirip sama sekali.”
“Dia ikut ibunya. Ibu saya dari Valenz.”
Tentara menatap Halim, lalu pemuda itu, lalu kembali ke Halim. Skeptis tapi tidak cukup untuk menangkap.
“Malam ini ada jam malam. Siapapun yang berada di jalan setelah gelap akan ditahan. Mengerti?”
“Mengerti.”
Mereka pergi. Suara sepatu boots berat terdengar di tangga. Lalu pintu lobi dibanting. Halim menunggu sampai suara mereka hilang sepenuhnya.
✦ ✦ ✦
VI.
PEMUDA itu turun lalu berdiri di depan bar dengan bahu yang sedikit turun, seperti baru saja ia sadar seberapa tipis es yang sudah ia injak.
“Kenapa?” Tanya pemuda itu.
Halim menyalakan rokok. Membiarkan asap menjawab dulu.
“Karena saya bodoh.” Jawab Halim. “Dan karena kamu mengingatkan saya pada seseorang yang tidak sempat saya tolong.” Lanjutnya.
Pemuda itu menatapnya. Kali ini ia tidak bertanya siapa.
“Saya harus menyeberang malam ini.” Pernyataan yang bukan sekedar ultimatum ataupun permohonan. “Sebelum mereka kembali dengan alasan yang lebih baik.”
“Tidak. Jembatan sudah ditutup. Checkpoint double. Siapapun yang mencoba melewati jembatan setelah jam malam akan ditahan.” Halim menolak.
“Anda dulu memindahkan orang. Saya mendengar tentang anda.”
“Halim yang itu sudah mati lima tahun yang lalu.”
“Lalu siapa yang berdiri di depan saya sekarang?”
“Hantunya.”
“Kalau begitu, hantui saya menyeberangi sungai itu.”
“Kamu tidak tahu apa yang kamu minta.”
Pemuda itu diam. Lalu, lebih pelan, “Saya minta anda untuk membantu saya menyelamatkan seseorang sebelum terlambat. Dan saya minta anda karena saya pikir anda tahu rasanya terlambat.”
Halim diam.
“Jadi anda lebih suka tidak melakukan apa-apa?” Lanjut pemuda itu.
“Lebih baik tidak berbuat apa-apa daripada menyebabkan kerusakan.”
Pemuda itu menatapnya. Lalu berkata, “Berhenti bergerak dan tenggelam. Mungkin tidak terlalu beda.”
Kalimat yang terucap dari pemikiran seseorang yang keluar setengah jadi. Pemikiran dari orang yang mencoba mengatakan sesuatu yang mereka sendiri belum mengerti.
Halim tidak menjawab. Pemuda itu naik ke kamarnya.
Halim sendirian. Menuang arak lalu meminumnya habis sekaligus dan menatap gelas kosong itu lama.
✦ ✦ ✦
VII.
PEMUDA itu turun lagi satu jam kemudian. Duduk di bar tanpa bicara. Halim menaruh gelas kosong di depannya tanpa menuang apapun. Hanya menaruh. Mereka diam beberapa saat.
“Tadi —” pemuda itu memulai.
“Saya tidak bilang apa-apa.” Halim berdiri. “Pipa sudah selesai. Itu saja.”
Pemuda itu menatap gelas kosong lalu menjawab, “Saya mengerti.”
Halim berjalan ke ruang belakang. Berdiri dengan punggung ke pintu. Dari balik pintu, ia mendengar langkah pemuda itu di tangga. Tidak terburu-buru dan tidak kesal. Hanya seperti seseorang yang sudah terbiasa dengan penolakan.
Biarkan dia pergi sendiri. Sungai tidak akan memaafkan dua kali.
Ia tidak bergerak dari pintu itu selama sepuluh menit. Lalu ia membuka pintu kamar dan berjalan ke laci mejanya.
✦ ✦ ✦
VIII.
BADAI datang seperti biasanya di Limina. Datang secara tiba-tiba dan tanpa permisi. Halim masih berada di kamarnya. Ia tidak bisa tidur. Ia masih mengingat semua detailnya. Bau lumpur sungai yang naik waktu air tinggi. Air sungai masuk ke dalam perahu. Dingin. Meresap sampai ke lutut.
