Chronicle Limina — Cerpen Gratis

Sisters

BABAK SATU: TAWARAN

I.

KAKAK bilang aku tidur seperti orang yang siap lari.

Bantal di ujung kasur, sepatu di bawah tempat tidur, tas selalu tergantung di paku yang terpasang di dinding. Siap untuk apa, aku tidak pernah tanya. Tapi ia benar. Aku selalu siap.

Pagi ini aku bangun sebelum dia. Aku selalu bangun lebih dulu. Kakak bilang itu karena aku tidak bisa beristirahat, karena otakku tidak tahu cara mati suri. Aku pikir itu karena aku tidak mau ketinggalan apa pun.

Ruangan kami sempit. Satu kamar di lantai dua bangunan yang separuh atapnya sudah runtuh, di Cangkang, begitu orang menyebut distrik ini, karena yang tersisa dari gedung-gedung tua itu hanya cangkangnya: dinding tanpa isi, rangka tanpa daging.

Di lantai bawah ada keluarga Mustafa, ibu, ayah, tiga anak. Di sebelah kiri ada Mbak Sari yang sendirian sejak suaminya ditangkap tahun lalu. Setiap pagi aku dengar ia menggerakkan kursi di dapur — selalu sama, selalu di jam yang sama — seperti rutinitas itu sendiri adalah bukti bahwa ia masih ada. Di sebelah kanan ada dua orang lelaki muda yang tidak pernah aku tahu namanya karena mereka datang dan pergi seperti angin.

Kami semua tidur di balik dinding yang sama. Kami semua berpura-pura privasi itu nyata.

Aku membuat teh dari daun yang sudah dipakai tiga kali. Warnanya lebih mirip air keruh daripada teh, tapi panasnya nyata dan itu sudah cukup. Sambil menunggu air mendidih, aku menatap Kakak tidur.

Ia terlihat berbeda waktu tidur. Lebih muda. Atau mungkin lebih tua. Aku tidak bisa memutuskan mana. Di wajahnya ada garis-garis yang tidak seharusnya ada di usia dua puluh lima. Tapi matanya, waktu tertutup, tidak punya beban yang biasa ia bawa waktu terbuka.

Kakak pulang jam dua pagi tadi. Aku tidak tidur menunggunya, tidak pernah bisa tidur sampai aku dengar pintu dibuka. Ia masuk tanpa bicara, cuci tangan terlalu lama di wastafel kecil kami, lalu berbaring tanpa membuka sepatunya sampai aku ingatkan. Itu artinya malam yang berat. Kalau malam biasa, ia masih sempat cerita satu atau dua hal sebelum tidur.

Aku tidak tanya. Aku sudah belajar kapan harus bertanya dan kapan harus diam.

Aku taruh secangkir teh di sebelah kasurnya. Ia akan minum itu nanti waktu bangun — sudah pasti dingin, tapi tidak apa-apa — lalu tulis catatan kecil:

Ke pasar + kirim paket. Balik sore. — K

Tas di punggung. Sepatu di kaki. Siap.

✦ ✦ ✦

II.

TEMPAT aman LLM di tepi timur bukan satu tempat. Ia berpindah setiap tiga hari, supaya jejak tidak terbentuk, supaya pola tidak terbaca. Minggu ini di ruang bawah tanah gedung bekas apotek yang sudah tutup. Aku hafal semua titiknya karena itu sebagian dari tugasku: logistik, pengiriman, hafalan.

Aku yang termuda di ruangan ini. Selalu aku yang termuda.

Reza sudah berdiri di depan ketika aku tiba. Pertengahan empat puluhan, tubuh yang terlihat seperti sudah menanggung lebih banyak dari yang seharusnya ditanggung satu badan, tapi gerakannya tidak pernah terlihat berat. Matanya selalu seperti sedang menghitung sesuatu.

Di sudut, Nico duduk dengan kaki menyelonjor, tulang betis kirinya masih dibalut dari dua minggu lalu. Sembilan belas tahun tapi wajahnya tidak punya satu pun ekspresi yang biasanya dimiliki orang sembilan belas tahun.

Lima atau enam orang lain berdiri atau duduk di sekitar meja. Aku berdiri di belakang, di dekat pintu, posisiku selalu di belakang, dekat pintu.

“Operasi besar empat puluh delapan jam lagi,” kata Reza tanpa pembukaan. “Kita butuh jadwal patroli Saraya, rotasi checkpoint, kapan pergantian penjaga, rute yang sedang mereka prioritaskan.”

Ia menyebutkan nama informan dan lokasi dengan cepat. Aku mendengarkan dan mencatat di kepala, tidak pernah di kertas, selalu di kepala.

“Butuh pengantar ke barat hari ini. Ambil paket dari kontak, bawa kembali sebelum malam.”

Ia melihat sekeliling ruangan. “Siapa yang bisa lintas ke barat hari ini?”

Hening. Bukan hening ragu, hening dari orang-orang yang sudah tahu alasan mereka tidak bisa. Terlalu dikenal di checkpoint. Sudah pernah ditahan sekali jadi nama mereka ada di buku. Wajah yang sudah terlalu sering terlihat.

Reza melihatku.

“Kira.”

Jantungku melompat. Bukan karena takut. Karena ini.

“Kamu bisa?”

Ini yang sudah aku tunggu. Bukan pengiriman sayuran. Bukan mengangkat kotak obat dari satu titik ke titik lain. Sesuatu yang penting. Sesuatu yang nyata.

“Bisa.”

“Café Malam, tepi barat. Ambil paket dari kontak di sana. Kembali sebelum jam tujuh.” Ia mendorong dokumen ke mejaku, kartu identitas palsu dan surat izin perjalanan. “Jangan hilang. Jangan tertangkap.”

“Mengerti.”

Aku ambil dokumennya. Tanganku tidak gemetar. Aku pastikan itu.

“Kira.”

Nico. Dari sudutnya, tanpa menggerakkan posisinya.

“Kamu yakin?”

“Aku bukan anak lima tahun, Nico.”

Aku tahu. Tapi ini bukan main-main.”

“Aku tahu.”

Ia menatapku, bukan tatapan yang meremehkan dan juga bukan yang meragukan. Hanya menatap seperti orang yang sudah pernah pergi ke tempat yang akan aku tuju dan membawa pulang sesuatu yang tidak ia rencanakan.

