Chronicle Limina — Novel 1

Cara Kamu Menyebut Namanya

(Gratis)
1 2 3

1

ARON

Kementerian Industri dan Sumber Daya Alam, Kosamaya. Pukul 22.40.

NAMA itu sudah ada sebelum ia membuka laci. Tempat yang lebih tua dari folder mana pun, tempat yang sudah sepuluh tahun ia jaga agar tidak mengambil terlalu banyak ruang. Namun malam ini, di lantai empat belas gedung yang paling tidak ingin ia masuki, nama itu mengendap di dalam dirinya dengan rasa yang berbeda dari semua malam sebelumnya.

Lenna Sarri.

Ia belum membuka lacinya. Belum melihat daftarnya. Namun ia sudah tahu nama itu akan ada di sana, karena Anya tidak akan mengirim pergi sekarang untuk hal-hal kecil.

Lift berhenti di lantai empat belas. Bunyinya terlalu keras untuk jam ini. Aron menunggu. Pintu terbuka ke koridor gelap. Hanya lampu darurat di ujung kanan menyala, cahaya hijau pucat membuat semua bayangan jatuh ke arah yang keliru.

Ia melangkah keluar dan menghitung dua belas langkah ke kiri, seperti biasa, sampai ia berdiri di depan pintu kayu mahoni dengan plakat kuningan yang sudah ia hafal.

Ivan Vale, Menteri Sumber Daya Strategis.

Kartu masuk ke slot. Lampu merah, lalu hijau, lalu bunyi klik yang terlalu keras, dan pintu terbuka.

Ruangan itu masih berbau kayu tua dan aroma yang samar-samar menyerupai tembakau, meski Ivan sudah berhenti merokok dua belas tahun lalu, baunya tidak mau pergi. Aron tidak menyalakan lampu utama, lampu meja sudah memadai.

Laci ketiga dari kanan, tidak terkunci. Di dalamnya ada folder tipis dengan sampul abu-abu tanpa judul, hanya kode referensi yang sudah ia hafal.

NF-2 / Operasional / Limina Timur.

Ia sudah membaca data ini tiga minggu lalu, mencatat struktur, memverifikasi sumber, mengidentifikasi celah. Malam ini ia membacanya dengan mata yang berbeda.

Halaman pertama berisi jadwal operasional, tanggal, koordinat, jumlah personel per sektor. Halaman kedua memuat prosedur penanganan target dalam dua kolom. Kode T di kiri, kode N di kanan. Lalu halaman ketiga. Daftar nama.

Tangan Aron sudah di flashdisk. Tinggal satu perintah untuk mulai menyalin. Nama-nama di kolom kanan bergerak di bawah matanya.

Tangannya berhenti, dan ia langsung tahu mengapa.

Di halaman ketiga, kolom kanan. Dua nama baru yang tidak ada di versi yang Anya tunjukkan tiga minggu lalu. Lenna Sarri, Kira Sarri, keduanya dengan kode N.

Di bawah nama kedua, satu detail koordinat yang membuat dadanya terasa sempit. Kawasan Lama, Cangkang, Tepi Timur. Sisi sungai yang sudah sepuluh tahun tidak ia masuki.

Ia membaca nama pertama dua kali, lalu tiga kali, dan menyadari bahwa ia sedang menunda. Belum.

Tiga hari. Flashdisk yang belum bekerja. Nama-nama lain di halaman yang sama yang masih menunggu. Ia mengarahkan pikirannya kembali ke daftar.

Nama kedua, Kira Sarri, masih berusia tujuh tahun waktu ia pergi. Kode N.

Ia menjalankan perintah salin. Flashdisk bekerja. Tiga menit tiga puluh detik yang ia isi dengan sengaja tidak memikirkan dua nama di kolom kanan.

Selesai. Flashdisk dicabut dan dimasukkan ke saku kiri. Folder ditutup, dikembalikan ke posisi semula, persis seperti sebelumnya.

Di ambang pintu, ia berhenti dan memandang plakat di hadapannya. Ivan Vale. Ia sudah hafal bentuk huruf-hurufnya, hafal jarak antara nama dan gelar, hafal pula bagaimana cahaya lampu meja memantul dari kuningan yang sudah tidak terlalu mengkilap.

Semua yang perlu diambil sudah di sakunya. Ia menutup pintu.

✦ ✦ ✦

Di lift, ia mengeluarkan telepon dan mengirim pesan ke Anya.

Sudah. Dua nama dengan N yang kamu sebutkan, ada lagi. Banyak lagi.

Lift turun, tiga belas, dua belas, sebelas, dan Anya membalas sebelum ia sampai di lobi.

Pergi sekarang.

Jeda dua detik.

Dan hati-hati dengan namamu di sana.

Aron menyimpan teleponnya. Anya Rais tidak pernah mengirim peringatan tanpa sudah memikirkan tiga langkah sesudahnya, dua tahun cukup untuk Aron tahu itu. Pesan pertama perintah. Pesan kedua berbeda, tentang nama yang ia bawa di punggungnya.

Lift sampai di lobi.

✦ ✦ ✦

Stasiun bus berjarak dua puluh menit dari gedung kementerian, dan Aron berjalan tanpa membiarkan jarak di antara dua titik itu menjadi sesuatu yang terasa berat.

Di loket, kasir membaca layar, lalu matanya naik sejenak ke wajah Aron, satu detik, tidak lebih, sebelum mengembalikan kartu tanpa komentar.

Bus tiba pukul sebelas kurang lima. Aron memilih baris keempat dari belakang, sisi kiri, dengan pandangan ke seluruh kabin dan akses ke pintu darurat. Bus bergerak meninggalkan Kosamaya pukul sebelas tepat.

Pos pemeriksaan perbatasan pukul satu dini hari. Bus berhenti, lampu kabin menyala, dan dua tentara berseragam Saraya naik untuk pemeriksaan kartu identitas dari depan ke belakang.

Aron mengeluarkan kartunya lebih awal dan meletakkannya di atas pangkuan. Tentara yang memeriksa baris keempat masih muda. Ia mengambil kartu Aron, membaca layar pemindai, lalu berhenti. Tidak lama, tapi cukup.

Mata tentara itu naik dari layar ke wajahnya, dan Aron tahu ia tidak sedang diperiksa. Ia sedang dikenali.

"Vale," kata tentara itu pelan. Bukan nama di kartu.

Aron tidak menjawab. Kartu dikembalikan. Tidak ada pertanyaan tambahan.

Di baris belakang, dua penumpang berbisik pelan, satu kata yang sempat ia tangkap. Vale.

Aron menyimpan kartunya dan menatap kegelapan di luar jendela.

Hati-hati dengan namamu di sana.

Ia membaca kalimat itu sebagai peringatan tentang statusnya, nama yang terlalu dikenal di jalur resmi. Masuk akal.

Tapi di pos pemeriksaan tadi, yang disebut bukan jabatannya.

Vale.

Nama yang diingat orang bahkan ketika tidak ada yang memintanya untuk mengingat.

Bus bergerak kembali. Lampu kabin mati.

Di sakunya, flashdisk dengan 287 nama. Kartu kementerian dengan nama yang ternyata lebih dikenal dari yang pernah ia kira.

Tiga hari. Bus terus melaju ke selatan.

✦ ✦ ✦

— BERSAMBUNG —

© Karsa Luna. Baca online saja — tidak ada file yang bisa diunduh.