Si arwah di depannya dengan buku catatan yang dirapatkan ke dada seperti itu bisa melindungi dari arus. “Terlalu kencang, Halim. Aku tidak bisa —”. Tali di tangannya. Lalu tidak ada lagi. Tangan Halim meraih ke arah baju yang sudah setengah tenggelam. Jari menyentuh kain. Kain terlepas. Arus yang tidak peduli dengan penyesalan.
Halim duduk di tepi ranjang. Tidak pernah benar-benar tidur. Hanya terperangkap di tempat yang sama, yang selalu kembali setiap kali hujan. Ia berjalan ke bar. Menuang minum. Duduk. Pemuda itu turun beberapa menit kemudian dengan rambut acak dan kaus yang sama. Duduk di kursi seberangnya tanpa kata-kata. Mereka duduk. Hujan menghantam jendela. Di luar, Sungai Marga mulai naik.
Dari koridor atas, pintu Kamar Tiga terbuka. Ibu tua itu turun pelan, jubahnya disampirkan longgar. Berjalan ke dapur, merebus air. Tidak bicara. Hanya ada — bergerak di sekitar mereka seperti mereka bagian dari mebel. Lalu kembali ke kamarnya dengan secangkir teh. Di ambang tangga, ia berhenti. Menatap Halim lalu berkata, “Mereka sudah pergi, Halim. Yang masih di sini cuma kamu.”
Ibu tua itu lanjut naik ke atas dan terdengar pintu kamarnya menutup.
Keheningan setelah suara langkahnya hilang terasa berbeda dari keheningan sebelumnya.
✦ ✦ ✦
IX.
PEMUDA itu yang berbicara pertama.
“Saya sudah berbohong pada anda. Saya bukan pemerintah. Sudah bukan lagi.”
“Saya tahu.”
“Bagaimana?” Tanya pemuda itu.
“Agen pemerintah tidak membayar lebih untuk kamar jelek. Dan mereka tidak terlihat seperti sedang kabur dari sesuatu yang mereka buat sendiri.”
Pemuda itu menatap gelas Halim yang kosong, lalu ke gelas miliknya sendiri yang belum disentuh.
“Saya datang untuk menyelamatkan seseorang. Tapi saya juga datang karena saya tidak bisa terus di sana. Berpura-pura bahwa saya baik-baik saja dengan apa yang mereka rencanakan.”
“Dan kamu pikir menyelamatkan satu orang bisa memperbaiki itu?”
“Tidak.” Pemuda itu tidak ragu mengatakannya. “Tapi itu satu-satunya hal yang penting sekarang.”
Halim menatap gelasnya.
“Lima tahun lalu, seseorang duduk di kursi itu. Ia bayar dua kali lipat untuk menyeberang malam itu. Sungai sedang tinggi dengan arus kuat. Saya tahu itu berbahaya. Tapi saya tetap mengambil uangnya. Karena saya sudah ratusan kali menyebrang sebelumnya dan saya pikir saya mengenal sungai itu lebih baik dari sungai mengenal dirinya sendiri.”
Pemuda itu menunggu.
“Tapi ia tidak pernah sampai.”
Hening.
“Saya tidak pernah memberitahu saudarinya. Sampai sekarang. Lima tahun, dia masih menunggu di Aldara.”
Pemuda itu tidak bicara. Memberi ruang.
“Dan saya berhenti membantu setelah itu —” Halim berhenti. “Saya bilang ke diri sendiri itu untuk menghormati mereka. Supaya tidak ada lagi yang mati karena keputusan saya.” Ia menarik napas — panjang, berat, tidak sepenuhnya berhasil.
“Tapi?”
“Tapi mungkin saya hanya takut.” Lanjut Halim.
Pemuda itu menatapnya.
“Saya meninggalkan Limina sepuluh tahun lalu,” kata pemuda itu pelan. “Saya berkata pada orang yang saya cintai bahwa saya membenci semua yang ia perjuangkan hanya supaya ia membiarkan saya pergi.”
Ia berhenti. Mulai lagi. “Saya pikir saya melindunginya. Sebenarnya saya melindungi diri sendiri dari harus memilih.”