“Oke,” katanya akhirnya.

Aku keluar dari ruangan itu dengan langkah yang dikontrol. Baru di luar, di udara yang berbau asap dan beton basah, aku izinkan diri untuk berpikir.

Akhirnya. Sesuatu yang nyata.

Lalu sedetik kemudian.

Kakak tidak boleh tahu.

✦ ✦ ✦

III.

AKU tidak berbohong. Tidak sepenuhnya.

Aku ke pasar, benar. Aku kirim paket, benar.

Hanya paketnya bukan dari Kakak untuk kenalan. Paketnya dariku, untuk operasi yang bahkan Kakak tidak tahu keberadaannya. Kalau ia tanya nanti, aku bisa menjawab dengan jujur.

Di tepi timur, aku hafal setiap jalan. Hafal mana yang aman, mana yang perlu dihindari jam tertentu, mana yang penjaganya bisa diajak bercanda dan mana yang tidak. Di sini aku bukan orang asing. Di sini aku Kira, adik Lenna, anak yang tumbuh besar di antara reruntuhan dan tahu cara membaca kota seperti membaca tangan sendiri.

Di tepi barat lain ceritanya.

Checkpoint Barat Enam adalah yang paling bisa ditembus untuk wajah baru. Aku pilih itu karena sebelumnya aku sudah tiga kali melewatinya, selalu untuk tugas logistik biasa, selalu aman. Tentara di sana biasanya muda, bosan, tidak terlalu teliti kalau dokumennya terlihat resmi.

Hari ini juga begitu. Tentara dua puluhan, rambut sudah mulai memanjang di bawah baret, tatapan orang yang sudah berdiri di pos terlalu lama.

“Keperluan?”

“Kunjungi keluarga. Tepi barat.”

Ia membaca izin perjalanan. Satu detik, dua detik.

Mengembalikan. Tidak tersenyum, tapi tidak menghalangi.

Aku lewat.

Mudah, pikirku. Kakak pikir aku tidak bisa. Tapi aku bisa.

Tepi barat berbeda dari tepi timur bukan hanya soal arsitektur atau siapa yang punya senjata di jalan-jalannya. Perbedaannya lebih halus. Di tepi timur, semua orang bergerak dengan tujuan atau berpura-pura bergerak dengan tujuan. Di tepi barat, masih ada orang-orang yang berjalan tanpa rasa terburu-buru, masih ada warung yang buka sampai sore, masih ada satu dua anak yang bermain di halaman meski halamannya kecil dan tembok sekelilingnya sudah tambalan.

Aku tidak punya waktu untuk menikmati itu. Aku punya alamat dan tenggat waktu.

Café Malam. Aku hafal namanya dari arahan Reza.

Aku temukan kafe itu di jalan yang lebih tenang dari yang aku bayangkan. Tidak terlalu jauh dari checkpoint, hanya tiga belokan. Dari luar terlihat seperti kafe biasa yang sedang tutup sore hari, kecuali papan di pintunya tidak bertuliskan jam buka.

Hanya: TUTUP.

Tidak ada penjelasan. Tidak ada jam. Hanya TUTUP, dengan huruf kapital yang terasa lebih final dari biasanya.

✦ ✦ ✦

IV.

AKU ketuk pintu.

Tidak ada jawaban.

Ketuk lagi, lebih keras.

Masih tidak ada.

Coba membuka gagang pintu. Terkunci. Lirik ke jendela, gelap di dalam, tidak ada tanda kehidupan. Lirik ke kiri dan kanan. Tidak ada orang di depan bangunan ini yang terlihat seperti kontak yang menunggu.

Perutku mulai tidak karuan.

Reza bilang kontak di sini. Di mana kontaknya?

Aku mundur selangkah, mencoba melihat keseluruhan fasad. Ada foto festival tua di belakang kaca jendela yang berdebu, Limina sebelum semua ini, orang-orang berpakaian warna-warni. Di dinding sebelah kiri pintu ada bekas tanda yang sudah dilepas, meninggalkan persegi pucat di cat. Seperti sesuatu yang baru-baru ini pergi.

Dari seberang jalan, seorang perempuan tua menatapku. Tas belanja besar di kakinya, duduk di undakan depan toko yang juga tutup.

Aku menyeberang.

“Permisi, bu. Kafe ini, kapan tutupnya?”

“Tiga hari lalu.” Nada tidak tertarik — bukan tidak ramah, hanya datar. “Pemiliknya pindah. Ke Aldara.”

Tiga hari lalu. Artinya kontak Reza sudah pergi sebelum arahan diberikan. Artinya ada miskomunikasi. Artinya aku berdiri di depan kafé kosong dengan dokumen palsu di tas dan tidak ada paket yang bisa kubawa kembali.

Misi pertamaku yang penting. Dan aku gagal sebelum mulai.

“Tidak ada orang di dalam?” Suaraku terdengar lebih stabil dari yang aku rasakan.

“Tidak ada.” Perempuan tua itu menatapku lebih teliti sekarang. “Kamu cari Dara?”

Dara. Aku pernah dengar nama itu. Dari Kakak. Disebutkan sekali, cepat, waktu ia pulang tengah malam beberapa bulan lalu, tentang seseorang yang pergi karena perbedaan yang lebih besar dari cinta. Aku tidak ingat detailnya. Hanya ingat nada suara Kakak waktu menyebutnya — sedih, tapi sedih yang tidak bisa dijelaskan.

“Ya,” aku jawab, meski aku tidak benar-benar tahu.

Perempuan tua itu mengangguk pelan. “Sudah pergi. Tinggalkan semuanya. Tomas juga.”

Tomas. Nama itu juga pernah aku dengar, dari Reza, bulan lalu, waktu ia menyebut medis yang bekerja di klinik tepi timur sebagai “salah satu yang terbaik.” Aku belum pernah bertemu orangnya. Kakak dan Tomas bekerja di klinik yang berbeda waktu itu, sebelum mereka akhirnya bergabung di tempat yang sama.

