2
LENNA
Klinik Bawah Tanah, Kawasan Lama, Cangkang, Tepi Timur. Pukul 22.53.
ADA nama yang sudah ada sebelum Tomas menyebutnya. Nama yang berada di tempat yang lebih dalam, yang malam ini kehadirannya terasa berbeda tanpa ia tahu mengapa.
Jarum terakhir keluar sepuluh menit menjelang pukul dua puluh tiga. Pasien sudah tertidur di tengah jahitan terakhir, obat bius dan kelelahan berhari-hari, dan Lenna sudah terbiasa karena tidak ada pilihan lain.
Ia menarik sarung tangan dan membuangnya, lalu mencuci tangan dengan air yang tidak pernah cukup panas. Tiga puluh detik, siku sampai ujung jari.
Kebiasaan yang ia bangun sendiri dari buku medis yang dipinjam tanpa izin dari perpustakaan sekolah, tempat yang tutup seminggu setelah Tragedi 2013. Tidak ada yang mengajarinya. Tapi seseorang harus bisa mengobati Kira kalau Kira sakit, dan Lenna sudah lama belajar bahwa kebutuhan lebih kuat dari izin.
Kira waktu itu empat tahun. Tiga belas tahun kemudian, tiga puluh detik siku sampai ujung jari, masih sama persis.
Lenna mengeringkan tangan. Berjalan kembali ke pasien untuk memastikan jahitan tidak bergeser.
✦ ✦ ✦
Di meja sebelah, Tomas mencatat. Tulisannya kecil dan rapi, tangan yang bergerak tanpa perlu melihat ke bawah. Ia sudah di sini lebih lama dari yang seharusnya malam ini. Giliran jaga mereka tumpang tindih karena pasien dengan luka serpihan masuk terlambat. Mereka tidak berbicara tentang itu. Tidak perlu.
Di ambang pintu belakang, Gama berdiri. Sebentar, berdiri di luar seperti orang yang sudah terlalu sering datang ke tempat ini untuk alasan yang sudah tidak lagi terasa benar. Lalu masuk. Profesionalisme yang sudah jadi topeng, pena biru sudah di tangannya sebelum duduk.
Laporan rutin, kondisi sektor, pertanyaan logistik, pertemuan keempat belas atau kelima belas bulan ini. Lalu satu pertanyaan yang berbeda.
"Jadwal rotasi medis minggu depan sudah final?"
Lenna menatapnya sejenak. "Sudah. Kenapa?"
"Koordinasi evakuasi kalau ada eskalasi. Reza minta semua komandan tahu posisi medis." Pena bergerak di atas buku kecil. "Siapa yang jaga Senin malam?"
Lenna memberikan jadwal. Gama mencatat, menutup buku, mengangguk sekali.
"Terima kasih."
Ia pergi.
Tomas tidak berkomentar. Di mejanya, Lenna mengambil buku catatan kecil bersampul hijau tua, buku yang selalu ia simpan terpisah dari catatan medis resmi, dan menulis satu baris di halaman hari ini.
Gama, jadwal rotasi, untuk siapa?
Dua minggu lalu ia bertanya hal yang berbeda dengan nada yang sama. Pola ini tidak cukup untuk dilaporkan, tapi cukup untuk dicatat. Pertanyaan yang masuk akal di permukaan. Jawabannya bisa diperoleh dari laporan resmi kalau ia mau repot-repot memintanya melalui jalur yang ada.
Tapi ia bertanya langsung.
Bukan paranoia. Pola.
Lenna menutup buku catatan.
✦ ✦ ✦
Giliran jaga selesai pukul dua puluh tiga lebih dua puluh.
Di luar, bunyi Cangkang malam hari berbeda dari siang, lebih sepi, tapi tidak lebih tenang, seperti keheningan yang menahan napas. Generator berdengung dari suatu tempat, dan di kejauhan seekor anjing menggonggong sebentar lalu berhenti. Namun yang selalu Lenna tangkap pertama kali adalah suara langkah yang terburu-buru, seolah semua orang di Cangkang berjalan menuju sesuatu yang tidak pernah cukup dekat.
Di persimpangan dekat pasar yang sudah tutup, ia melihat Kira, datang dari arah utara, dari rumah aman, bukan dari rumah. Jam yang salah. Arah yang salah.
Mereka berjalan berdampingan tanpa pertanyaan dari Lenna dan tanpa penjelasan dari Kira. Diam itu sudah punya bentuknya sendiri. Dua orang yang terlalu lama tinggal bersama untuk perlu mengisi semua ruang. Hanya langkah mereka yang menyatu, dan itu sudah cukup.
Kira akhirnya bicara, setengah blok sebelum rumah. "Reza minta aku ke rumah aman siang tadi."
"Aku tahu."
Tidak ada yang berkata lebih. Kira membuka kunci rumah. Di dalam, Kira langsung ke kamarnya. Lenna ke dapur untuk segelas air.
✦ ✦ ✦
Pukul dua puluh tiga lebih empat puluh lima.
Lenna berdiri di dapur dengan gelas air yang belum diminum. Di luar hanya gang sempit, dinding bangunan sebelah, dan sedikit langit tanpa bintang.
Dari arah sungai, dari dermaga tua di utara kawasan hotel lama, terdengar suara. Tidak keras. Hanya kayu membentur sesuatu sekali, seperti perahu yang gagal menepi dengan mulus. Lenna menunggu tanpa bergerak.