“Dan sekarang kamu kembali.”
“Dan sekarang saya kembali. Mungkin terlambat. Mungkin dia tidak mau melihat saya.” Pemuda itu tidak memalingkan wajah. “Tapi setidaknya saya tidak lagi berdiri diam.”
Halim memutar gelasnya di atas meja. Kaca bergesek pelan di kayu yang lembab. “Kata-kata terakhirnya adalah ‘adikku menunggu.’ Saya menyimpan buku catatannya. Tidak pernah membukanya. Karena kalau saya buka, saya harus mengakui dengan keras pada diri sendiri bahwa saya gagal.”
“Dan sekarang?” Pemuda itu kembai bertanya.
Halim menatap ke luar jendela. Lampu-lampu tepi timur masih menyala di balik hujan. “Sekarang saya lebih takut mati di kursi ini.” Jeda. “Sungai tidak mengampuni. Dia hanya mengalir. Mungkin kita juga harus.” Jawab Halim.
Lampu di atas mereka berkedip satu kali, dua kali, bertahan.
“Jam malam dimulai dua jam lagi. Air sungai akan semakin tinggi karena hujan.” Suaranya datar — bukan tanpa emosi, tapi emosi yang sudah diselesaikan sebelum diucapkan. “Kalau kita menyeberang, kita berangkat sekarang.”
Pemuda itu menghembuskan napas. Panjang, terkontrol.
“Terima kasih.”
“Jangan.” Halim berdiri, punggungnya berderak pelan. “Berterima kasih kalau kamu menemukannya. Atau kutuk saya kalau tidak.”
✦ ✦ ✦
X.
SEMENTARA Halim mempersiapkan perahu di bawah, di Kamar Tujuh Aron duduk di tepi tempat tidur.
Ransel di lantai, masih tertutup. Ia belum membuka apapun. Hanya duduk. Menatap jendela yang menghadap ke timur. Ke arah sungai yang tidak terlihat dari sini tapi yang ia tahu ada di sana, memisahkan dia dari apa yang ia cari. Ia menutup mata.
Lenna melipat perban dengan sudut yang presisi. Tiga kali, bukan dua. Tangannya bergerak cepat tapi tidak terburu-buru, Jari-jarinya bergerak tanpa melihat.
“Kalau kamu melipat dengan benar,” katanya tanpa mendongak, “kamu tidak perlu mengulang.”
Aron menonton dari ambang pintu klinik. Ia datang untuk membantu, atau begitu yang ia katakan. Sebenarnya ia datang karena ada gravitasi tertentu dari cara Lenna bekerja. Fokus. Tidak ada gerakan yang terbuang. Setiap lipatan perban adalah keputusan.
“Kamu hanya mau berdiri di sana atau mau bantu?” Lenna mendongak, tersenyum. Sudut bibirnya naik sedikit — cukup untuk membuat Aron lupa apa yang sudah ia rencanakan untuk dikatakan.
“Aku tidak tahu cara melipat seperti itu.”
“Itu kenapa ada yang namanya belajar.” Ia melempar satu perban ke arahnya. “Tiga kali. Sudut rapi. Jangan terburu-buru.”
Aron mencoba. Lipatan pertama, tidak lurus. Lipatan kedua, terlalu longgar. Lipatan ketiga —
“Lebih baik. Sekarang ulangi lagi dua puluh kali sampai tanganmu ingat sendiri.”
Aron membuka mata. Tangannya bergerak sendiri di atas lutut — ibu jari melipat jari telunjuk, dua kali, tiga kali — sebelum ia sadar ia sedang melakukannya. Ia tidak tahu apakah Lenna masih melipat perban dengan cara yang sama. Tidak tahu apakah ia masih mau mengajarinya apapun setelah apa yang Aron katakan waktu itu. Yang ia tahu, ia harus mencoba.
Ia berdiri dan mengambil ransel. Di antara pakaian ganti dan dokumen perjalanan, ada satu perban medis yang ia beli di Kosamaya sebelum berangkat. Tidak tahu kenapa ia membelinya. Mungkin sebagai tanda. Mungkin sebagai permintaan maaf yang tidak bisa diucapkan. Ia meletakkannya di atas meja.