Benang-benang mulai terhubung di kepalaku. Café Malam, Dara, Tomas, Kakak. Orang-orang yang hidupnya baru mulai bersinggungan di kota kecil ini, yang membuat pilihan berbeda di waktu yang hampir bersamaan, yang meninggalkan jejak di tempat-tempat seperti ini sebelum jalan mereka benar-benar bertemu.

Aku berdiri di sana. Sungai masih terdengar dari sini, angin membawa suaranya dari arah timur. Selalu sungai.

Seseorang menepuk bahuku dari belakang. Aku berbalik cepat dengan tangan sudah di pinggang, jari sudah menyentuh gagang pisau kecil yang selalu kubawa. Refleks. Kakak yang ajari.

Perempuan dua puluhan. Tangan terangkat. Santai, tidak mengancam.

“Hei. Santai. Kamu cari Dara?”

Aku tidak menurunkan kewaspadaan. “Siapa kamu?”

“Teman dia. Katanya, kalau ada yang datang minggu ini dari tepi timur dan cari dia, kasih ini.” Tangannya turun perlahan, merogoh saku jaket. “Ia sudah pergi tiga hari lalu tapi ia tahu ada yang akan datang. Ia titip ini sebelum berangkat.”

Amplop putih. Tersegel rapi.

“Untukku?”

“Kalau kamu yang Reza kirim, ya.”

Aku ambil amplopnya. Terasa berat untuk ukurannya.

“Hati-hati,” kata perempuan itu. “Checkpoint lebih ketat hari ini. Ada pergantian komandan.”

Lalu ia pergi, ke belokan, hilang.

Aku berdiri sendirian di depan kafe yang sudah kosong dengan amplop di tangan.

Misi tidak gagal. Tapi ini baru setengah jalan. Masih harus balik.

✦ ✦ ✦

V.

CHECKPOINT yang sama, jam yang berbeda.

Sore menjelang malam. Langit di tepi barat sudah mulai jingga di ujungnya, warna yang di Limina selalu terasa seperti peringatan. Antrean di checkpoint lebih panjang dari tadi pagi. Dan tentara yang berjaga bukan yang tadi.

Yang ini lebih tua. Mata yang tidak bosan. Mata yang sudah belajar mencari sesuatu.

Aku berdiri di antrean. Dua orang di depanku. Aku mengatur napas, mengatur ekspresi, mengatur postur. Bahasa tubuh adalah setengah dari berbohong. Kakak tidak pernah mengajariku berbohong tapi entah bagaimana aku belajar sendiri.

Giliranku.

“Dokumen.”

Aku serahkan kartu identitas dan izin perjalanan.

Ia membacanya. Lebih lama dari tadi pagi. Jauh lebih lama.

“Keperluan masuk tepi barat tadi pagi?”

“Kunjungi keluarga.”

“Keluarga di mana?”

Aku sebutkan alamat yang sudah kuhafal dari arahan. Jalan Melati empat belas, nama fiktif yang cukup umum untuk tidak mudah dikonfirmasi.

Ia membuka buku besar. Membalik halaman.

“Tidak ada yang terdaftar di sana dengan nama keluargamu.”

“Keluarga jauh. Belum tentu terdaftar.”

Matanya naik dari buku. Menatapku langsung.

“Buka tas.”

Detak jantungku naik. Bukan panik. Panik adalah kemewahan yang tidak bisa dibayar sekarang. Ini hanya informasi — situasi berkembang, dan aku perlu beradaptasi.

Aku membuka tas. Tomat, singkong, bayam. Dokumen-dokumen di saku samping.

Dan amplop. Di bawah singkong, setipis mungkin aku sembunyikan.

Ia mulai merogoh tas. Tangannya kasar, tidak hati-hati. Bukan memeriksa, mencari.

Jarinya mendekati bagian bawah tas.

Aku tidak bernapas.

Amplop itu tebal. Ia akan merasakannya.

Pilihan terbentuk di kepalaku dalam sepersekian detik.

Satu: biarkan ia temukan. Coba jelaskan. Mungkin lolos, mungkin tidak. Tapi pasti akan ada laporan. Namaku akan masuk sistem.

Dua: lari sekarang. Sebelum ia menyentuh amplop. Belok kanan, masuk gang, hilang sebelum mereka sempat kejar.

Tiga: distraksi. Tanganku bergerak, bukan ke tas tapi ke saku samping celana. Menyentuh ujung pisau kecil. Kakak bilang jangan pernah tarik pisau kecuali kamu yakin akan pakai. Tapi aku tidak akan pakai. Aku hanya perlu mereka pikir aku akan.

Jarinya menyentuh tepi amplop.

Aku tarik pisau. Cepat, refleks seperti orang yang ketakutan, lalu langsung jatuhkan ke tanah dengan bunyi logam yang cukup keras.

Tentara itu refleks mundur. Tangannya keluar dari tas, meraih senjata di pinggangnya.

“JANGAN BERGERAK!”

Aku angkat kedua tangan, tinggi, jelas, tidak mengancam. Mata terbuka lebar seperti orang yang baru sadar ia melakukan kesalahan besar.

“Maaf! Maaf, itu untuk potong sayur, aku lupa di saku, maaf—”

Dua tentara lain sudah ada di sebelahnya. Semua mata ke pisau kecil di tanah, cukup tajam untuk terlihat berbahaya, cukup kecil untuk terlihat seperti alat dapur.

Tentara pertama menatapku. Lalu pisau. Lalu tasku yang masih terbuka dengan sayuran di dalamnya.

Perhitungan di matanya, jelas terbaca: ancaman nyata atau anak bodoh yang lupa ada pisau di sakunya?

“Ambil pisaunya,” katanya ke tentara lain. “Kamu. Tutup tasmu. Pergi. Jangan bawa senjata lagi ke checkpoint.”

“Maaf, pak. Tidak akan lagi.”

Aku tutup tas. Amplop masih di dalamnya, tidak tersentuh.

Berjalan.

Langkah pertama stabil. Langkah kedua stabil. Langkah ketiga, empat, lima, jangan buru-buru, jangan terlalu pelan, jangan terlihat seperti seseorang yang baru saja melakukan sesuatu yang ia tidak mau ketahuan.

Di balik belokan pertama, di gang sempit yang berbau got dan beton basah, aku bersandar ke dinding. Punggungku menyentuh tembok dan aku biarkan ia menahan beratku.

