Chronicle Limina — Novel 1

The Way You Say Their Name

(Gratis)
1 2 3

3

ARON

Hotel Korona, Tepi Barat, Sungai Marga, Cangkang. H-3.

NAMA itu mengenai sesuatu dalam diri pria tua itu sebelum kartu sempat ia baca sampai selesai, mengenai tempat yang sudah lama ada dan tak pernah sepenuhnya selesai dengan nama itu. Ia belum tahu apa yang dibawa pria muda ini atau dari mana ia datang, tapi nama di kartu identitas di tangannya sudah cukup untuk membuatnya berhenti. Satu kata yang seharusnya berarti administrasi. Malam ini kata itu terasa seperti penantian panjang yang tak pernah ia sadari sedang berlangsung.

✦ ✦ ✦

Beberapa jam sebelum itu, Hotel Korona masih berbau kayu tua seperti biasa.

Hotel Korona berbau kayu tua dan aroma samar yang telah meresap terlalu dalam ke serat bangunan ini untuk bisa dibersihkan.

Papan ketiga dari bar berderit saat Aron melangkah di atasnya.

Di balik bar, seorang pria tua sedang mengelap permukaan dengan gerakan yang terlalu metodis untuk sekadar membersihkan. Gerakan seseorang yang tangannya perlu melakukan sesuatu agar kepala tidak perlu diam. Baru di bunyi papan itu ia mengangkat kepala.

Matanya membaca Aron dengan cepat dan sistematis. Dari balik bar, Halim melihat ransel di satu bahu, pakaian yang rapi tapi kusut dari sisa perjalanan. Laki-laki itu sudah memilih posisi sebelum masuk, kebiasaan orang yang terbiasa melihat pintu dari sudut tertentu.

Lalu matanya kembali ke kain lap.

“Ada kamar?”

“Tergantung berapa lama.”

“Semalam dulu. Mungkin lebih.”

Pria tua meletakkan kain lap. Mengambil kunci dari laci. Meletakkannya di atas bar. Lalu mengulurkan tangan.

“Kartu identitas.”

Prosedur standar.

Aron menyerahkan kartu. Pria tua membacanya, dan ada satu momen yang tidak lama, jarinya sedikit berhenti sebelum melanjutkan. Jeda yang orang lain tidak perhatikan.

Vale.

Pria tua menggeleng kecil. Kartu dikembalikan.

“Dari Kosamaya?”

“Ya.”

“Sungai tidak berubah. Sisanya membusuk.” Pria tua mengucapkan bukan sebagai keluhan

Aron tidak menjawab. Naik ke Kamar Tujuh.

✦ ✦ ✦

Di Kamar Tujuh, pegas ranjang sudah kehilangan sebagian perlawanannya. Jendela menghadap ke timur. Ke arah sungai yang tak terlihat, tapi suaranya bisa sampai kalau angin datang dari arah yang benar.

Aron meletakkan ransel. Duduk di tepi ranjang.

Di luar jendela, Limina Barat pukul setengah empat dini hari. Lampu-lampu yang tidak semuanya menyala. Kota yang sudah lama belajar bahwa keindahan adalah kemewahan yang tidak selalu tersedia.

Besok ia akan melihat Lenna Sarri. Pikiran itu muncul begitu saja, dan Aron membiarkannya. Tiga detik, cukup, sebelum ia menarik dirinya kembali ke rencana. Titik masuk ke Cangkang. Estimasi waktu tempuh. Cara menghindari pos pemeriksaan tanpa kartu yang seharusnya tidak dipakai.

Hal-hal yang punya jawaban. Hal-hal yang bisa dihitung.

Ia berbaring. Menatap langit-langit. Tiga detik sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ada yang berbeda dari semua malam sebelumnya selama sepuluh tahun di Kosamaya.

✦ ✦ ✦

Pagi.

Aron turun dengan pakaian yang sedikit lebih lusuh, cukup untuk terlihat seperti orang yang sudah beberapa hari di kota ini. Di bar, Halim masih ada, selalu ada, seperti bagian dari bangunan yang tidak bisa dipindahkan. Kopi sudah tersedia di meja, dan Aron memilih tempat paling jauh dari jendela, posisi yang membuat punggungnya tetap ke dinding.