Di bawah, ia mendengar suara Halim bergerak di ruang belakang dengan langkah yang berbeda dari langkah biasa, lebih bertujuan. Lebih seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu.
Belum waktunya membawa perban itu turun. Tapi hampir.
✦ ✦ ✦
XI.
HALIM pergi ke kamarnya. Ia membuka laci meja. Buku catatan berkulit itu ada di sana, selalu di tempat yang sama. Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia mengambilnya tanpa membukanya. Ia hanya memegang dan merasakan berat di tangannya yang terasa tidak proporsional dengan ukurannya. Sudah hafal bentuk sampulnya. Sudah hafal tulisan yang pudar di sudutnya. Sudah hafal beban yang tidak pernah berubah meski tahun terus berjalan. Ia memasukkannya ke saku jaket.
Dari bawah papan lantai, tali tambang. Dari gudang bawah tanah, perahu lipat berukuran kecil — masih utuh, kulitnya berbau karet lama dan udara yang lama terkunci. Lampu kecil dimiringkan ke bawah, cahaya minimal. Pemuda itu membantu tanpa bertanya.
Di koridor atas, pintu Kamar Tiga terbuka sedikit. Ibu tua itu menatap ke bawah.
“Halim. Kamu yakin?”
“Tidak.”
Perempuan tua itu mengangguk perlahan. “Bagus.” Lalu ia menutup pintu.
BABAK TIGA: PERHITUNGAN
XII.
TEPI sungai. Titik tersembunyi di utara Hotel Korona, di antara reruntuhan dermaga lama yang tidak ada di peta resmi manapun.
Sungai Marga malam itu berbeda dari siang hari. Tinggi, coklat gelap, mengalir dengan urgensi yang hampir terasa personal. Pohon dan sampah dari hulu berputar di permukaannya. Bunyinya mengisi seluruh ruang di antara gedung-gedung runtuh di tepi. Bukan bunyi halus, tapi bunyi yang terdengar seperti sesuatu yang lapar, seperti tangan yang terus menepuk dinding kayu tanpa henti.
Pemuda itu menatapnya dan mengumpat, “Sial!”
“Masih bisa balik.” Halim menawarkan.
“Tidak bisa.”
Mereka masuk ke perahu dan Halim mulai mendayung. Arus langsung mendorong seperti peringatan. Tanpa kelembutan dan tanpa tawaran, seperti peringatan: Ini wilayah saya. Dan Halim sangat paham peringatan itu. Ia tahu kapan melawan dan kapan bekerja sama dengan cara memotong diagonal.
Air sungai yang dingin mulai masuk ke dalam perahu. Menggenang dari pergelangan kaki dan perlahan naik ke atas. Rasa dingin yang tidak hanya basah tapi juga menggigit, langsung masuk ke dalam tulang. Pemuda itu melihat air masuk. Tanpa berbicara, tangannya secara otomatis mena ranselnya lebih tinggi.
Di tengah perjalanan, perahu membentur sesuatu di bawah air. Dug! Perahu menghantam pilar jembatan lama. Halim seharusnya ingat itu ada di sini. Dalam lima tahun, ia sudah lupa detail-detail yang dulu ia hafal seperti garis tangannya sendiri.
Perahu miring. Air masuk dari sisi kiri, semburan pendek yang menyentuh paha mereka, dingin yang membuat napas tertahan sebentar. Pemuda itu meraih tali. Kuku-kukunya memutih.
Dan di dalam kepala Halim, seperti film yang diputar paksa:
Hujan yang sama. Arus yang sama.
Si arwah memegang sisi perahu, buku catatan dirapatkan ke dada.
“Terlalu kencang, Halim... terlalu —”
Tali putus. Tangan teraih. Udara yang tergenggam.
Air coklat yang menutup.
Halim mendayung keras dengan tubuhnya yang berumur enam puluh tujuh tahun. Tulang-tulangnya ingat setiap musim dingin yang pernah ia lalui. Lengannya terasa terbakar. Napasnya keluar tajam setiap kali ia menarik dayung, bunyi yang terdengar hampir seperti rintihan tapi ia tekan supaya tidak keluar seluruhnya.