Kakiku gemetar. Bukan sedikit. Benar-benar gemetar, dari lutut ke bawah, gemetar yang tidak bisa diperintah untuk berhenti.

Aku menunggu.

Satu napas panjang. Dua. Tiga.

Kakiku masih gemetar di napas keempat. Dan kelima. Baru di keenam mulai mereda.

Hanya kakiku. Sisanya tidak boleh.

Terlalu dekat.

Aku pikir aku tahu apa artinya berbahaya. Aku tinggal di tepi timur, aku tumbuh besar dengan suara tembakan yang cukup jauh untuk tidak mengancam tapi cukup dekat untuk tidak bisa diabaikan. Aku pikir aku sudah terbiasa.

Ternyata “hampir tertangkap” rasanya berbeda dari semua yang pernah aku bayangkan.

Tapi aku lolos.

Aku ambil napas sekali, panjang, lalu mulai berjalan kembali ke tepi timur.

✦ ✦ ✦

BABAK DUA: KONFRONTASI

VI.

REZA membaca isi amplop dengan cepat, matanya bergerak horizontal tanpa ekspresi yang bisa kubaca.

“Bagus.” Ia melipat kertas itu kembali. “Ini yang kita butuhkan.”

Nico di sudut ruangan. Sudah ada di sana waktu aku masuk, entah kapan ia datang.

“Operasi besok bisa jalan dengan ini.” Reza menatapku. Matanya tidak langsung bergerak ke hal berikutnya seperti biasa, ada sesuatu yang berbeda, ia berhenti sedetik lebih lama sebelum berbicara lagi. “Kamu melakukannya dengan baik.”

Aku mencoba tidak tersenyum terlalu lebar. Tidak sepenuhnya berhasil.

“Besok ada pengiriman lagi. Sama pentingnya. Tapi lebih berbahaya.”

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu di wajah Reza yang berbeda dari biasanya. Bukan ragu, lebih seperti seseorang yang sedang menimbang sesuatu yang tidak ia sukai untuk ditimbang. Ia melihat ke tangannya sendiri sebentar. Tangan yang terlihat terlalu lelah untuk usianya.

“Aku punya anak,” katanya. Diucapkan tanpa niat untuk bercerita. Lebih seperti kalimat yang lolos. “Perempuan. Umurnya hampir sama denganmu waktu ia—” Ia berhenti. Menyelesaikan kalimatnya ke arah lain. “Waktu aku kehilangan dia.”

Ruangan terasa lebih sunyi.

“Ia juga bilang ia bisa. Ia juga bilang ia tidak takut.” Reza tidak menatapku waktu berkata itu. Matanya di meja. “Dan ia benar. Sampai ia salah.”

Tidak ada yang bisa dikatakan untuk hal seperti itu. Aku tidak mencoba.

Reza mengangkat pandangannya. Kembali ke mode yang aku kenal, langsung, efisien.

“Jadi ketika aku tanya: kamu bisa? Yang aku maksud bukan hanya apakah kamu mampu. Tapi apakah kamu mengerti risikonya. Apakah kamu tahu apa yang kamu pertaruhkan.”

“Bisa.”

“Kakakmu tahu kamu di sini?”

“Ia tidak harus tahu semua yang aku lakukan.”

”Itu benar. Tapi kalau ia tanya, jangan bohong. Itu tidak adil untuk dia.”

Aku pergi.

✦ ✦ ✦

Kakak menungguku di rumah waktu aku tiba.

Lengan bersilang, berdiri di tengah ruangan. Di ruangan sekecil ini, berdiri di tengah artinya kamu memang sengaja memblok jalan masuk.

“Dari mana kamu?”

“Aku bilang. Pasar.”

“Pasar tutup jam empat. Sekarang jam tujuh.”

“Aku jalan-jalan.”

Ia maju selangkah. Matanya bergerak cepat ke wajahku, tanganku, pakaianku. Pandangan seorang medis yang terlatih membaca tubuh orang sebelum orang itu sempat berbicara.

“Kamu ke mana.”

Bukan pertanyaan.

Aku diam tiga detik terlalu lama.

“Rumah aman.”

Wajah Kakak berubah. Takut dulu. Baru marah. Aku sudah hafal urutannya.

“Apa yang Reza suruh kamu lakukan.”

“Hanya kirim pesan—”

“Ke mana.”

“...Barat.”

Ia tidak bergerak. Diam seperti seseorang yang sedang menghitung sesuatu, atau sedang memutuskan bagaimana caranya agar tidak meledak.

“Kamu melintasi checkpoint.”

“Ya, tapi aku—”

“KAMU BISA DITANGKAP.” Suaranya meledak, jarang sekali, dan setiap kali selalu terasa seperti langit-langit turun. “KAMU BISA HILANG DAN AKU TIDAK AKAN TAHU DI MANA—”

Ia berhenti. Napas panjang. Tangannya mengepal lalu dibuka, mengepal lalu dibuka.

Waktu suaranya keluar lagi, sudah lebih pelan. Tapi gemetar.

“Jangan lakukan itu lagi.”

“Kenapa tidak?”

Ada sesuatu yang naik di dadaku. Bukan marah, lebih seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ditekan dan sekarang tidak ada ruang lagi. Aku menarik napas dan napasnya salah, terlalu pendek — dan itulah yang akhirnya membuka semuanya.

“Aku berhasil. Aku bawa informasi yang Reza butuhkan. Aku berguna.”

“Kamu baru tujuh belas—”

“Kamu juga baru tujuh belas waktu Ayah sama Ibu mati!” Kalimat itu keluar sebelum aku bisa menahannya. Kasar, tidak rapi, persis seperti yang bertahun-tahun disimpan di tempat yang tidak pernah aku akui ada. “Kamu juga baru tujuh belas waktu mulai kerja di klinik! Kamu masih tujuh belas waktu mulai ngurus aku! Jangan bilang aku terlalu muda!”

Kakak membeku di tempatnya.

“Kamu hebat,” aku melanjutkan, lebih pelan sekarang, suaraku sudah kehilangan amarahnya. “Kamu penting. Kamu berarti sesuatu. Kenapa kamu tidak mau aku jadi seperti itu?”

“Kamu pikir aku hebat?”

“Tentu saja.”