Pria tua membawa kopi tanpa diminta. Mereka berbicara sedikit, obrolan pagi di tempat yang tak punya alasan untuk terburu-buru. Aron mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, memperhatikan nada Halim saat bicara tentang kota. Tanpa pahit, tanpa rindu, seperti seseorang yang sudah tumbuh bersama kayu itu.

“Membusuk perlahan. Itu juga caranya bertahan.”

Kata-kata itu mengendap di dalam diri Aron, berbeda dari informasi yang biasanya masuk dan pergi.

Menjelang siang, Aron bertanya sesuatu dengan pertanyaan yang berbeda dari pertanyaan-pertanyaan pagi.

“Kalau seseorang ingin menghilang,” Aron meletakkan cangkirnya, “ke mana biasanya mereka pergi?”

Pria tua berhenti mengelap. “Tergantung. Menghilang dari apa?”

Aron menatap gelasnya. “Dari bahaya.”

Pria tua itu menatapnya langsung untuk pertama kali, bukan sebagai tamu, tapi sebagai seseorang yang mengajukan pertanyaan yang sudah tahu jawabannya.

“Menuju keselamatan?” pria tua berkata pelan. “Apakah itu masih ada di sini?”

“Tidak ada,” lanjut pria tua.

Dua kata. Datar. Tapi ada sesuatu di baliknya, sesuatu yang mengingatkan Aron pada nama yang sama di pos pemeriksaan, pada Anya yang berkata hati-hati. Mereka berdua tahu ini bukan percakapan tentang orang lain.

✦ ✦ ✦

Menjelang malam, terdengar ketukan keras di pintu depan.

Aron sudah di atas, duduk di kursi sudut dengan laptop yang belum ia buka karena koneksi di tepi barat tidak cukup stabil. Suara pintu. Suara beberapa orang masuk. Jarinya sudah ada di sisi ransel. Resleting sudah setengah terbuka.

“Pemeriksaan penghuni. Kartu identitas.”

Aron mengeluarkan kartunya. Meletakkannya di atas lutut, menghadap ke atas.

Langkah naik tangga. Di Kamar Tiga, suara singkat, lalu Kamar Lima, jeda lebih panjang. Kemudian langkah itu berhenti di depan pintunya.

Ketuk.

“Masuk.”

Dua tentara. Yang muda masuk lebih dulu. Matanya menyimpan kelelahan dari terlalu lama berada di tempat yang terus meminta tanpa memberi kembali. Bukan hanya lelah satu hari. Tentara tua di belakang, tubuhnya tahu di mana harus berdiri sebelum matanya memutuskan. Tentara muda mengambil kartu Aron. Memindai. Membaca lebih lama dari perlu.

“Data Analis, Kementerian Dalam Negeri, Kosamaya. Ada urusan apa seorang analis Kosamaya datang ke Limina?”

“Kerja lapangan. Pengumpulan data.”

“Di hotel murahan?”

“Dia keponakan saya.”

Suara dari bawah. Pria tua sudah ada di ambang pintu, entah kapan naik. “Dari Kosamaya. Menjenguk.”

Tentara muda menoleh ke pria tua itu, lalu kembali ke Aron. Matanya bergerak antara keduanya.

“Keponakan yang tidak mirip sama sekali.”

“Dia ikut ibunya. Ibu saya dari Valenz.”

Valenz. Nama yang Aron tidak pernah dengar dari siapa pun yang berhubungan dengan pria tua ini. Kebohongan yang sudah cukup lama disiapkan.

Tentara muda menghitung sesuatu di balik kelelahan di matanya. Lalu mengembalikan kartu. “Malam ini ada jam malam. Siapa pun yang berada di jalan setelah gelap akan ditahan. Mengerti?”

“Mengerti,” kata pria tua.

Tentara pergi. Pintu depan dibanting.

✦ ✦ ✦

Mereka berdua masih berdiri di ambang pintu Kamar Tujuh.

Pria tua tidak langsung perg.

“Terima kasih.”

Pria tua menggeleng kecil. “Kamu mau sampai kapan di sini?”

“Tidak lama. Ada sesuatu yang perlu diselesaikan di tepi timur.”

Pria tua menatapnya, matanya bergerak ke kartu identitas yang masih di tangan Aron lalu kembali ke wajahnya. Kemudian mengangguk. Berbalik. Turun tangga.

Di balik pintu kamar yang masih terbuka, Aron mendengar bunyi papan ketiga dari bar saat pria tua kembali ke posisinya.

Aron menutup pintu.