Bau lumpur sungai memenuhi hidung. Bau lumpur yang bercampur dengan sesuatu yang lebih organik yang sudah membusuk di dasar sungai, bau yang membuat perut mual tapi mereka memilih untuk mengabaikannya. Arus menarik perahu ke selatan. Halim mendayung diagonal, melawan dengan sudut yang tepat. Air dingin sudah sampai ke lutut mereka. Pemuda itu tidak berbicara, tidak mengeluh, hanya memegang tali dan sisi perahu, tubuhnya tegang seperti tali yang hampir putus.
Tidak malam ini. Tidak lagi.
Halim mendayung. Dayung. Dayung.
Perahu memukul tepi timur dengan keras, bunyi seperti kain yang dirobek. Lambung perahu menggores batu-batu tajam di pinggir sungai, lalu berhenti.
Pemuda itu merangkak keluar, batuk-batuk. Menarik perahu ke darat dengan tangan gemetar tapi kuat. Halim berdiri. Membungkuk. Menarik napas dalam-dalam. Paru-parunya terasa seperti terbakar. kakinya hampir tidak bisa merasakan tanah di bawahnya. Ia meluruskan diri. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia melihat tepi timur dari dalam, bukan dari seberang.
Bukan reruntuhan seperti yang sering disebut radio. Lebih seperti kota yang sedang dalam proses menemukan kembali bentuknya. Lampu-lampu kecil di balik kain penutup jendela, warna kuning yang hangat. Bau kayu bakar dan sesuatu yang dimasak. Cat graffiti di tembok berlapis-lapis seperti sejarah yang tidak mau dihapus. Sebuah kota yang tidak menyerah.
Pemuda itu berdiri di sampingnya, melihat hal yang sama. Air masih menetes dari rambutnya.
“Sial,” umpat pemuda itu lagi. Kali ini berbeda. Bukan ketakutan.
“Pergi,” kata Halim. “Cari dia. Sebelum mereka menemukanmu.”
Pemuda itu mengangguk. Berbalik.
“Medis yang sedang kamu cari itu, siapa namanya?”
Berhenti. Berbalik.
“Lenna. Kenapa?”
Lenna.
Sesuatu terhubung di dalam dada Halim. Pelan, seperti kunci yang akhirnya menemukan lubangnya setelah bertahun-tahun mencoba pintu yang salah.
“Nama yang bagus.”
Ia merogoh saku jaketnya. Mengeluarkan buku catatan itu.
Pemuda itu menatapnya. “Apa itu?”
“Urusan yang belum selesai.” Halim menggenggam buku itu sebentar seraya merasakan beratnya untuk terakhir kali, berat yang sudah jadi bagian dari dirinya selama lima tahun. Lalu mendongak. “Orang yang saya hilangkan lima tahun lalu. Mereka meninggalkan pesan untuk seseorang bernama Aron Vale.”
Pemuda itu berhenti bernapas. Halim melihat otot di rahangnya mengencang, matanya bergerak ke buku catatan lalu ke Halim lalu ke tempat kosong di antara keduanya.
“Apa?” Suaranya keluar berbeda, lebih muda, entah bagaimana.
“Kata mereka, kalau kamu pernah bertemu Aron Vale dari Kosamaya, tolong sampaikan. Limina masih layak untuk diingat.”
“Siapa... siapa mereka?”
“Saya tidak pernah menanyakan nama. Hanya tahu mereka mencoba mencapai saudarinya di Aldara. Perempuan bernama Mira.”
Sesuatu lewat di wajah pemuda itu, kilatan cepat, nama yang hampir terbentuk lalu hilang.
“Saya tidak tahu siapa itu. Tapi… mereka tahu saya?”
“Kata mereka, ‘anak lelaki dekat sekolah lama.’ Mereka memperhatikan kamu tumbuh.”
Pemuda itu menatapnya lama lalu bertanya, “Kenapa anda baru bilang sekarang?”
Halim menatap buku catatan di tangannya satu kali lagi.