“Aku tidak tidur lebih dari empat jam sehari selama tiga tahun.” Suaranya sudah tidak gemetar. Lebih buruk dari itu, datar. “Aku punya mimpi buruk setiap malam tentang pasien yang tidak bisa aku selamatkan. Aku tidak punya teman karena mereka semua sudah mati atau pergi. Aku tidak punya masa depan selain ini, klinik, luka, dan berharap besok aku masih hidup.”

Jeda.

“Masih mau jadi seperti aku?”

Aku berpikir tentang gemetar di kakiku di gang sempit tadi. Tentang jari tentara yang tadi hampir menyentuh amplop.

“Kalau itu artinya aku penting, ya.”

Kakak menatapku sedetik lagi. Lalu berbalik. Berjalan keluar.

Pintu tidak dibanting. Itu hampir lebih buruk dari kalau dibanting.

Aku sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa lebih sempit.

✦ ✦ ✦

VII.

AKU duduk di lantai. Punggung menempel ke dinding, lutut ditekuk ke dada.

Kata-kata Kakak ada di kepalaku — tidak tidur lebih dari empat jam, mimpi buruk setiap malam, tidak punya teman — tapi aku tidak tahu bagaimana menyusunnya menjadi sesuatu yang bisa kupegang. Mereka hanya ada.

Menggantung.

Aku pikir aku tahu apa yang ia bayar. Tapi hanya secara abstrak: aku tidak tahu berapa jam tidur yang dipotong, berapa nama yang diingat dari orang-orang yang tidak bisa diselamatkan, berapa kali ia cuci tangan di wastafel kecil itu terlalu lama malam ini dan malam-malam sebelumnya.

Dua hal yang berbeda.

Yang aku tahu: hari ini aku hampir tertangkap. Hari ini aku berbohong pada Kakak. Hari ini aku mempertaruhkan sesuatu yang aku tidak sepenuhnya mengerti risikonya.

Dan aku masih ingin melakukannya lagi besok.

Aku tidak tahu nama apa yang tepat untuk itu.

✦ ✦ ✦

Atap bangunan ini adalah tempatku pergi kalau tidak bisa tidur, tidak mau berpikir, atau tidak mau bertemu siapa pun. Tiga alasan yang sering datang bersamaan.

Malam ini ketiganya.

Nico sudah ada di sana. Ia duduk di tepi dengan kaki menggantung di luar, punggung menghadap ke kota. Rokok di jarinya tidak dihisap, hanya dipegang, ujungnya sudah hampir habis terbakar sendiri. Betis kirinya yang masih dibalut perban terlihat kaku di bawah celana yang dilipat ke atas. Ia duduk agak miring ke kanan, menghindari beban di sisi kiri, kebiasaan yang sudah lama jadi tubuh, tanpa dipikir.

Aku hampir balik turun. Tapi ia berbicara lebih dulu tanpa menoleh.

“Bertengkar dengan Lenna?”

“Kamu dengar?”

“Semua orang dengar. Temboknya tipis.”

Aku duduk agak jauh darinya. Tepi yang berbeda, melihat ke arah sungai. Ke lampu-lampu tepi barat yang terlihat dari sini seperti bintang yang jatuh terlalu rendah.

Hening.

“Ia khawatir,” kata Nico. “Itu wajar.”

“Ia memperlakukan aku seperti aku tidak bisa apa-apa.”

“Atau ia memperlakukan kamu seperti ia sayang padamu.”

“Sama aja.”

“Tidak. Percaya aku. Tidak sama.”

Ia mematikan rokok di tepi tembok, menekan, memutar, selesai. Gerakan yang sudah dihafal tubuhnya. Lalu ia diam sebentar menatap puntungnya seperti tidak tahu mengapa ia mulai merokok tadi.

“Waktu kamu umur tujuh belas,” aku akhirnya bertanya, “kamu sudah di LLM?”

“Enam belas.” Jawabannya langsung. “Gabung karena kakak lelakiku gabung. Ia bilang aku akan jadi pahlawan.”

Ia berhenti di situ. Tidak melanjutkan.

“Dan?” aku bertanya lagi.

“Ia mati enam bulan kemudian.” Diucapkan dengan nada datar, nada seseorang yang sudah terlalu sering mengucapkannya untuk masih merasa sedih. ”Jalan Karya Lima. Tidak heroik. Hanya mati.”

“Maaf.”

“Jangan.”

Ia memutar kepala ke arahku untuk pertama kali malam ini. Matanya tidak menyimpan kasihan atau penghakiman. Hanya melihat.

“Jangan,” katanya lagi. Satu kata, lebih pelan dari yang pertama.

Aku diam.

“Tapi,” katanya, “aku tahu kamu tidak akan dengar.”

“Kenapa kamu tahu?”

Ia tidak menjawab langsung. Berdiri perlahan, melindungi betis kirinya — gerakan yang tubuhnya sudah hafal. Berjalan ke tangga. Di ujung tangga ia berhenti. Tidak menoleh.

“Karena aku juga tidak dengar waktu itu.”

Lalu turun.

Aku sendirian di atap dengan bintang-bintang yang terlalu tajam.

Aku tidak tidur malam itu.

Hanya berbaring, menatap retakan di langit-langit, mendengar Kakak bernapas pelan di kasur sebelah. Napasnya rata. Tidur atau pura-pura, aku tidak bisa tahu bedanya dari sini.

Kata-kata Nico ada di kepalaku. Kata-kata Kakak ada di kepalaku.

Tidak ada jawaban yang datang. Hanya pertanyaan, dan suara napas Kakak, dan retakan di langit-langit yang sepertinya bertambah setiap bulan tanpa ada yang memperbaiki.

Tapi aku masih bangun sebelum fajar. Masih memakai sepatu. Masih mengambil tas.

Bukan karena aku sudah tahu jawabannya.

Hanya karena itu yang tubuhku lakukan.

✦ ✦ ✦

BABAK TIGA: PILIHAN

VIII.

PAGI. Rumah aman. Reza memanggil aku sebelum yang lain datang.

“Misi kedua. Bukan pengiriman. Pengawasan.” Ia mendorong peta ke atas meja. "Amati pergerakan patroli Saraya di sekitar checkpoint timur. Catat rotasi, jumlah personel, pola. Tiga jam. Pulang sebelum gelap."