Duduk di tepi ranjang.

Di sakunya, kartu identitas dan flashdisk. Di luar jendela yang menghadap ke timur, di balik gelap malam, Sungai Marga. Dan di seberangnya, Cangkang. Dan di dalam Cangkang, nama-nama yang sudah ia bawa dari Kosamaya yang sekarang terasa jauh lebih dekat.

Lenna Sarri.

Aron berbaring. Menatap langit-langit.

Hati-hati dengan namamu di sana.

Anya mengirim kalimat itu sebagai peringatan tentang statusnya sebagai analis kementerian. Itu yang paling masuk akal.

Aron memejamkan matanya.

Kamar Tujuh, Hotel Korona. Langit-langit yang sama. Pegas yang sama.

Di luar jendela yang menghadap ke timur, di balik gelap, Sungai Marga. Dan di seberangnya, Cangkang. Dan di dalam Cangkang, nama-nama yang sudah ia bawa dari Kosamaya.

Dan pertanyaan yang belum ada jawabannya.

Belum.

✦ ✦ ✦

Ia turun pukul sebelas lewat dua puluh.

Bar sudah sepi. Pria tua masih ada.

Aron duduk di depan bar. Pria tua menuang sedikit arak ke gelas tanpa diminta. Aron menatap gelas itu tanpa meminumnya.

“Saya perlu menyeberang malam ini.”

“Tidak.” Pria tua berhenti mengelap.

“Jembatan sudah tutup. Pos pemeriksaan dengan pemeriksaan dua kali. Siapa pun yang lewat setelah jam malam—”

“Saya tahu,” potong Aron.

Pria tua meletakkan kain. “Dan saya tidak bisa membantu. Saya sudah selesai dengan semua itu.”

Selesai. Kata itu keluar bukan dari seseorang yang tidak mau, tapi dari seseorang yang sudah membuat keputusan berat dan sudah membayar harganya.

Aron menatap arak di gelasnya, tidak meminumnya, hanya menatap, lalu berkata, “Ada seseorang di tepi timur, namanya ada di daftar operasi militer dengan kode yang artinya bukan penangkapan.” Suaranya pelan. “Tiga hari. Mungkin kurang dari itu sekarang.”

Pria tua tidak menjawab.

“Saya tidak minta anda menyelamatkan siapa pun. Hanya membawa saya ke seberang.”

“Sungai tidak kenal malam ini atau malam lain. Ia mengalir dengan cara yang sama dan tidak peduli siapa yang ada di atasnya.”

“Saya tahu.”

“Anda tidak tahu.” Pria tua mengangkat kepala, seperti seseorang yang sudah cukup lama melihat orang datang dan pergi, cukup lama untuk tahu perbedaan antara yang benar-benar tahu risikonya dan yang mengira ia tahu. “Kalau tahu, anda tidak akan duduk di sini dan memintanya seperti itu.”

Aron tidak menjawab langsung. “Berhenti bergerak dan tenggelam.” Pelan, seperti bicara ke gelas di depannya. “Mungkin tidak terlalu beda.” Ruangan diam. Lampu di atas mereka berkedip satu kali, dua kali, lalu bertahan.

Ruangan diam.

Lampu di atas mereka berkedip satu kali, dua kali, bertahan.

Pria tua berdiri diam cukup lama untuk membuat Aron tidak yakin apa yang akan keluar dari diam itu. Lalu meletakkan kain lap di bawah konter.

“Tunggu di sini.”

✦ ✦ ✦

Yang terjadi berikutnya tidak memberi ruang untuk terlalu banyak berpikir. Dan Aron kemudian menyadari bahwa mungkin itu memang disengaja.

Dari gudang bawah tanah, pria tua mengeluarkan perahu lipat kecil dengan kanvas yang kaku karena lama tidak digunakan, menggulung tali tambang di bahunya, dan memasang lampu kecil yang dimiringkan ke bawah agar cahaya tetap minimal.

Pria tua bergerak dari ingatan tubuh, bukan dari kepala. Tangan yang tahu di mana sesuatu disimpan tanpa perlu mencari.

Di koridor atas, satu pintu terbuka sedikit.

Perempuan tua dari Kamar Tiga, jubah pagi yang disampirkan longgar, melihat ke bawah.

“Halim. Kamu yakin?”

Pria tua, Halim, tidak menoleh. “Tidak.”

“Bagus.”

Pintu menutup.