“Karena setidaknya kali ini saya tidak membiarkan sungai menang. Dan mungkin itu cukup.” Halim mengulurkan buku itu.
Pemuda itu mengambilnya dengan hati-hati. Berat di tangannya terasa tidak proporsional dengan ukurannya.
“Saya akan ingat. Saya janji.”
“Jangan balik dan ceritakan padaku.” Halim berbalik ke perahu. “Hiduplah saja. Itu yang diinginkan siapapun.” Lanjutnya.
Pemuda itu berbalik, berjalan, lalu menghilang ke lorong-lorong tepi timur. Langkahnya cepat, tapi tidak panik.
Halim sendirian di tepi sungai. Tangannya kosong untuk pertama kalinya dalam lima tahun.
✦ ✦ ✦
XIII.
HALIM mendayung kembali sendirian. Hujan sudah berhenti. Air sungai masih tinggi tapi arusnya sudah mulai lunak, seperti seseorang yang baru selesai marah dan kelelahan sendiri. Halim mendayung diagonal, memanfaatkan geometri yang selalu ia tahu tapi sempat ia lupakan. Lengannya masih terasa terbakar. Setiap tarikan dayung terasa seperti ada yang mengoyak dari dalam. Tapi ia terus bergerak.
Di tengah sungai, ia berhenti mendayung. Perahu bergerak perlahan mengikuti arus, miring ke selatan. Halim membiarkannya. Tangannya kosong. Tidak ada buku di saku jaket kirinya. Ruang yang sudah lima tahun terisi beban, sekarang hanya berisi kain dan udara. Ia hanya perlu membiasakan rasanya, seperti orang yang belajar berjalan lagi setelah lama tidak berjalan.
Di dalam kepalanya, ia sudah hafal isinya. Hafal tanpa pernah membuka, karena rasa bersalah yang cukup besar selama lima tahun bisa membuat seseorang mengingat sesuatu yang tidak pernah dibaca.
Mira Colin, 24 Jalan Oleander, Aldara.
Kalau saya tidak sampai ke seberang, bilang Mira saya sudah mencoba.
Dan kalau kamu pernah bertemu anak lelaki bernama Aron Vale, bilang padanya kota ini masih layak untuk diingat.
“Saya tidak membiarkan dia tenggelam. Anak lelaki yang kamu minta saya untuk menyampaikan pesanmu. Saya sudah membawa dia ke seberang. Pesanmu sudah sampai.” Halim berbisik ke sungai, ke si arwah yang mungkin masih ada di suatu tempat di dasar atau di arus atau di mana arwah-arwah sungai pergi.
Sungai tidak menjawab.
“Mungkin itu yang akan kamu inginkan.” Ucap Halim lirih.
Berat di dadanya tidak terangkat. Tapi ia bergeser. Bukan lebih ringan. Hanya berbeda. Dan ia mulai mendayung lagi.
✦ ✦ ✦
XIV.
FAJAR. Cahaya pucat, seperti biasa.
Halim mengikat perahu, menyembunyikannya di antara reruntuhan dermaga. Berjalan kembali ke Hotel Korona dengan tubuh yang terasa seperti sudah diperas. Setiap langkah membuat lutut berderik.
Di dalam, radio menyala.
“...pasukan penjaga perdamaian PBB meningkatkan kehadiran di Limina menyusul laporan tentang operasi militer yang akan datang...”
Halim duduk di bar. Menuang arak. Meminumnya. Tangannya masih gemetar sedikit.
Ibu tua menghampiri, jubah paginya disampirkan longgar.
“Kamu terlihat seperti mayat.”
“Rasanya juga begitu.”
“Dia berhasil?”
“Ya.”
Perempuan tua tidak bicara lagi. Kembali ke kamarnya.
Halim sendirian.
✦ ✦ ✦
XV.
MEJA kecil yang tertutup debu di dalam kamarnya. Halim duduk dan mengeluarkan selembar kertas dari laci paling bawah. Kertas surat lama yang sudah agak menguning di pinggirnya, tapi masih bisa dipakai. Ia menemukan pena lalu mulai menulis. Ia menulis dari tempat lain. Dari tempat yang sudah ia simpan tanpa pernah dikatakan selama lima tahun.