“Siap.”

“Kakakmu tahu?”

“Ia tahu kemarin. Ia tidak setuju.”

“Tapi kamu tetap mau?”

“Ya.”

“Kemarin kamu hampir tertangkap. Nico cerita.”

“Aku lolos.”

“Lolos dan aman itu dua hal berbeda.” Reza bersandar ke mejanya. “Besok operasi besar. Kalau kamu tertangkap hari ini dan mereka interogasi—”

“Aku tidak akan membocorkannya.”

“Semua orang bicara, Kira.” Nada Reza tidak keras, itu yang membuatnya berat. “Di bawah interogasi yang cukup, semua orang bicara. Bukan soal keberanian. Itu biologi manusia. Tubuh punya batas.”

Aku tidak menjawab.

“Jadi pertanyaannya bukan apakah kamu berani. Pertanyaannya adalah apakah kamu siap dengan konsekuensinya kalau kamu tertangkap?”

“Siap.”

“Dan kakakmu?”

Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadaku waktu Reza menanyakan itu. Sesuatu yang tidak nyaman.

“Ia akan mengerti.”

Reza diam sejenak, menatapku seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak ia ucapkan.

“Titik observasi di gedung kosong dekat checkpoint. Bawa ini.” Ia menyerahkan teropong kecil dan buku catatan. “Catat semua yang kamu lihat. Jangan terlihat. Kalau ada yang salah, pulang. Langsung.”

Aku mengambil perlengkapannya.

“Kira.”

Aku menoleh.

“Jangan buat aku ulangi kesalahan yang sama.”

Aku pergi.

✦ ✦ ✦

IX.

KAKAK sudah di kamar waktu aku naik dari dapur.

Bukan di tengah ruangan seperti semalam. Ia duduk di tepi kasurku, punggung tegak, tangan di lutut. Postur seseorang yang sudah memutuskan sesuatu sebelum aku masuk. Bukan menyerah pada sesuatu, tapi memilih bagaimana menghadapinya.

Aku berdiri di pintu.

“Tutup pintunya,” katanya.

Aku tutup. Duduk di kasurnya, di ujung yang berlawanan.

Hening sebentar. Bukan hening yang nyaman, ini hening dua orang yang semalam mengucapkan hal-hal yang tidak bisa diambil kembali dan sekarang harus memutuskan apa yang dilakukan dengan itu.

“Kamu pergi lagi,” katanya akhirnya.

“Ya.”

“Reza kasih misi lagi.”

“Ya.”

Ia mengangguk pelan. Bukan menyetujui. Hanya menerima bahwa ini faktanya.

“Aku tidak bisa menghentikan kamu, kan?”

“Aku bukan milikmu.”

“Aku tahu. Tapi kamu adikku.”

Aku tidak menjawab.

“Waktu Ayah Ibu mati,” katanya, “aku juga ingin jadi seseorang yang penting. Yang berguna. Yang tidak hanya... ada.”

Aku mendengarkan.

“Tahu apa yang aku sadari sekarang?”

“Apa?”

“Aku tidak pernah sempat memilih menjadi itu. Itu hanya terjadi.” Ia melihat ke tangannya. “Dan ada perbedaan besar antara memilih dan hanya terjadi.”

“Aku memilih.”

“Kamu pikir begitu.” Ia mendongak. “Tapi janjikan satu hal.”

“Apa?”

Suara kota malam dari luar: anjing, angin, sesuatu yang jatuh di kejauhan, dan kadang-kadang suara yang tidak ada namanya tapi semua orang di Limina tahu artinya.

“Kalau suatu hari kamu punya pilihan untuk keluar, untuk hidup berbeda, ambil. Jangan terjebak karena tidak sempat memilih.”

“Kakak tidak terjebak—”

“Aku terjebak.” Sederhana. Bukan meminta simpati. Hanya fakta. “Setiap hari. Tapi aku terjebak karena kamu. Dan itu semua sebanding.”

Jeda.

“Tapi kamu?” Matanya menatapku. “Kamu tidak terjebak untuk siapapun. Jadi kalau ada jalan keluar, ambil.”

“Aku akan mengingatnya.”

Kami duduk diam.

“Operasi besok,” kataku akhirnya.

“Ya. Kamu akan di mana?”

“Observasi hari ini. Besok, belum tahu. Reza belum bilang.”

“Kalau ia suruh kamu ikut—”

“Aku akan hati-hati.”

“Itu bukan yang aku mau dengar.”

“Tapi itu satu-satunya yang bisa aku janjikan.”

Ia menatapku lama. Lalu mengangguk, bukan menyetujui. Hanya mengakui bahwa kalimat itu benar dan tidak bisa diubah.

Ia memelukku. Erat. Bukan seperti orang yang memeluk selamat jalan, lebih seperti orang yang tidak yakin kapan lagi ia bisa melakukan ini.

“Pulang,” ia bisikkan. “Apa pun yang terjadi, pulang.”

Aku pergi.

✦ ✦ ✦

X.

GEDUNG kosong di seberang checkpoint timur bukan gedung yang sepenuhnya kosong. Ada bekas kehidupan di sana, botol air kosong, kaleng makanan, bantal yang sudah kempes. Tanda-tanda orang yang pernah tinggal sebelum mereka pergi atau dipaksa pergi.

Lantai tiga, jendela menghadap checkpoint. Posisi sempurna untuk melihat tanpa terlihat.

Aku mengatur teropong. Debu di lantai masuk ke lututku waktu aku berlutut untuk menemukan sudut yang tepat. Aku biarkan.

Mulai mencatat.

Pukul sepuluh: enam tentara di checkpoint. Dua di depan, empat di belakang. Pergantian shift pukul sebelas, empat pergi, empat baru datang, prosedur serah terima dua menit. Pukul dua belas, truk patroli lewat, berhenti lima menit, tidak ada yang turun.

Ini membosankan, tapi berbeda dari yang aku bayangkan. Aku pikir misi selalu tentang aksi, tentang hampir tertangkap, tentang adrenalin. Ternyata sebagian besar adalah ini, berlutut di lantai berdebu, menunggu, mencatat angka-angka yang mungkin penting atau mungkin tidak. Dengkulku mulai pegal di pukul sebelas. Aku menggeser posisi, perlahan, tanpa berdiri.