✦ ✦ ✦

Dermaga tersembunyi di utara hotel, celah di antara reruntuhan yang kalau tidak tahu harus mencari di mana tidak akan pernah terlihat. Halim menurunkan perahu ke air. Tidak ada suara yang tidak perlu.

Air sungai malam itu terlihat hitam. Bukan hitam pekat, melainkan coklat gelap yang menelan cahaya lampu dari kedua tepi. Permukaannya bergerak dengan caranya sendiri seperti sesuatu yang hidup, dan sudah terlalu tua untuk peduli pada apa pun yang ada di atasnya.

Aron masuk ke perahu. Perahu bergoyang lebih dari yang ia harapkan.

Halim masuk. Mengambil dayung. Mendayung.

✦ ✦ ✦

Air masuk dari sisi bawah sebelum mereka mencapai tengah sungai. Belum banyak, tapi cukup untuk merasakan dingin yang menembus sol sepatu, kaus kaki, lalu langsung ke tulang, basah sekaligus tajam.

Aron tidak bergerak dari posisinya. Tangan di sisi perahu, stabil.

Bau lumpur tua dan organik menyesakkan dari dasar sungai. Aroma yang sudah mengendap bertahun-tahun dan terus membusuk perlahan, tak bisa dihentikan karena sungai tidak berhenti mengalir.

Di depannya, Halim mendayung diagonal, memotong arus, tidak lurus ke seberang. Napasnya keluar tajam setiap kali dayung ditarik. Seperti seseorang yang menahan diri agar rasa sakitnya tidak terdengar lebih keras dari yang diperlukan.

Aron melihat itu dan tidak mengatakan apa pun.

Lalu perahu membentur sesuatu.

Bukan perlahan. Seperti kepalan tangan ke dinding kayu. Keras dan tiba-tiba, memantul ke permukaan air, terasa di tulang lebih dari yang terdengar di telinga.

Pilar. Aron sudah miring ke kanan sebelum sempat berpikir, refleks. Perahu terhuyung ke kiri, dan air bukan lagi tetes, tapi semburan pendek yang menyentuh paha, dingin yang menahan napas sepenuhnya. Tangannya bergerak ke tali, ia tidak ingat kapan, menarik, mencari titik keseimbangan di tengah goyangan yang terus membesar.

Halim mendayung lebih keras, lebih mendesak, setiap tarikan terasa berat, seperti menarik sesuatu yang lebih berat dari perahu itu sendiri. Arus mendorong mereka ke selatan, dan Halim melawannya dengan sudut diagonal yang lebih tajam, air kini di lutut mereka, satu tarikan demi tarikan sampai perahu memukul tepi timur.

✦ ✦ ✦

Perahu memukul tepi timur.

Bunyi gesekan lambung di batu-batu tajam, keras, tidak bisa ditarik kembali. Aron merangkak keluar. Kakinya menyentuh lumpur dan batu dan ia hampir tidak merasakannya. Dingin sudah melewati titik di mana tubuh masih bisa membedakan detail.

Ia batuk. Menarik perahu ke darat sampai tidak ada lagi bagian yang menyentuh sungai.

Di belakangnya, Halim berdiri di pinggir air, napasnya pendek-pendek. Paru-paru yang tidak pernah sepenuhnya pulih baru saja diminta bekerja terlalu banyak.

Aron meluruskan diri. Menarik napas. Dan baru saat itu ia melihat.

Dari dalam. Dari tempat berdiri yang tidak pernah bisa direplikasi dari sisi lain sungai.

Tepi timur malam ini bukan reruntuhan. Lampu-lampu kecil berwarna kuning hangat bersinar di balik kain penutup jendela, dan bau kayu bakar bercampur sesuatu yang dimasak. Di tembok seberang, graffiti berlapis. Satu warna di atas warna lain, tidak ada yang sepenuhnya menang, tapi semuanya ada bersama-sama dalam lapisan yang menunjukkan bahwa ada yang terus kembali, menambahkan sesuatu meski yang sebelumnya sudah dicat ulang.

Kota yang tidak menyerah.

Kota yang terlihat berlapis dan berantakan. Yang tidak punya penampilan rapi untuk ditunjukkan kepada siapa pun yang datang dari luar. Tapi ada.

“Sial,” kata Aron.

Bukan karena terkejut. Karena ia diingatkan pada sesuatu yang sudah ia lihat sepuluh tahun lalu, tapi baru sekarang ia melihat kembali.