Mira Colin yang terhormat,
Kamu tidak kenal saya. Lima tahun lalu, seseorang yang menyayangimu menyewa saya untuk membawa mereka menyeberangi Sungai Marga. Mereka tidak sampai.
Seharusnya saya memberitahumu sejak dulu.
Kata-kata terakhir mereka adalah “adikku menunggu.” Dan kamu menunggu. Dan saya membiarkanmu menunggu sendirian.
Mereka mencoba. Mereka sangat menyayangimu.
Maafkan saya.
Halim Kosan
Hotel Korona, Limina
Ia melipat surat itu. Mengambil amplop. Menulis di bagian luar amplop dengan tangan yang tidak gemetar untuk pertama kalinya sejak malam itu.
Mira Colin. 24 Jalan Oleander, Aldara.
Ia tidak tahu apakah alamat itu masih berlaku. Lima tahun adalah waktu yang lama. Orang pindah. Orang pergi. Orang mati dalam perang yang tidak pernah benar-benar selesai. Tapi ia tidak tahu. Dan mungkin karena tidak tahu itulah yang membuat surat itu tetap perlu dikirim.
✦ ✦ ✦
XVI.
PAGI mulai menanjak. Hotel Korona diam dalam caranya sendiri. Ibu tua pergi ke pasar. Pria di Kamar Lima masih tidur. Kamar Tujuh kosong. Barang-barang pemuda itu sudah hilang, ia tidak meninggalkan apapun kecuali lekukan di bantal dan sedikit lumpur dari sela-sela sepatunya di lantai.
Halim kembali mengelap permukaan bar. Dengan gerakan yang sama. Dengan lingkaran yang sama. Tapi terasa berbeda pagi ini.
“...aktivitas dilaporkan meningkat di tepi timur... Para pengamat mencatat ketegangan tetap tinggi namun dialog masih berlanjut...”
Ia menyalakan rokok kretek. Menatap sungai melalui jendela yang berembun. Hanya sungai. Hanya air yang mengalir karena itu yang dilakukan air.
Ia mengambil amplop dari meja. Berdiri. Berjalan ke pintu depan. Lalu berhenti di ambang pintu dengan satu kaki di dalam dan satu di luar.
Halim Kosan, enam puluh tujuh tahun, pemilik hotel dengan delapan kamar dan satu luka yang sudah ia jaga selama lima tahun seperti api yang tidak boleh padam. Berdiri di ambang pintu cukup lama untuk menyadari bahwa ia sudah berdiri di sini sejak malam si arwah tenggelam. Selalu satu kaki di dalam, selalu satu kaki di luar, selalu menunggu kepastian yang tidak pernah datang. Kepastian tidak datang. Itu bukan cara kerjanya.
Saku jaket kirinya kosong. Buku itu sudah di tangan yang tepat. Amplop ini yang tersisa — satu hal terakhir yang perlu berpindah dari dalam ke luar. Beban amplop terasa ringan di tangannya.
Halim melangkah keluar.
Ia tidak akan pernah bersih. Sungai tidak mencuci rasa bersalah — ia hanya membawanya ke tempat lain. Tapi mungkin itu cukup. Membawanya. Terus bergerak.
Ia terus berjalan.
— SELESAI —
CATATAN PENULIS
Halim melangkah keluar dari hotelnya untuk pertama kalinya dalam lima tahun.
Ia mengirim surat. Ia melepas buku catatan. Ia memilih untuk terus bergerak.
Tapi pertanyaan yang ditinggalkannya di Sungai Marga bukan hanya tentang masa lalu—ia juga tentang seorang pemuda bernama Aron Vale, yang malam itu menyeberang ke Cangkang untuk mencari seseorang yang namanya tidak pernah ia lupakan.
Apa yang ia temukan di seberang sungai?
Apa yang terjadi pada perempuan yang ia cari?
Dan apa hubungan nama Vale dengan kota yang tidak pernah memaafkannya?
The Way You Say Their Name — kisah tentang nama-nama yang disimpan di tempat yang tidak sering dikunjungi, dan tentang mereka yang akhirnya berani memanggilnya.
Baca Novel Sekarang
Komentar