Pukul dua: sesuatu berubah.

Truk lain. Lebih besar. Berhenti lebih lama.

Pintu belakang terbuka. Orang-orang diturunkan, delapan, mungkin sembilan. Tangan terikat. Beberapa berjalan, satu digeret.

Aku naikkan teropong.

Salah satu tahanan seorang pria muda, mungkin dua puluhan. Di bawah memar yang sudah mulai gelap di tulang pipinya masih ada wajah seseorang yang, di waktu lain, mungkin tertawa karena hal-hal kecil. Ia mencoba tegak, tidak sepenuhnya berhasil. Seperti orang yang memutuskan bahwa itu satu-satunya hal yang masih bisa ia kontrol.

Tentara menghalangi sebagian pandanganku. Aku geser teropong sedikit ke kiri.

Terlambat.

Suara itu sampai duluan, bukan keras, tapi jelas. Seperti sesuatu yang basah dipukul. Sekali.

Pria itu tidak langsung jatuh. Ada jeda sebentar, jeda aneh di mana tubuhnya seperti masih mencoba memutuskan apa yang harus dilakukan, lalu ia jatuh ke lutut. Kemudian ke sisi. Tidak bergerak.

Tentara yang memukul melangkah mundur. Berkata sesuatu ke yang lain. Urusan selesai.

Aku tidak menutup mata.

Bukan karena berani. Hanya karena waktu antara sadar aku harus menutup dan tangan yang bergerak ke atas terlalu panjang, dan di jeda itu aku sudah melihat.

Aku turunkan teropong.

Lutut masih di lantai. Tangan masih memegang teropong tapi jari-jariku terlalu erat, lebih erat dari yang diperlukan untuk menahan benda seringan itu. Aku longgarkan. Genggaman kembali mengencang sendiri.

Di bawah, pria itu sudah mulai bergerak lagi. Perlahan. Mencoba duduk. Seorang tentara mendorongnya dengan kaki sebelum ia sempat tegak.

Aku angkat teropong kembali.

Ini tugasku. Mencatat.

Tapi ada sesuatu yang tidak bisa langsung kembali ke tempat asalnya. Sesuatu di antara mata dan teropong yang sekarang tidak bisa pura-pura jernih. Aku melihat angka-angka, jumlah tahanan, posisi tentara, nomor truk. Tapi di balik angka-angka itu ada wajah yang tadi masih mencoba tegak.

Aku tunggu napas yang teratur. Satu. Dua.

Lalu aku tulis.

Delapan tahanan. Dua truk. Pukul empat belas lebih tiga. Lokasi: checkpoint timur, sisi utara pos.

Tanganku gemetar sewaktu menulis. Tulisannya masih terbaca, tapi gemetar.

Aku biarkan ia gemetar. Itu jujur.

Aku teruskan mencatat sampai truk pergi.

✦ ✦ ✦

XI.

SUBUH. Kakak sudah tidak ada.

Di atas bantalku ada secarik kertas.

Pulang. — L

Dua kata. Tulisan tangan yang rapi bahkan di atas kertas kecil.

Aku lipat. Masukkan ke saku depan.

Rumah aman sudah penuh waktu aku tiba. Energi di ruangan berbeda, bukan ketegangan biasa, tapi ketegangan yang punya arah.

Reza di tengah, pengarahan terakhir.

“Kira.”

“Ya?”

“Kamu tetap di sini. Logistik. Monitor radio. Kalau ada laporan luka, arahkan ke klinik Lenna.”

Sesuatu di dadaku mengempis pelan. Tanpa bunyi.

“Tapi aku pikir—”

“Kamu pikir kamu ikut operasi lapangan?” Reza tidak keras, hanya langsung. “Kemarin kamu lihat apa yang terjadi di checkpoint. Kamu bawa itu pulang. Aku bisa lihat.”

Aku tidak menjawab.

“Lapangan butuh orang yang sudah tahu cara membawa apa yang mereka lihat. Kamu belum.” Ia menatapku. “Kamu di sini, kamu bisa bantu tanpa harus lihat lebih banyak dari yang sudah kamu lihat. Itu juga kontribusi.”

Di seberang ruangan, Nico menatapku. Ia mengangguk kecil, bukan kasihan. Lebih seperti: ini yang benar.

Aku telan apa pun yang naik ke tenggorokan.

“Oke.”

Tim bergerak keluar. Dalam sepuluh menit ruangan hampir kosong.

Aku duduk di depan radio.

✦ ✦ ✦

XII.

JAM sepuluh lewat dua, radio pertama kali berbunyi.

“Alpha di posisi.”

Aku catat. Waktu, koordinat, kondisi.

“Bravo bergerak.”

Catat.

Ini bukan seperti yang aku bayangkan. Tidak ada keributan. Hanya suara, angka, dan aku di antara keduanya, mencatat dan menunggu.

Pukul sebelas lewat lima, Alpha melapor bergerak ke utara menuju titik kumpul kedua.

Aku melihat peta di kepalaku. Utara dari posisi Alpha sekarang bukan titik kumpul kedua, itu lorong sempit di belakang pergudangan yang tiga hari lalu ada rotasi patroli tambahan. Aku catat itu waktu observasi. Nomor truk, jam, arah.

“Alpha, tahan.”

Suara di radio berhenti.

“Konfirmasi posisi kamu sekarang.”

Alpha menyebut koordinat. Aku hitung di kepala, tidak dengan kertas, selalu di kepala.

“Jangan utara. Lorong utara ada rotasi tambahan, kemarin sore. Gunakan rute timur, lewat jalan belakang pasar lama.”

Hening tiga detik.

“Konfirmasi. Rute timur.”

Mereka bergerak.

Aku tidak tahu apakah itu menyelamatkan sesuatu atau hanya menghindari ketidaknyamanan. Tidak akan pernah tahu. Tapi peta di kepalaku ada di sana waktu dibutuhkan, dan itu yang bisa aku berikan dari sini.

Aku lepaskan napas yang rupanya sudah aku tahan. Pelan, lewat hidung, tanpa suara.

Aku kembali mencatat.

✦ ✦ ✦

Pukul dua belas lewat empat puluh.