Malam ini suara itu terasa lebih dekat, meski ia tahu jaraknya sama. Tidak ada yang datang dari suara itu. Hanya sungai. Hanya malam.
Ia mematikan lampu dapur.
✦ ✦ ✦
Pukul 06.14, H-3.
Jendela kamar masih macet di sisi kiri seperti biasa. Lenna mendorongnya dengan bahu kanan, gerakan pertama setiap pagi yang sudah jadi refleks. Jendela terbuka dua pertiga, dan di luar, Cangkang sudah bergerak. Selalu sudah bergerak.
Kira turun pukul enam lebih dua puluh, dan Lenna mengenali bunyinya di tangga. Pagi ini bunyinya adalah bunyi seseorang yang belum selesai dengan semalam.
Mereka duduk di meja dengan teh dan roti yang sudah dua hari. Kira makan, tetapi pikirannya tidak.
"Reza minta aku ke rumah aman siang ini," kata Kira akhirnya.
Lenna tetap di tempatnya, tidak bergerak untuk menuang teh lagi. "Oke."
Kira mengangkat mata dari meja. Menunggu. Tidak ada yang datang. Tidak ada larangan, tidak ada pertanyaan, tidak ada tanda bahwa Lenna khawatir.
"Itu saja?"
"Itu saja."
Kira pergi. Tidak melarang berarti Lenna sudah berhenti percaya bahwa melarang berguna, dan ada beban dalam pengakuan diam-diam itu yang lebih berat dari larangan mana pun.
Lenna mendengar pintu depan menutup, dan ia menunggu sampai suara langkah Kira menghilang sebelum akhirnya memandang ke cangkirnya.
Teh sudah dingin.
✦ ✦ ✦
Malam. Pengarahan Reza.
Malam itu pengarahan Reza diadakan di ruang bawah tanah gedung bekas koperasi. Suaranya dari radio selalu terdengar lebih datar melalui enkripsi, nada-nada yang tidak diperlukan untuk transmisi sudah terbuang.
Pembaruan kondisi medis jaringan, kapasitas kalau ada eskalasi, hal-hal yang sudah rutin. Lalu, di penghujung pengarahan, sebelum sambungan ditutup, Reza menambahkan satu hal.
"Ada informasi masuk dari jalur Kosamaya. Seseorang membawa data. Belum dikonfirmasi siapa atau seberapa valid. Waspada."
Tidak ada nama. Tidak ada detail.
Sambungan terputus.
✦ ✦ ✦
Lenna dan Tomas berjalan pulang bersama. Tomas berbicara tentang stok obat. Kiriman dari donatur Kosamaya, sudah beberapa tahun selalu anonim, selalu tepat waktu, jumlahnya hampir selalu sama.
"Ezra yang urus pengirimannya," kata Tomas. "Dari awal."
Lenna mengangguk. Ezra. Nama yang sudah lama ada di pinggiran jaringan ini. Seseorang yang kerjanya tidak pernah masuk laporan resmi, tetapi absennya akan langsung terasa. Jalur yang ia jaga sudah lebih dari sekali menjadi perbedaan antara ada dan tidak ada.
"Ia tahu ada yang datang dari Kosamaya malam ini?"
"Reza yang kabari." Tomas berhenti di persimpangan. "Katanya ada yang perlu diantarkan dari tepi barat."
Jeda.
"Reza tadi sebut satu nama. Sebelum sambungan resmi dimulai, waktu aku masih menyetel radio."
Lenna menoleh. "Nama siapa?"
"Aron Vale."
Tomas tidak mengubah nada suaranya. "Itu mungkin informan dari Kosamaya yang tadi disebut. Kamu kenal?"
✦ ✦ ✦
Nama itu mendarat seperti penegasan dari sesuatu yang sudah ada sejak sebelum malam ini dimulai. Sejak sebelum suara kayu dari dermaga tua semalam. Sejak sebelum ia berdiri di dapur dengan gelas air yang tidak diminum dan merasakan ada sesuatu yang sudah bergerak ke arahnya dari jauh.
Aron Vale.
Ia tidak berhenti berjalan. Tidak mengubah langkahnya.
"Pernah," kata Lenna. "Dulu. Sudah lama."
Tomas tidak bertanya lebih.
Mereka sampai di persimpangan tempat jalan mereka memisah.
"Sampai besok," kata Tomas.
"Sampai besok."
Lenna berjalan pulang sendirian.
Di dalam dadanya, nama itu hanya ada. Tidak berputar. Tidak pergi.
Di depan rumah. Masuk. Mengunci.
Di dapur, segelas air sebelum tidur.
Lenna membiarkan nama itu ada selama waktu yang dibutuhkan air di gelasnya untuk habis.
Lalu mengambil buku catatan hijau dari tasnya. Membuka halaman baru. Menulis satu baris di tengah halaman kosong itu, di halaman sendiri, bukan di bawah baris tentang Gama.
Aron Vale.
Menutup buku.
Di tempat tidur, buku catatan disimpan di bawah bantalnya. Matanya tidak langsung terpejam.
Di suatu tempat di luar sana, Sungai Marga mengalir.
Dan di sisi lain sungai itu, malam ini, ada seseorang yang membawa data dari Kosamaya, namanya tercantum di dalamnya. Artinya belum bisa ia ketahui. Akhir dari sesuatu, atau awal dari sesuatu yang sama sekali berbeda.
Lenna menutup mata.
Besok akan menjawab itu, atau tidak menjawabnya sama sekali.
Tidak ada pilihan ketiga.
✦ ✦ ✦
— BERSAMBUNG —