“Pergi. Cari dia. Sebelum mereka menemukanmu.” Halim tidak bergerak dari tepi air. “Medis yang kamu sebut. Siapa namanya?”

“Lenna.” Aron berhenti. “Kenapa?”

Halim tidak langsung menjawab.

Ia berdiri di tepi sungai. Sudah lama menyimpan sesuatu, dan baru sekarang memutuskan bahwa malam ini adalah malam yang tepat untuk tidak menyimpannya lebih lama.

Halim merogoh saku jaketnya.

Sebuah buku catatan kecil berkulit, tipis. Kulitnya sudah hafal bentuk telapak tangan yang memegangnya. Itu sudah bukan lagi sekadar menyimpan benda.

“Apa itu?”

“Urusan yang belum selesai.” Halim menatap buku itu sebentar sebelum mengangkat matanya ke Aron. “Orang yang saya hilangkan lima tahun lalu. Mereka meninggalkan pesan.”

Hilangkan, bukan pergi atau tidak sampai. Kata yang memilih dirinya sendiri karena tidak ada yang lebih tepat.

“Untuk seseorang bernama Aron Vale.”

Aron tidak bergerak.

Namanya. Di tepi sungai ini. Dari seseorang yang tidak pernah ia kenal.

“Siapa mereka?”

“Saya tidak pernah menanyakan nama. Kata mereka, anak lelaki dekat sekolah lama. Mereka memperhatikan kamu tumbuh.”

Sekolah lama.

Aron menerima buku itu dengan kedua tangan. Berat di tangannya tidak sebanding dengan ukurannya

Ia melihat ke buku itu. Lalu ke Halim.

Halim menatapnya sekali lagi. Tatapan yang tak sepenuhnya bisa dibaca, tetapi menyimpan makna lebih dari sekadar konfirmasi. Seolah seseorang baru saja meletakkan beban yang sudah terlalu lama ia genggam.

“Jangan balik dan ceritakan padaku.” Halim berbalik ke perahu. “Hiduplah saja.”

Ia mendorong perahu ke air. Masuk. Mulai mendayung.

Aron berdiri di tepi timur dan melihat perahu itu mengecil, kembali ke sisi lain, sendirian. Lalu tidak terlihat.

Aron sendirian di tepi timur Sungai Marga.

Buku catatan di tangan kirinya. Flashdisk di saku kirinya. Kartu kementerian di saku kanannya. Bajunya basah dari pinggang ke bawah.

Ia melihat ke buku catatan itu

Di dalamnya ada orang-orang yang sudah lama ada di pinggiran hidupnya tanpa ia tahu. Yang memperhatikan dari jauh. Yang menyebut namanya, nama yang sama dengan nama yang tadi malam bereaksi di pos pemeriksaan. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan sepenuhnya. Nama yang sudah dua puluh tujuh tahun ia bawa tanpa tahu semua yang dibawa bersamanya.

Dan di dalam Cangkang yang ada di hadapannya, ada seseorang yang namanya tidak ada di kartu identitas mana pun yang ia bawa.

Tiga hari. Atau kurang dari itu sekarang.

Aron memasukkan buku catatan ke saku kiri. Bukan saku kanan tempat kartu kementerian, bukan saku dalam tempat flashdisk. Saku yang sama. Keduanya sekarang di sisi yang sama.

Ia mulai berjalan.

Malam itu, di dua sisi Sungai Marga, dua orang berjalan menuju satu titik yang sama tanpa tahu jaraknya sudah sedekat ini. Aron melangkah ke arah Kawasan Lama dengan buku catatan Halim di saku kiri yang belum dibuka, belum dibaca. Di seberang, Lenna belum tidur. Buku bersampul hijau masih di bawah bantalnya, dengan satu baris yang belum ia coret. Mereka tidak tahu bahwa nama yang satu telah ditulis di buku yang lain, dan bahwa sungai di antara mereka, malam ini, mengalir dengan arus yang tidak pernah menunggu lama.

✦ ✦ ✦

— BERSAMBUNG —

📖

Bagaimana Kelanjutannya?

Bab 1, 2 & 3 gratis di sini. Baca sampai tuntas lewat platform digital pilihanmu.

Google Play Books Apple, Kobo dan Lainnya
© Karsa Luna. Baca online saja — tidak ada file yang bisa diunduh.

Komentar