“Luka. Banyak. Kirim ke klinik.”

“Berapa?”

“Empat. Mungkin lima.”

“Klinik siap.”

Aku tinggalkan radio dan berlari.

✦ ✦ ✦

XIII.

KLINIK Kakak bukan seperti yang ada di buku teks. Ruangan bekas toko kelontong dengan rak kosong dan lampu tambahan dari generator. Bau antiseptik begitu pekat sampai aku merasakannya sebelum masuk.

Kakak sudah bekerja. Dua rekan medis di sebelahnya. Empat luka di lantai dan meja darurat.

Aku berdiri di pintu sedetik.

Ini yang Kakak lakukan setiap malam.

“Kira.” Kakak tidak menoleh. “Perban di kotak biru, bawa ke sini.”

Aku ambil. Bawa. Kerjakan apa yang diminta.

Nico masuk setengah jam kemudian. Dibawa oleh dua orang, berjalan tapi tidak bisa tegak. Tulang betis yang sama. Serpihan baru. Wajahnya lebih pucat dari biasanya tapi matanya masih jernih.

Ia melihatku. “Masih hidup.”

“Kamu juga.” Aku coba terdengar ringan. Tidak sepenuhnya berhasil.

“Hampir tidak”

“Diam.” Kakak sudah ada di sebelahnya. “Simpan energi.”

Nico menutup mulut.

Aku bantu apa yang bisa aku bantu. Aku bukan medis, tapi aku bisa membawa, mengatur, memastikan perban tidak kosong.

Empat jam kemudian, semua sudah ditangani. Nico akan bertahan.

✦ ✦ ✦

Di luar klinik, waktu langit sudah jingga, aku dan Kakak duduk di undakan pintu. Tidak ada yang memulai pembicaraan lebih dahulu.

“Kamu di sini,” kata Kakak akhirnya. “Tidak di lapangan.”

“Reza bilang tetap di sini.”

“Bagus.”

“Tapi aku bantu di sini.”

“Ya.” Ia menatap jalan sempit di depan. “Itu juga penting.”

“Tidak seperti kamu.”

“Berbeda. Tapi tetap penting.”

Aku memutar kata-kata itu di kepala.

“Berapa lama sampai aku... cukup?”

“Aku tidak tahu. Tapi tidak perlu terburu-buru.”

“Di Limina? Waktu adalah hal yang tidak ada.”

Ia diam sebentar sebelum menjawab. “Justru karena itu jangan kamu sia-siakan dengan mati cepat.”

“Kak.”

“Hm?”

“Aku masih ingin jadi seperti kamu.” Aku merasakan kalimat itu di mulutku sebelum mengucapkannya. Bukan impulsif, bukan defensif. Hanya jujur. “Tapi mungkin... versi yang tidur lebih banyak.”

Kakak menatap jalan di depan kami. Jalan sempit yang di jam ini hampir sepi. Satu dua orang lewat dengan cepat, kepala menunduk ke tujuan yang tidak mereka ceritakan.

Sesuatu di wajahnya berubah. Pelan. Seperti otot yang selama ini tegang memutuskan, untuk satu momen, bahwa tidak apa-apa untuk tidak tegang.

Lalu ia tertawa.

Bukan tawa pendek yang sopan. Tawa sungguhan yang berasal dari perut, dengan mata yang ikut melengkung, tawa yang aku tidak ingat kapan terakhir kali aku mendengarnya. Mungkin belum pernah, tidak seperti ini.

“Itu tujuan yang bagus,” katanya.

Kami duduk sampai langit gelap sepenuhnya.

Di dalam, radio menyala pelan.

“...Operasi sukses. Target tercapai. Kehilangan: tiga. Luka: tujuh…”

Kakak dan aku tidak bereaksi dengan tampak dari luar. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena angka-angka seperti itu sudah seperti cuaca, sesuatu yang kamu dengar, catat, lalu melanjutkan hari.

Meski malam ini, untuk pertama kalinya, “catat” terasa berbeda dari biasanya. Lebih berat. Seperti mencatat dengan tangan yang masih ingat gemetar.

Tiga orang tidak pulang malam ini.

Tujuh orang pulang dengan luka yang akan jadi parut.

Dan aku duduk di undakan pintu klinik, masih hidup, dengan pertanyaan yang tidak punya jawaban bersih.

Aku tidak tahu apakah aku membuat pilihan yang benar. Aku tidak tahu apakah “jadi seperti Kakak” adalah tujuan yang layak diperjuangkan atau perangkap yang akan menghancurkanku perlahan.

Tapi hari ini aku masih hidup. Nico masih hidup. Tiga dari tujuh yang luka sudah bisa duduk.

Dan Kakak baru saja tertawa.

Kakak berdiri. Mengulurkan tangan.

"Pulang?"

Aku menatap tangannya. Tangan yang sudah sepuluh tahun memegang tanganku, yang belajar mengobati luka sebelum belajar mengobati orang lain, yang masih gemetar sedikit meski ia tidak pernah bilang.

Aku raih.

"Pulang."

Kami berjalan kembali ke Cangkang berdua. Tidak bicara. Tidak perlu.

Untuk hari ini, mungkin itu cukup.

— SELESAI —

CATATAN PENULIS

Kira masih ingin menjadi seperti Lenna.

Tapi mungkin—untuk pertama kalinya—ia menginginkan versi yang tidur lebih banyak.

Malam itu, Lenna tertawa. Malam itu, Kira pulang dengan tangan yang masih menggenggam kakaknya.

Tapi di luar sana, operasi besar sedang bergerak menuju Cangkang.

Nama Lenna dan Kira ada di daftar kode N.

Dan ada seseorang—yang sudah sepuluh tahun pergi—sedang dalam perjalanan kembali ke Limina, membawa data yang bisa menyelamatkan mereka.

Apakah ia akan tiba tepat waktu?

Apakah Lenna akan membuka pintu yang sudah sepuluh tahun ia kunci?

The Way You Say Their Name — novel tentang dua saudara yang bertahan di kota yang tidak memberi jaminan, dan tentang nama yang akhirnya disebut dengan suara jujur.

Baca Novel Sekarang

© 2026 Karsa Luna. Semua hak dilindungi — mohon jangan disalin ulang.

Komentar